
The Whistle adalah suara laut berupa nada tunggal bergelombang yang terekam satu hidrofon NOAA di Pasifik timur (08°N 110°W) pada 7 Juli 1997. Karakternya menyerupai sinyal gunung api bawah laut, tapi karena hanya tertangkap satu alat, lokasi dan asal-usulnya tak pernah bisa dipastikan.
7 Juli 1997, pukul setengah delapan pagi waktu GMT. Di suatu titik di Samudra Pasifik timur, sebuah mikrofon bawah laut milik NOAA menangkap nada aneh yang meliuk naik-turun seperti siulan panjang. Hanya satu alat yang mendengarnya. Tidak ada hidrofon lain di jaringan itu yang ikut merekam, dan justru keheningan dari alat-alat lain itulah yang membuat suara ini begitu sulit dipecahkan.
Para ilmuwan punya tebakan yang cukup kuat soal apa yang menciptakannya. Tapi sampai hari ini, lebih dari dua setengah dekade kemudian, tebakan itu tetap tinggal sebagai tebakan. Inilah The Whistle, suara yang hampir bisa dijelaskan namun tak pernah benar-benar bisa dibuktikan.
Nada yang Meliuk di Pasifik Timur
Nama “Whistle” atau siulan diberikan karena karakter suaranya. NOAA mendeskripsikannya sebagai sinyal nada tunggal yang bergelombang — sebuah frekuensi yang meliuk naik-turun, berbeda dari dentuman singkat atau deru panjang.[1] Sebagian orang yang mendengarnya membandingkannya dengan bunyi ketel air mendidih ketimbang siulan merdu, tapi kesan “siulan” itulah yang menempel jadi nama.
Suara ini ditangkap oleh hidrofon otonom yang dipasang NOAA di koordinat 08°N 110°W, di kawasan Pasifik timur dekat garis khatulistiwa.[1] Hidrofon adalah mikrofon bawah air yang dirancang menangkap suara frekuensi rendah, yang di laut bisa merambat ribuan kilometer.
Jaringan alat yang menangkapnya punya sejarah yang tak biasa. Hidrofon itu bagian dari SOSUS (Sound Surveillance System), sistem sonar bawah laut yang dibangun Angkatan Laut Amerika Serikat pada era Perang Dingin untuk melacak kapal selam Soviet.[2] Pada Oktober 1990, sebagai bagian dari inisiatif pemanfaatan ganda, AL memberi NOAA akses ke jaringan itu untuk keperluan sains.
Sejak Agustus 1991, NOAA memantau kegempaan Pasifik secara terus-menerus lewat SOSUS, lalu mengembangkan hidrofon otonom yang bisa dipasang di mana saja — termasuk array di Pasifik timur equatorial yang digelar pada Mei 1996.[2] Alat inilah yang setahun kemudian menangkap The Whistle. Fungsi utamanya mendengarkan gempa dasar laut, letusan gunung berapi bawah air, dan pergerakan paus — jadi menangkap suara tak dikenal adalah efek samping dari misi utamanya.
Mirip Suara Gunung Api Bawah Laut

Dari mana dugaan vulkanik itu berasal? Jawabannya ada pada bentuk suaranya. Karakter nada tunggal bergelombang milik The Whistle sangat menyerupai sinyal volkanogenik — yaitu suara yang dihasilkan gunung berapi bawah laut yang sedang aktif meletus.[1] NOAA menyebut contoh pembanding seperti gunung bawah laut West Mata di dekat Samoa Barat, yang sinyal letusannya punya pola serupa.
Kenapa gunung berapi bawah laut bisa menghasilkan nada, bukan sekadar dentuman? Saat magma panas menerobos ke dasar laut dan bertemu air yang jauh lebih dingin, terjadi pelepasan energi berulang — gas, uap, dan getaran — yang dapat menciptakan pola suara yang relatif teratur. Pola nada tunggal yang berkelanjutan inilah yang membedakan sinyal volkanogenik dari suara biologis yang biasanya lebih bervariasi.
Ada preseden yang memperkuat dugaan ini. Jaringan hidrofon NOAA di Pasifik timur sebelumnya pernah menangkap sinyal yang mirip The Whistle, dan sinyal-sinyal itu diketahui berasal dari busur vulkanik Mariana — rangkaian gunung berapi aktif di Pasifik barat, di utara Guam, yang jaraknya sekitar 14.000 kilometer dari titik perekaman.[1] Jarak sejauh itu terdengar mustahil, tapi di laut dalam, suara frekuensi rendah memang sanggup menempuh lintas-samudra.
Di kedalaman tertentu terdapat lapisan bernama SOFAR channel, tempat gelombang suara frekuensi rendah terperangkap dan merambat ribuan kilometer dengan kehilangan energi minimal. Lapisan inilah yang memungkinkan letusan gunung api di satu sisi Pasifik terdengar di sisi lain — sekaligus yang membuat jejak asalnya sulit dilacak.
