Ngebahas

Misteri The Bloop: Suara Raksasa dari Dasar Laut yang Bikin Ilmuwan Bingung

Ilustrasi gelombang suara bawah laut berwarna ungu yang mewakili frekuensi ultra-rendah dari misteri The Bloop yang terekam oleh NOAA.
⏱ 10 menit baca
Bagikan

The Bloop adalah suara berfrekuensi sangat rendah yang terekam pada 1997 oleh mikrofon bawah laut milik Amerika Serikat di titik terpencil Samudra Pasifik selatan — begitu dahsyat sampai tertangkap sensor yang berjarak lebih dari 5.000 kilometer. Karakternya terdengar organik, dan selama hampir satu dekade para ilmuwan tak tahu pasti apa yang menciptakannya.

Musim panas 1997. Jauh di Samudra Pasifik selatan, di titik laut yang paling terpencil di muka Bumi — ribuan kilometer dari daratan terdekat — sederet mikrofon bawah laut milik pemerintah Amerika Serikat menangkap sesuatu yang membuat para ilmuwan terdiam. Sebuah suara. Bukan sekadar suara biasa, tapi dentuman berfrekuensi sangat rendah yang begitu dahsyat sampai terekam oleh sensor-sensor yang berjarak lebih dari 5.000 kilometer satu sama lain.[1]

Tidak ada kapal yang bisa menghasilkan suara sekeras itu. Tidak ada paus biru — makhluk terbesar yang pernah hidup — yang sanggup bersuara sedahsyat itu. Suara itu naik cepat dalam frekuensi selama sekitar satu menit, lalu lenyap. Dan yang paling membuat merinding: karakternya terdengar organik, seolah berasal dari sesuatu yang hidup. Sesuatu yang sangat, sangat besar. Para ilmuwan menjulukinya “The Bloop”, dan selama hampir satu dekade, tak seorang pun tahu pasti apa yang menciptakannya.[2]

Sekilas Fakta

The Bloop adalah suara bawah laut ultra-frekuensi-rendah berdaya sangat besar yang direkam NOAA pada 1997 di Pasifik selatan. Suaranya begitu kuat hingga tertangkap sensor sejauh lebih dari 5.000 km, dan karakternya yang “seperti makhluk hidup” memicu spekulasi soal monster laut raksasa selama bertahun-tahun. Baru pada pertengahan 2000-an NOAA menyimpulkan sumbernya: icequake — retakan bongkahan es raksasa di Antartika.

Suara yang Seharusnya Tidak Mungkin Ada

Untuk mengerti kenapa The Bloop begitu menggemparkan, kamu harus paham dulu betapa anehnya suara ini. Mikrofon yang menangkapnya bukan alat sembarangan — itu jaringan hidrofon warisan Perang Dingin, awalnya dibangun Angkatan Laut AS untuk mengintai kapal selam Soviet. Sensor sebesar itu dirancang mendengar dentuman gunung berapi bawah laut dan gempa dasar samudra dari jarak jauh.[3]

Masalahnya, hampir semua suara di lautan memudar sebelum menempuh jarak jauh. Suara kapal, panggilan paus, deru ombak — semuanya meredup dalam hitungan ratusan kilometer. Tapi The Bloop terdengar di seluruh jaringan sensor sekaligus, terpisah lebih dari 5.000 kilometer. Ahli akustik NOAA, Robert Dziak, menyebut hal semacam ini nyaris tak pernah terjadi. Apa pun yang menghasilkannya, benda itu pasti melepaskan energi dalam skala yang sulit dibayangkan.[4]

Bayangkan situasinya dari sisi para peneliti. Mereka duduk di depan layar, memantau sinyal-sinyal rutin dari dasar laut — gemuruh gunung api, getaran gempa, gerombolan paus yang lewat. Semua itu sudah punya “tanda tangan” akustik yang dikenali. Lalu tiba-tiba muncul satu grafik yang tak cocok dengan apa pun di katalog mereka. Terlalu keras untuk hewan, terlalu “hidup” untuk gempa, terlalu jauh jangkauannya untuk hampir semua hal. Suara itu direkam berkali-kali sepanjang musim panas 1997, lalu berhenti begitu saja — dan tak pernah terdengar lagi dalam bentuk yang sama persis.

