
L’Oiseau Blanc adalah pesawat biplan Prancis yang lenyap pada Mei 1927 saat dua penerbang, Charles Nungesser dan François Coli, mencoba memenangi perlombaan penerbangan nonstop pertama Paris–New York dalam ajang Orteig Prize. Hanya dua minggu kemudian Charles Lindbergh sukses melintasi rute itu, sementara nasib L’Oiseau Blanc tak pernah terpecahkan hingga kini.
Pagi buta 8 Mei 1927, sebuah biplan putih besar berat oleh bahan bakar merangkak lepas dari landasan Le Bourget di dekat Paris. Kerumunan besar melepasnya sebagai pahlawan. Di dalamnya duduk dua nama yang sudah harum di Prancis, hendak menorehkan sejarah dengan melintasi Atlantik. Penerbangan itu diperkirakan menghabiskan waktu sekitar 40 jam sebelum mereka merencanakan pendaratan di air di perairan New York, di depan Patung Liberty.[1]
Mereka tak pernah sampai. Jam berganti hari, dan tak ada kabar. Yang tersisa hanyalah serangkaian kesaksian samar di seberang lautan dan sebuah pertanyaan yang bertahan hampir seabad: seberapa dekat kedua orang itu sebenarnya dengan sejarah yang nyaris mereka rebut?
Dua Penerbang, Satu Hadiah Besar
Yang mengejar mimpi ini bukan petualang sembarangan. Charles Nungesser adalah salah satu penerbang tempur legendaris Prancis di Perang Dunia I, dengan puluhan pesawat musuh yang berhasil ia jatuhkan. Rekannya, François Coli, juga seorang ace perang yang kemudian dikenal lewat penerbangan jarak jauh. Keduanya adalah nama besar, bukan pemula.[2]
Yang memicu ambisi mereka adalah Orteig Prize, hadiah 25.000 dolar yang dijanjikan pengusaha hotel Raymond Orteig bagi penerbang pertama yang mampu terbang nonstop menghubungkan New York dan Paris. Nilai itu, setara jutaan dolar hari ini, memicu perlombaan sengit antar-penerbang lintas negara. Sebagian besar berencana terbang dari New York ke Paris; Nungesser dan Coli memilih arah sebaliknya, dari Paris ke New York.[3]
Untuk misi ini, perusahaan Prancis Levasseur membangunkan mereka biplan khusus, sebuah Levasseur PL.8 bermesin Lorraine-Dietrich 450 tenaga kuda. Pesawat itu dirancang agar bisa mendarat di air, dengan roda pendarat yang sengaja dilepas setelah lepas landas untuk mengurangi beban.
Si Burung Putih dan Lambang Mautnya

Pesawat itu dicat putih seluruhnya, sebuah keputusan praktis: warna terang akan memudahkan pencarian seandainya mereka jatuh. Dari sinilah namanya lahir, L’Oiseau Blanc, yang berarti Si Burung Putih.[4]
Di atas warna putih polos itu, Nungesser membubuhkan sentuhan pribadi yang justru terasa ironis mengingat nasib akhirnya: lambang tempur perangnya sendiri, berupa tengkorak dan tulang bersilang, sebuah peti mati, dan dua lilin, semuanya di dalam hati berwarna hitam. Coli menambahkan bendera Prancis. Sebuah pesawat harapan yang membawa lambang kematian di badannya.
Rencana penerbangan mereka disusun rapi: melintasi Selat Inggris, terbang di atas barat daya Inggris dan Irlandia, lalu mengikuti garis lintang ke-54 menyeberangi Atlantik Utara menuju Newfoundland, sebelum berbelok ke selatan menuju New York. Ramalan cuaca Prancis menjanjikan angin buritan yang akan membantu mereka terbang ke barat.[1]
Terlihat Terakhir di Atas Lautan
L’Oiseau Blanc lepas landas pada pukul 05.17 pagi, 8 Mei 1927. Setelah mengudara, roda pendaratnya dilepas sesuai rencana, sebuah langkah tanpa jalan mundur, dan pesawat melaju ke atas Selat Inggris. Semuanya masih berjalan sesuai rencana.[5]
Pesawat putih itu terlihat melintas di atas pesisir Prancis, lalu di atas Irlandia. Salah satu penampakan terakhir yang sering dikutip datang dari seorang perwira angkatan laut Inggris yang dilaporkan melihatnya di lepas pantai Irlandia. Setelah itu, L’Oiseau Blanc terbang masuk ke atas hamparan luas Atlantik Utara, dan menghilang dari pandangan dunia.[6]
Di Prancis, sempat beredar kabar gembira palsu bahwa pesawat telah tiba di Amerika. Koran-koran merayakannya sebelum akhirnya kebenaran pahit terungkap: tak ada yang tiba. Pesawat dan kedua penerbangnya lenyap tanpa jejak yang pasti, menyisakan lautan yang bungkam.