Jadi secara karakter suara, The Whistle cocok dengan profil letusan bawah laut. Masalahnya bukan terletak pada “suara apa ini”, melainkan pada “dari mana persisnya ia datang” — dan di sinilah seluruh teka-tekinya berpusat.
Saudara Suara yang Sudah TerjawabMisteri The Bloop: Suara Raksasa dari Dasar Laut yang Bikin Ilmuwan Bingung
Masalah Satu Hidrofon

Untuk menentukan lokasi sumber sebuah suara bawah laut, para ilmuwan butuh menangkapnya di beberapa titik sekaligus. Prinsipnya mirip cara kita memperkirakan jarak petir: dengan membandingkan selisih waktu kedatangan suara di alat-alat yang berbeda, lokasi sumber bisa dihitung lewat triangulasi. NOAA menyatakan dibutuhkan setidaknya tiga instrumen perekam untuk melokalisasi sebuah peristiwa.[1]
The Whistle hanya terekam oleh satu hidrofon — alat di sisi barat laut jaringan. Tidak ada alat kedua, apalagi ketiga, yang ikut menangkapnya.[3] Tanpa titik pembanding, triangulasi menjadi mustahil. Suara itu bisa saja datang dari gunung berapi yang relatif dekat, atau dari sumber yang sangat jauh dan merambat ribuan kilometer sebelum akhirnya tertangkap.
Selisih jarak itu bukan perkara sepele. Sebuah letusan kecil di dekat hidrofon dan sebuah letusan besar yang berjarak belasan ribu kilometer bisa menghasilkan rekaman yang tampak serupa di satu alat. Tanpa titik dengar kedua untuk membandingkan selisih waktu tiba, tak ada cara memisahkan kedua skenario itu — apakah sumbernya tetangga dekat atau raksasa yang jauh. Rekaman tunggal menyimpan nada suaranya, tapi membuang hampir semua informasi tentang di mana ia lahir.
Inilah akar persoalannya. Bukan karena ilmuwan tak tahu suara seperti apa yang dihasilkan gunung api bawah laut — mereka tahu. Melainkan karena satu-satunya rekaman yang ada tak cukup untuk memastikan di mana letusan itu terjadi, atau bahkan memastikan bahwa itu benar-benar letusan dan bukan fenomena lain yang kebetulan berbunyi serupa. Kekeliruan menebak sumber bukan hal langka: decak Bio-Duck bahkan sempat dikira kapal selam selama puluhan tahun sebelum terbukti berasal dari paus.
Teori Terkuat yang Tetap Tak Terbukti
Di sinilah The Whistle menempati kategori yang langka dalam sains kelautan. Ia bukan misteri yang benar-benar gelap tanpa petunjuk, tapi juga bukan kasus yang sudah tuntas. Teori letusan vulkanik bawah laut adalah penjelasan paling masuk akal yang tersedia, namun tetap berstatus dugaan, bukan fakta terkonfirmasi.
Seberapa yakin NOAA? Cukup yakin untuk memberi suara ini nama resmi yang terdengar tegas di arsipnya: “Submarine Volcanic Eruption” alias letusan gunung api bawah laut.[1] Tapi nama itu mencerminkan hipotesis terkuat mereka, bukan kesimpulan yang sudah dipastikan — sebuah perbedaan yang mudah terlewat tapi penting.
Pada arsip suaranya, NOAA sendiri menyatakan bahwa asal-usul sinyal ini tidak diketahui dan tidak terdeteksi pada hidrofon lain mana pun.[3] Karena hanya tertangkap satu alat, suara ini secara resmi digolongkan sebagai “unidentified” — tak teridentifikasi.[4] Perbedaan antara “kemungkinan besar letusan” dan “terbukti letusan” mungkin terdengar kecil, tapi dalam sains, jarak di antara keduanya adalah segalanya. Nasib berbeda dialami Julia, yang meski sempat terdengar seperti suara manusia akhirnya bisa diatribusikan cukup kuat ke gunung es yang kandas.
Nama resmi “Submarine Volcanic Eruption” bisa menyesatkan. Label itu mencerminkan hipotesis terkuat NOAA, bukan hasil yang sudah dipastikan. Rekaman tunggal tak pernah memberi bukti lokasi, sehingga secara ketat The Whistle tetap suara yang asal-usulnya belum terpecahkan — bukti yang membatasi diri lebih jujur daripada kesimpulan yang dipaksakan.
Sesama Teka-teki Vulkanik NOAAUpsweep: Suara Menanjak dari Dasar Pasifik yang Belum Terpecahkan
Tidak seperti beberapa suara laut lain yang terus berulang sehingga bisa dipelajari berkali-kali, The Whistle hanya tercatat pada satu peristiwa. Tidak ada kesempatan kedua untuk menangkapnya dengan lebih banyak alat. Ia datang sekali, terekam sekilas, lalu tak pernah kembali dalam bentuk yang sama — meninggalkan satu berkas rekaman sebagai satu-satunya bukti.