Dan ada satu detail lagi yang membuat bulu kuduk berdiri. Pola suaranya — naik cepat dalam frekuensi selama semenit — secara mengejutkan mirip dengan cara makhluk laut memanggil. Mirip suara biologis. Tapi jauh, jauh terlalu keras untuk dihasilkan hewan mana pun yang dikenal sains. Kalau ini memang makhluk hidup, ia harus berukuran beberapa kali lebih besar dari paus biru.[1]

Ledakan yang Juga MenggemparkanMisteri Tunguska: Ledakan Sedahsyat 1.000 Bom Atom yang Tak Berkawah

Monster dari Kedalaman

Struktur raksasa misterius di dasar laut gelap yang menggambarkan mitos monster Cthulhu yang sering dikaitkan dengan The Bloop.

Di sinilah imajinasi manusia mengambil alih. Ketika sains belum punya jawaban, ruang kosong itu diisi oleh sesuatu yang jauh lebih tua dari sains: rasa takut kita pada laut dalam. Lautan adalah tempat paling tak terjelajahi di planet ini — kita lebih paham permukaan Bulan daripada dasar samudra kita sendiri. Jadi ketika ada suara raksasa tak dikenal muncul dari kegelapan itu, orang-orang langsung membayangkan hal yang paling primal: monster.[4]

Teori makhluk raksasa yang belum ditemukan menyebar cepat. Bagaimana kalau di palung terdalam sana hidup spesies yang belum pernah dilihat manusia? Bumi baru memetakan sebagian kecil dasar lautnya; secara teori, makhluk sebesar apa pun bisa saja bersembunyi di sana. Gagasan ini bukan cuma bahan obrolan iseng — bahkan sebagian ilmuwan awalnya tak bisa langsung menyingkirkan kemungkinan sumber biologis, karena pola suaranya memang menyerupai panggilan hewan.[3]

Ketakutan ini punya akar yang masuk akal. Manusia sudah memetakan permukaan Mars dengan detail yang mengagumkan, tapi lebih dari 80 persen dasar lautan kita sendiri belum pernah dipetakan secara rinci. Kita mengirim wahana ke Pluto, sementara palung terdalam di planet ini — tempat tekanan air bisa meremukkan kapal selam — nyaris masih perawan dari penjelajahan. Di ruang gelap seluas dan sedalam itu, gagasan bahwa ada “sesuatu” yang belum kita kenal terasa jauh lebih mungkin ketimbang menakutkan.

Sejarah pun seolah mendukung ketakutan itu. Cumi-cumi raksasa — hewan yang dulu dianggap dongeng pelaut — ternyata benar-benar ada, dan baru berhasil difoto hidup-hidup di habitat aslinya pada era modern. Kalau makhluk sebesar itu bisa sekian lama luput dari mata sains, siapa yang berani bilang laut dalam tak menyimpan kejutan lain? Logika inilah yang membuat teori monster The Bloop terasa sulit ditolak mentah-mentah pada masanya.

Koordinat yang Membangunkan Cthulhu

Struktur raksasa misterius di dasar laut gelap yang menggambarkan lokasi R’lyeh, kota bawah laut tempat monster kosmik raksasa bernama Cthulhu tertidur

Lalu ada satu kebetulan yang membuat kisah ini melompat dari sekadar misteri sains menjadi legenda internet. Sumber The Bloop dilacak ke sebuah titik di Pasifik selatan, di area sekitar 50° Lintang Selatan, 100° Bujur Barat. Dan bagi para penggemar horor, angka itu terasa amat familier.[5]

Pada 1928, penulis horor H.P. Lovecraft menerbitkan cerita legendaris “The Call of Cthulhu”. Di dalamnya, ia menyebutkan lokasi R’lyeh — kota bawah laut tempat monster kosmik raksasa bernama Cthulhu tertidur, menunggu saatnya bangkit. Lovecraft memberi koordinat fiksi untuk kota itu: sekitar 47° Lintang Selatan, 126° Bujur Barat. Mengejutkannya, titik itu berada di kawasan Pasifik selatan yang sama, relatif dekat dengan sumber The Bloop.[6]

Internet pun meledak. Suara raksasa tak dikenal, terdengar seperti makhluk hidup, muncul dari titik laut terpencil yang nyaris persis dengan tempat monster fiksi legendaris konon tertidur? Bagi banyak orang, ini terlalu sempurna untuk diabaikan. Muncul meme, forum, bahkan situs khusus yang “memantau” hubungan Bloop dan Cthulhu. Tentu saja, ini murni kebetulan geografis yang dibumbui imajinasi — R’lyeh tidak nyata, dan Lovecraft menulis koordinatnya puluhan tahun sebelum hidrofon pertama diturunkan. Tapi harus diakui, sebagai bahan cerita, kebetulan ini luar biasa memikat.

