
Kisah Percy Fawcett adalah misteri hilangnya seorang penjelajah Inggris di belantara Amazon pada 1925, saat ia mencari kota kuno yang ia sebut Lost City of Z. Kolonel Percy Harrison Fawcett lenyap tanpa jejak bersama putranya, Jack, dan sahabat Jack, Raleigh Rimell — dan sampai hari ini tak seorang pun tahu pasti apa yang menimpa mereka.
Bayangkan kamu menyusuri hutan Amazon pada tahun 1925: tak ada peta yang bisa dipercaya, tak ada jalan, hanya rimba pekat yang dipenuhi ular berbisa, sungai berarus deras, dan serangga yang tak pernah berhenti. Di tengah semua itu, seorang pria berusia 57 tahun melangkah semakin dalam — bukan untuk mencari emas, melainkan mencari sebuah kota kuno yang ia yakini pernah berdiri megah di sana. Ia menuliskan surat terakhir untuk istrinya, lalu menghilang selamanya. Kota yang ia cari tak pernah ia temukan, dan jasadnya pun tak pernah ditemukan siapa pun.
Pria itu adalah Kolonel Percy Fawcett, dan pencariannya atas Lost City of Z menjadi salah satu misteri penjelajahan terbesar abad ke-20. Untuk memahami mengapa seorang penjelajah berpengalaman rela mempertaruhkan segalanya di rimba paling ganas di dunia, kita perlu mundur ke awal — ke obsesi yang perlahan menguasai hidupnya.
Sang Penjelajah dari Era Keemasan Petualangan
Percy Harrison Fawcett lahir pada 1867 di Torquay, Devon, Inggris — wilayah yang melahirkan banyak pelaut dan penjelajah termasyhur. Ia bukan petualang sembarangan. Sebagai perwira artileri kerajaan yang pernah dianugerahi Distinguished Service Order, lalu terlatih sebagai kartografer di bawah Royal Geographical Society, Fawcett dikenal sebagai salah satu surveyor rimba paling tangguh dan cakap di zamannya.[1]
Antara 1906 dan 1924, ia menuntaskan tujuh ekspedisi memetakan wilayah-wilayah Amazon yang belum pernah didokumentasikan orang Eropa — sebuah kawasan yang ia sebut “ruang kosong besar terakhir di dunia”. Di sana ia menghadapi ular pit viper, arus sungai berbahaya, dan pertemuan dengan suku-suku yang belum pernah berkontak dengan dunia luar. Reputasinya sebagai penjelajah yang mampu bertahan di kondisi paling ekstrem membuat ceritanya diikuti jutaan orang.[2]
Namun di balik kariernya yang gemilang, tumbuh sebuah gagasan yang perlahan berubah menjadi obsesi: keyakinan bahwa jauh di dalam rimba Brasil, tersembunyi reruntuhan sebuah peradaban kuno yang hilang.
Obsesi pada Kota yang Disebut “Z”

Titik nyala obsesi itu adalah sebuah dokumen tua. Saat menelusuri rak-rak Perpustakaan Nasional di Rio de Janeiro, Fawcett menemukan naskah yang dikenal sebagai Manuscript 512. Ditulis oleh penjelajah Portugis pada 1753, dokumen itu menggambarkan sebuah kota batu bertembok jauh di pedalaman — lengkap dengan gapura-gapura melengkung, bangunan bertingkat, jalan lebar, dan huruf-huruf aneh yang terukir di dinding.[3]
Bagi Fawcett, potongan-potongan teka-teki itu saling melengkapi. Ia menggabungkan Manuscript 512 dengan cerita-cerita masyarakat pribumi dan pengamatannya sendiri, lalu menyimpulkan bahwa sebuah peradaban maju pernah berdiri di kawasan Mato Grosso. Kota hipotetis itu ia beri nama sederhana: “Z”. Nama itu sebenarnya lebih merupakan kode kerja untuk lokasi targetnya, bukan nama mistis yang ia gembar-gemborkan.[4]
Yang penting dipahami: Fawcett bukan pemburu harta seperti para pencari El Dorado. Ia terinspirasi oleh penemuan Machu Picchu pada 1911, dan sebagai surveyor terlatih, ia yakin secara ilmiah bahwa Amazon pernah menopang peradaban besar — sebuah gagasan yang saat itu ditolak mentah-mentah oleh kalangan akademis, yang menganggap rimba mustahil menampung kota sebesar itu.
Nama “Lost City of Z” yang kita kenal luas sebagian besar dipopulerkan lewat buku The Lost City of Z karya jurnalis David Grann (2009), yang kemudian diangkat ke layar lebar. Dalam catatan aslinya, Fawcett lebih sering menyebut targetnya sebagai “kota batu yang hilang”, dan “Z” hanyalah label singkat di jurnalnya — bukan sebutan dramatis yang ia sebarkan ke publik.[4]
Ekspedisi Terakhir ke Jantung Rimba