Menariknya, 1997 adalah tahun yang padat bagi suara-suara laut tak dikenal di arsip NOAA. Pada tahun yang sama, hidrofon di Pasifik juga menangkap sejumlah sinyal aneh lain yang kelak sama-sama jadi bahan perbincangan. The Whistle menonjol di antara mereka justru karena keterbatasannya: sementara beberapa suara lain seperti Slow Down tertangkap banyak alat dan bisa ditelusuri ke gunung es Antartika, The Whistle berdiri sebagai kasus yang nyaris tak punya pijakan untuk dilacak.
Kenapa The Whistle Masih Menarik
Daya tarik The Whistle bukan pada horor atau spekulasi liar, melainkan pada ironi ilmiahnya. Ini adalah misteri yang lahir bukan dari ketiadaan penjelasan, tapi dari keterbatasan alat. Kita tahu kemungkinan jawabannya, kita bahkan punya nama teknis untuknya — tapi satu keping bukti yang kurang membuat semua itu tak bisa dikunci menjadi kepastian. Beruntung tak semua kasus berakhir menggantung; Biotwang dari Palung Mariana butuh sepuluh tahun, tapi akhirnya kepingan bukti yang hilang itu ditemukan.
| Aspek | Yang Diketahui |
|---|---|
| Terekam | 7 Juli 1997, 07:30 GMT |
| Lokasi perekaman | Hidrofon otonom Pasifik timur, 08°N 110°W |
| Karakter suara | Nada tunggal bergelombang (undulating single frequency) |
| Teori utama | Letusan gunung api bawah laut (mirip sinyal busur Mariana & West Mata) |
| Kendala | Hanya terekam 1 hidrofon; butuh min. 3 untuk triangulasi |
| Status | Unidentified; lokasi & asal-usul tak dapat dipastikan |
Mungkin suatu hari, dengan jaringan hidrofon yang lebih rapat, suara serupa akan tertangkap beberapa alat sekaligus dan akhirnya bisa dilacak sampai ke sumbernya. Sampai saat itu, The Whistle tetap menjadi siulan tunggal dari laut dalam — satu rekaman, satu alat, dan satu pertanyaan yang belum bisa dijawab dengan pasti.
Pertanyaan yang Sering Ditanya
Apa itu suara The Whistle?
The Whistle adalah suara laut berupa nada tunggal yang meliuk naik-turun, terekam oleh satu hidrofon NOAA di Pasifik timur pada 7 Juli 1997. Karakternya menyerupai sinyal gunung api bawah laut yang sedang meletus.
Apakah misteri The Whistle sudah terpecahkan?
Belum. Teori paling kuat adalah letusan gunung api bawah laut, dan NOAA bahkan menamainya “Submarine Volcanic Eruption”. Namun karena hanya terekam satu hidrofon, lokasi dan asal-usulnya tak bisa dipastikan, sehingga statusnya tetap tak teridentifikasi.
Kenapa lokasi The Whistle tidak bisa ditentukan?
Menentukan lokasi suara bawah laut butuh minimal tiga alat perekam untuk triangulasi. The Whistle hanya tertangkap satu hidrofon, sehingga selisih waktu kedatangan tak bisa dihitung dan titik sumbernya mustahil dilacak.
Apa bedanya The Whistle dengan Upsweep?
Keduanya suara laut tak terjelaskan yang diduga vulkanik. Bedanya, Upsweep berulang dan masih terdeteksi hingga kini sehingga bisa dipelajari berkali-kali, sedangkan The Whistle hanya tercatat satu kali pada 1997 oleh satu alat.
Apakah The Whistle berbahaya atau berasal dari makhluk laut?
Tidak ada indikasi berbahaya maupun biologis. Karakter suaranya cocok dengan sinyal geofisika dari letusan gunung api bawah laut, bukan panggilan hewan. Dugaan makhluk laut raksasa hanyalah spekulasi populer tanpa dasar ilmiah.
Sumber
- Deskripsi, tanggal, lokasi, karakter suara, dan pembanding busur Mariana/West Mata, NOAA PMEL Acoustics Program — pmel.noaa.gov
- Sejarah SOSUS, akses NOAA 1990, dan pengembangan hidrofon otonom Pasifik, NOAA Ocean Exploration — oceanexplorer.noaa.gov
- Pernyataan asal sinyal tidak diketahui dan hanya terekam satu hidrofon, NOAA (via arsip) — en.wikipedia.org
- Status “unidentified” karena hanya satu hidrofon (tak cukup untuk triangulasi), WorldAtlas — worldatlas.com