Yang membuat koneksi ini makin lengket di benak orang adalah timing-nya. Lovecraft menulis “The Call of Cthulhu” pada 1928, hampir tujuh dekade sebelum hidrofon NOAA menangkap The Bloop. Ia tak mungkin tahu soal jaringan sensor bawah laut, apalagi soal suara es Antartika. Jadi bagi sebagian orang, “ramalan” tak sengaja seorang penulis horor yang jatuh begitu dekat dengan lokasi nyata terasa seperti kebetulan yang terlalu rapi untuk sekadar kebetulan. Padahal justru di situ letak daya tariknya: otak manusia memang dirancang untuk mencari pola dan makna, bahkan di tempat yang sebenarnya cuma acak.

Perlu Diketahui

Koneksi Cthulhu adalah fenomena budaya pop, bukan klaim ilmiah. Kedekatan koordinat R’lyeh fiksi dengan sumber The Bloop hanyalah kebetulan yang kebetulan enak dijadikan cerita — tidak ada ilmuwan yang pernah menganggapnya serius sebagai penjelasan.

Ketika Sains Akhirnya Menemukan Sumbernya

Bongkahan gunung es besar yang retak dan jatuh ke lautan sebagai ilustrasi fenomena gempa es atau icequake di Antartika, fakta ilmiah di balik The Bloop.

Sementara imajinasi publik mengejar monster, para peneliti NOAA mengejar sesuatu yang jauh lebih membumi. Pasifik selatan adalah kawasan yang aktif secara geologi, penuh sesar dan gunung api bawah laut, jadi para ilmuwan menduga sumbernya bersifat geofisika — bukan makhluk, melainkan proses alam berskala raksasa.[4]

Kuncinya adalah kesabaran. Sepanjang awal 2000-an, tim NOAA terus menurunkan hidrofon makin dekat ke Antartika untuk mempelajari suara gunung api dan gempa dasar laut. Di sanalah, di dekat benua es paling selatan itu, mereka berulang kali merekam suara berfrekuensi rendah dan beramplitudo tinggi yang spektrogramnya nyaris identik dengan The Bloop.[2]

Jawabannya ternyata bukan monster, melainkan es. The Bloop adalah suara sebuah icequake — atau cryoseism — yaitu retakan dahsyat saat bongkahan es raksasa pecah dan terlepas dari gletser Antartika. Ketika es sebesar itu retak atau menggores dasar laut, ia melepaskan ledakan energi akustik luar biasa besar, dengan frekuensi dan amplitudo yang persis cocok dengan tanda tangan suara The Bloop. Pada 2005, NOAA menyimpulkan inilah sumbernya.[1]

Bukti pamungkasnya datang saat NOAA bisa melacak langsung suara serupa ke sumbernya yang kasat mata: bongkahan es raksasa yang sedang hancur. Dengan memindahkan hidrofon lebih dekat ke Antartika dan Laut Scotia, tim peneliti berulang kali menangkap “icequake” yang spektrogramnya seperti kembar The Bloop. Ini bukan lagi tebakan — mereka benar-benar mendengar es yang sama jenisnya menghasilkan suara yang sama polanya, berkali-kali.[2]

Kualitas “seperti makhluk hidup” yang dulu bikin merinding? Ternyata cuma kebetulan akustik. Retakan es kadang bisa meniru variasi frekuensi yang mirip panggilan hewan — otak kita saja yang cenderung mendengar sesuatu yang “hidup” dari pola yang sebenarnya murni fisika.[3]

AspekFakta
Tahun terekamMusim panas 1997
PerekamNOAA (jaringan hidrofon eks Angkatan Laut AS)
Lokasi sumberPasifik selatan, dekat ujung selatan Amerika Selatan / Antartika
Jarak terdengarLebih dari 5.000 km antar-sensor
Karakter suaraFrekuensi sangat rendah, naik cepat ~1 menit, terdengar organik
Teori awalMonster laut / makhluk raksasa tak dikenal
Kesimpulan NOAA (2005)Icequake / cryoseism — es Antartika retak & pecah

Kenapa The Bloop Masih Terus Menghantui

Secara ilmiah, misteri The Bloop sudah terpecahkan. Tidak ada monster, tidak ada Cthulhu, tidak ada spesies raksasa di palung gelap. Hanya es — purba, masif, dan retak dengan kekuatan yang mengguncang seluruh samudra. Tapi anehnya, jawaban itu justru tidak membunuh pesona misterinya. Dalam banyak hal, ia malah membuatnya lebih menarik.[1]