Setelah bertahun-tahun mengumpulkan dana dan menyusun rencana, Fawcett memulai ekspedisi terakhirnya pada 1925. Ia sengaja membuat rombongan kecil — ekspedisi besar terlalu lambat dan menarik terlalu banyak perhatian. Ia hanya mengajak dua orang muda: putra sulungnya, Jack Fawcett yang berusia 21 tahun, dan sahabat karib Jack, Raleigh Rimell. Keduanya berbagi keyakinan hampir religius terhadap teori Z.[5]
Menariknya, Fawcett sebenarnya sempat ditawari orang-orang berpengalaman — bahkan konon T.E. Lawrence, sang “Lawrence of Arabia” — tetapi ia memilih membawa putranya sendiri. Pada 20 April 1925, rombongan itu berangkat dari Cuiabá, ibu kota negara bagian Mato Grosso, menembus rimba untuk pertama kalinya. Di depan mereka membentang labirin belukar rapat, sungai penuh piranha, dan wilayah tak berpeta yang dihuni suku-suku yang tak ramah kepada pendatang.[2]
Pada 29 Mei 1925, Fawcett mengirim surat terakhirnya dari sebuah lokasi yang ia juluki Dead Horse Camp — dinamai begitu karena kudanya mati di tempat itu pada ekspedisi sebelumnya. Kepada istrinya, Nina, ia menulis bahwa rombongan dalam keadaan sehat dan terus bergerak lebih dalam. “Kamu tak perlu khawatir soal kegagalan,” tulisnya. Setelah surat itu, hanya ada kesunyian.[6]
Lenyap Tanpa Jejak

Setelah surat dari Dead Horse Camp, ketiga orang itu tak pernah terdengar lagi. Awalnya keterlambatan kabar dianggap wajar — Fawcett memang berencana lama menghilang dari peradaban. Tetapi ketika berbulan-bulan berlalu tanpa satu pun berita, dunia mulai cemas. Royal Geographical Society akhirnya secara resmi menyatakan Fawcett hilang dua tahun kemudian.[1]
Yang terjadi setelahnya justru memperbesar tragedi. Pencarian Fawcett menjadi semacam obsesi kolektif: berbagai ekspedisi penyelamatan dikirim ke rimba yang sama, termasuk satu yang dipimpin Peter Fleming, kakak dari Ian Fleming pencipta James Bond. Banyak dari upaya itu berakhir dengan kematian para pencarinya sendiri. Rimba yang menelan Fawcett menelan pula sebagian orang yang mencoba menemukannya — tanpa pernah memberi jawaban.[2]
Teori-teori tentang Nasib Sang Kolonel
Tanpa jasad dan tanpa saksi, ruang kosong itu segera diisi berbagai teori. Yang paling banyak dipercaya adalah bahwa ketiganya tewas di tangan suku pedalaman. Salah satu versi menyebutkan bahwa rombongan Fawcett kehabisan hadiah untuk “membayar” jalan yang aman — sebuah pelanggaran serius terhadap adat setempat yang bisa mengubah sambutan menjadi serangan.[7]
Teori lain jauh lebih membumi: kelaparan dan penyakit. Baik Jack maupun Raleigh dikabarkan sudah pincang dan sakit ketika mencapai Dead Horse Camp. Di rimba seganas itu, penyakit dan kehabisan bekal adalah pembunuh yang jauh lebih sering daripada tombak suku mana pun — dan Fawcett sendiri sepanjang hidupnya rajin mencatat betapa mematikannya perjalanan hutan.[8]
Lalu ada teori-teori yang lebih liar. Ada yang mengklaim Fawcett memilih “menghilang” dan hidup di antara suku pedalaman, bahkan menjadi kepala suku. Ketika cincin bermeterai miliknya ditemukan di sebuah toko gadai pada 1979, muncul dugaan ia dibunuh perampok. Semua ini tetap sebatas spekulasi — tak satu pun pernah dibuktikan.[9]
Berikut ringkasan teori-teori utama tentang nasib ekspedisi Fawcett:
| Teori | Inti Klaim | Status |
|---|---|---|
| Dibunuh suku pedalaman | Tewas karena melanggar adat / masuk wilayah suku yang tak ramah | Paling banyak dipercaya, tanpa bukti pasti |
| Penyakit & kelaparan | Jack dan Raleigh sakit; bekal menipis di rimba | Masuk akal secara logistik |
| “Go native” | Fawcett memilih hidup di antara suku pedalaman | Spekulasi, tak terbukti |
| Dibunuh perampok | Dipicu penemuan cincin di toko gadai (1979) | Dugaan lemah |
Tulang yang Ternyata Bukan Miliknya