Roda pendarat sengaja dilepas setelah lepas landas untuk mengurangi berat, dan rencana penerbangan mereka memang berakhir dengan pendaratan di air di New York. Konsekuensinya, mendarat di daratan biasa menjadi jauh lebih sulit, sehingga praktis seluruh misi bergantung pada tercapainya pendaratan air yang direncanakan.
Misteri di Langit Newfoundland

Di sinilah kasus ini berubah dari sekadar ‘hilang di laut’ menjadi teka-teki yang jauh lebih menggoda. Selama puluhan tahun, para peneliti mengumpulkan kesaksian dari warga di Newfoundland dan pesisir timur laut Amerika yang bersumpah mendengar dan melihat sebuah pesawat pada pagi 9 Mei 1927, tepat ketika L’Oiseau Blanc semestinya tiba di kawasan itu.[6]
Yang membuat kesaksian ini sulit diabaikan adalah konteksnya. Pada 1927, pesawat masih benda langka di kawasan pesisir yang sepi itu. Menurut para peneliti, tak ada penerbangan lain yang tercatat aktif di Newfoundland pada 9 Mei 1927, sehingga mereka berargumen bahwa jika warga memang mendengar dan melihat sebuah pesawat sebagaimana kesaksian mereka, kandidat yang paling masuk akal adalah Si Burung Putih.[6]
Kesaksian-kesaksian itu memunculkan hipotesis yang mengubah segalanya: bahwa Nungesser dan Coli mungkin berhasil menyeberangi Atlantik dan mencapai Amerika Utara, hanya untuk mengalami kecelakaan di tahap akhir perjalanan. Jika benar, sebagian pihak berpendapat merekalah, bukan Lindbergh, yang lebih dulu menuntaskan penerbangan nonstop lintas-Atlantik antara Paris dan New York, meski tak pernah hidup untuk membuktikannya.
Bayang-bayang Lindbergh
Dua belas hari setelah Nungesser dan Coli lenyap, seorang penerbang pos udara Amerika yang saat itu relatif tak dikenal, Charles Lindbergh, lepas landas dari New York dan sukses terbang solo ke Paris, mendarat di Le Bourget, lapangan yang sama tempat L’Oiseau Blanc dulu berangkat. Lindbergh memenangkan Orteig Prize dan berubah dalam semalam menjadi selebritas dunia.[3]
Ada ironi yang getir di sini. Pencarian besar-besaran untuk L’Oiseau Blanc, yang melibatkan penyisiran udara dan darat di Newfoundland, Labrador, New England, dan New York, justru tenggelam oleh sorak-sorai atas keberhasilan Lindbergh. Kemenangan satu penerbang menutupi hilangnya dua penerbang lain. Bahkan ada yang menduga, perhatian dunia pada Lindbergh sebagian justru diperbesar oleh tragedi Si Burung Putih beberapa hari sebelumnya.[1]
Penerbang Ikonik yang Juga RaibMisteri Hilangnya Amelia Earhart: Penerbang Legendaris yang Ditelan Samudra
Yang menarik, Lindbergh sendiri konon percaya bahwa tim Prancis punya peluang sangat besar untuk mengalahkannya. Ia tak memandang remeh Nungesser dan Coli; sebaliknya, ia tahu betul betapa dekatnya mereka dengan garis akhir yang sama.
Ringkasan Fakta L’Oiseau Blanc
Berikut rangkuman data inti dari penerbangan yang tak pernah selesai ini:
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Tanggal berangkat | 8 Mei 1927, pukul 05.17, dari Le Bourget, Paris |
| Penerbang | Charles Nungesser & François Coli (dua ace Perang Dunia I) |
| Pesawat | Levasseur PL.8 biplan, dicat putih, mesin Lorraine-Dietrich 450 hp |
| Tujuan | New York (pendaratan di air), rute via Irlandia & Newfoundland |
| Terlihat terakhir | Lepas pantai Irlandia, oleh perwira AL Inggris |
| Hadiah diperebutkan | Orteig Prize, 25.000 dolar |
| Catatan | Lindbergh sukses rute serupa 12 hari kemudian |
Perburuan yang Tak Kunjung Usai
Tak seperti banyak misteri yang perlahan dilupakan, pencarian L’Oiseau Blanc justru berlanjut hingga puluhan tahun kemudian. Sejumlah peneliti dan organisasi pemburu pesawat bersejarah menghabiskan bertahun-tahun menyisir hutan dan rawa Newfoundland dan Maine, mengejar petunjuk dari kesaksian lama.[5]
Beberapa temuan sempat memercikkan harapan. Ada fragmen yang dilaporkan mengandung residu konsisten dengan minyak jarak yang terbakar, jenis pelumas yang dipakai mesin buatan Prancis pada Si Burung Putih. Jika bangkai itu benar-benar ada di sana, penemuannya bisa menulis ulang sejarah penerbangan lintas-Atlantik. Namun sampai kini, tak ada satu pun bukti konklusif yang berhasil memastikan lokasi jatuhnya.[5]
Bangkai yang Menunggu DitemukanMisteri Lady Be Good: Pesawat Hantu yang Ditemukan Utuh 15 Tahun Kemudian di Gurun Libya
Meski nasibnya tak pernah pasti, Nungesser dan Coli tak dilupakan Prancis. Monumen untuk mengenang upaya mereka berdiri di bandara Le Bourget dan di tebing Étretat, tempat pesawat mereka terlihat terakhir kali di daratan Prancis sebelum menghilang di atas Atlantik.