Reveal Ilmiah yang Menggeser Cerita SeramMisteri Jembatan Overtoun: Kenapa Ratusan Anjing Melompat ke Jurang

Karena kalau kamu pikir lagi: sebuah retakan es di ujung dunia sanggup mengirim suara yang terdengar seperti raungan monster, melintasi seantero Pasifik, sampai bikin ilmuwan garuk-garuk kepala selama delapan tahun. Itu bukan cerita yang lebih membosankan dari monster — itu justru pengingat betapa sedikitnya yang benar-benar kita ketahui tentang lautan kita sendiri. Hidrofon NOAA kini menangkap puluhan ribu suara icequake serupa tiap tahun, dan jumlahnya meningkat seiring pemanasan global mempercepat pecahnya es kutub.[1]

Ada ironi yang indah di sini. Suara yang dulu memicu ketakutan akan monster ternyata adalah suara planet yang sedang berubah — es kutub yang retak makin sering karena laut menghangat. Apa yang dulu bikin kita membayangkan makhluk purba, kini justru jadi salah satu sinyal akustik paling awal tentang ketidakstabilan es kutub. Rasa takut berubah jadi rasa cemas yang jenis lain: bukan pada monster khayalan, tapi pada perubahan nyata yang sedang terjadi di ujung-ujung Bumi.

Jadi misteri yang tersisa dari The Bloop bukan lagi “apa itu”, melainkan sesuatu yang lebih pelan menggetarkan: berapa banyak lagi suara aneh di kedalaman yang belum kita pahami? Laut dalam masih menyimpan ribuan bunyi tak dikenal, dan tak semuanya sudah punya nama. The Bloop hanyalah satu yang kebetulan cukup keras untuk memaksa kita mendengarkan. Ia adalah salah satu teka-teki paling ikonik dalam deretan misteri yang belum terungkap — sekaligus bukti bahwa kadang, jawaban yang membumi pun bisa terasa lebih besar dari monster mana pun.


Pertanyaan yang Sering Ditanya

Apa itu The Bloop?

The Bloop adalah suara bawah laut berfrekuensi sangat rendah dan berdaya sangat besar yang direkam NOAA pada musim panas 1997 di Samudra Pasifik selatan. Suaranya begitu kuat hingga tertangkap sensor yang berjarak lebih dari 5.000 km.

Apa penyebab The Bloop sebenarnya?

Menurut kesimpulan NOAA pada 2005, The Bloop disebabkan oleh icequake (cryoseism) — suara retakan dahsyat saat bongkahan es raksasa pecah dan terlepas dari gletser Antartika, bukan makhluk hidup.

Benarkah The Bloop suara monster laut?

Tidak. Meskipun karakternya terdengar organik dan sempat memicu teori monster raksasa, analisis NOAA menunjukkan sumbernya adalah es yang retak. Kesan “seperti makhluk hidup” hanyalah kebetulan akustik.

Apa hubungan The Bloop dengan Cthulhu?

Hanya kebetulan geografis. Lokasi sumber The Bloop kebetulan dekat dengan koordinat fiksi kota R’lyeh dalam cerita H.P. Lovecraft, sehingga memicu meme internet. Tidak ada dasar ilmiah untuk kaitan ini.


Sumber

  1. NOAA Ocean Service — What is the Bloop? oceanservice.noaa.gov
  2. NOAA PMEL Acoustics — Icequakes (Bloop). pmel.noaa.gov
  3. Wikipedia — Bloop: jaringan hidrofon eks Angkatan Laut AS. en.wikipedia.org
  4. Popular Science — The sea monster goes bloop, or does it? popsci.com
  5. La Brujula Verde — koordinat sumber The Bloop. labrujulaverde.com
  6. Wikipedia — R’lyeh: koordinat fiksi Lovecraft. en.wikipedia.org
Andrya Nabil Fauzan
Ditulis oleh
SEO Specialist & Penulis

Andrya Nabil Fauzan adalah SEO Specialist yang menekuni dunia digital sejak 2021. Ia terbiasa membangun dan mengelola website di berbagai CMS — dari sisi on-page, off-page, hingga technical SEO — dan juga menangani periklanan digital lewat Meta Ads, TikTok Ads, serta Google Ads. Ketertarikannya melintasi banyak hal: film, game, investasi, misteri, dan tips sehari-hari. Lewat Ngebahas, ia menuangkan rasa penasaran itu jadi tulisan yang santai, jujur, dan enak diikuti.

Tinggalkan Komentar

Cukup isi nama buat komentar.

Scroll to Top