Kenapa Si Burung Putih Masih Memikat
Misteri L’Oiseau Blanc bertahan karena ia berdiri tepat di persimpangan antara kegagalan dan kejayaan yang nyaris. Jika kesaksian Newfoundland benar, catatan tentang siapa yang lebih dulu menuntaskan penerbangan nonstop Paris–New York bisa jadi berbeda dari yang kita kenal. Pertanyaan itu, sekali terlontar, sulit ditarik kembali.
Yang membuatnya terus memikat bukan sekadar hilangnya sebuah pesawat, melainkan betapa tipis jarak antara nama yang dikenang sejarah dan nama yang nyaris terlupakan. Dua belas hari memisahkan Nungesser dan Coli dari Lindbergh. Nasib lenyap tanpa jejak seperti ini juga menimpa pesawat carter militer yang raib di Pasifik beberapa dekade sesudahnya. Beberapa ratus kilometer terakhir, mungkin, memisahkan mereka dari garis akhir. Sejarah pada akhirnya mencatat sang pemenang, dan menyimpan yang hilang sebagai teka-teki.
Hampir seabad berlalu, dan Atlantik masih menyimpan jawabannya. Tanpa bangkai yang pasti, tanpa titik akhir yang jelas, Si Burung Putih tetap terbang selamanya di ruang antara ‘hampir berhasil’ dan ‘tak pernah kembali’, salah satu misteri terbesar dalam sejarah penerbangan dunia.
Pertanyaan yang Sering Ditanya
Apa itu L’Oiseau Blanc?
L’Oiseau Blanc (Si Burung Putih) adalah pesawat biplan Levasseur PL.8 buatan Prancis yang dicat putih. Pesawat ini digunakan Charles Nungesser dan François Coli untuk mencoba terbang nonstop pertama menyeberangi Atlantik dari Paris ke New York pada Mei 1927, namun lenyap tanpa jejak.
Siapa Nungesser dan Coli?
Charles Nungesser dan François Coli adalah dua penerbang tempur (ace) Prancis dari Perang Dunia I. Nungesser dikenal karena puluhan kemenangan udaranya, sementara Coli terkenal lewat penerbangan jarak jauh. Keduanya sudah menjadi tokoh besar di Prancis sebelum mencoba menyeberangi Atlantik.
Kenapa pesawatnya dicat putih?
Warna putih dipilih agar pesawat lebih mudah ditemukan seandainya jatuh. Dari keputusan praktis inilah nama L’Oiseau Blanc, yang berarti Si Burung Putih, berasal.
Apakah mereka sempat sampai ke Amerika?
Belum pasti. Sejumlah saksi di Newfoundland mengaku mendengar dan melihat pesawat pada 9 Mei 1927, saat L’Oiseau Blanc semestinya tiba. Karena tak ada penerbangan lain di kawasan itu saat itu, muncul hipotesis bahwa mereka mungkin mencapai Amerika Utara sebelum mengalami kecelakaan, tapi hal ini tak pernah terbukti.
Apa hubungannya dengan Charles Lindbergh?
Hanya dua minggu setelah Nungesser dan Coli lenyap, Charles Lindbergh berhasil terbang solo dari New York ke Paris dan memenangkan Orteig Prize. Keberhasilannya membuatnya termasyhur, sekaligus menenggelamkan berita pencarian L’Oiseau Blanc.
Sumber
- Kronologi hilangnya, warisan, dan kaitan dengan Lindbergh, Wikipedia — en.wikipedia.org
- Latar belakang Nungesser & Coli sebagai ace perang dan detail pesawat, National Underwater and Marine Agency — numa.net
- Orteig Prize, perlombaan lintas-Atlantik, dan konteks Lindbergh, Explorersweb — explorersweb.com
- Asal nama, cat putih, dan lambang tengkorak Nungesser, Boston Magazine — bostonmagazine.com
- Rincian penerbangan, pencarian modern, dan temuan fragmen, Miles O’Brien — milesobrien.substack.com
- Kesaksian warga Newfoundland dan hipotesis pencapaian Amerika, CBC News — cbc.ca