Titik paling dramatis dalam pencarian datang pada 1952. Penjelajah Brasil Orlando Villas-Bôas mengumumkan bahwa ia telah menemukan tulang-belulang sang penjelajah, dan bahwa suku Kalapalo konon mengaku telah membunuhnya. Dunia sempat gempar — apakah misteri ini akhirnya terpecahkan?[10]
Tetapi harapan itu runtuh. Analisis forensik di Inggris menunjukkan bahwa dimensi tengkorak tulang tersebut tidak cocok dengan ukuran tubuh Fawcett yang diketahui — tinggi badannya saja sudah keliru. Keluarga Fawcett bahkan menolak memberikan sampel untuk perbandingan lebih lanjut. Puluhan tahun kemudian, tetua Kalapalo bernama Vajuvi secara terbuka membantah bahwa tulang itu milik Fawcett, sekaligus menyangkal keterlibatan sukunya.[10]
Yang menarik, sejarah lisan Kalapalo yang direkam belakangan justru menawarkan versi yang lebih halus: mereka mengaku sempat menampung Fawcett, memperingatkannya agar tak melanjutkan ke wilayah “suku ganas” di timur, tetapi Fawcett bersikeras pergi. Selama lima malam mereka melihat asap api unggun rombongan itu, sampai asap itu lenyap — dan mereka yakin suku di timur yang menghabisinya.[7]
Meski nasib Fawcett tetap gelap, satu bagian dari teorinya justru mulai terbukti. Di dekat hulu Sungai Xingu, arkeolog menemukan situs bernama Kuhikugu — sisa-sisa peradaban besar dan terorganisir yang berkembang sebelum kedatangan orang Eropa, lengkap dengan jejak jalan, jembatan, dan alun-alun. Pemindaian LIDAR modern memperkuat temuan bahwa kawasan Amazon ini pernah menampung pemukiman besar. Fawcett tak menemukan Z, tetapi keyakinannya bahwa rimba pernah menyimpan peradaban maju ternyata tak sepenuhnya khayalan.[4]
Kenapa Kisah Ini Masih Memikat

Ada ironi yang indah sekaligus getir dalam kisah Percy Fawcett. Selama puluhan tahun, para akademisi menertawakan keyakinannya bahwa Amazon pernah menyimpan kota besar. Kini, teknologi modern justru membuktikan bahwa ia mungkin benar sejak awal — hanya saja ia mengejar jawaban itu beberapa dekade sebelum dunia punya alat untuk membuktikannya. Ia berjalan masuk ke rimba mencari kota yang semua orang bilang tak ada, dan rimba itu menyimpannya untuk selamanya.
Namun justru di situlah letak daya tariknya yang tak lekang. Kita tahu banyak hal tentang Fawcett: kapan ia berangkat, ke mana ia menuju, apa yang ia cari. Yang tak pernah kita ketahui hanyalah bagian paling akhir — detik-detik ketika asap api unggunnya padam. Tak ada jasad, tak ada kota, tak ada penutup. Kisah Percy Fawcett bertahan bukan karena kita tak tahu apa-apa, melainkan karena kita nyaris tahu segalanya, kecuali satu hal yang paling ingin kita ketahui.
Berikut ringkasan fakta tentang salah satu misteri penjelajahan paling awet abad ke-20 ini:
| Aspek | Fakta |
|---|---|
| Tokoh | Kolonel Percy Harrison Fawcett (lahir 1867, Torquay, Inggris) |
| Yang dicari | Lost City of Z, kota kuno di rimba Mato Grosso, Brasil |
| Rombongan | Percy Fawcett, putranya Jack, dan Raleigh Rimell |
| Berangkat | 20 April 1925 dari Cuiabá, Mato Grosso |
| Kabar terakhir | Surat 29 Mei 1925 dari Dead Horse Camp |
| Nasib | Lenyap tanpa jejak; jasad tak pernah ditemukan |
| Perkembangan | Situs Kuhikugu & LIDAR menguatkan adanya peradaban Amazon kuno |
Hampir seabad setelah asap api unggun itu padam di Mato Grosso, Lost City of Z dalam bentuk yang dibayangkan Fawcett belum juga ditemukan. Tetapi rimba yang menelannya kini perlahan mengungkap bahwa ia tak pernah benar-benar mengejar khayalan — hanya sesuatu yang datang terlalu cepat bagi zamannya, dan berakhir dengan harga yang tak pernah bisa ia bayar untuk pulang.
Pertanyaan yang Sering Ditanya
Siapa itu Percy Fawcett?
Percy Harrison Fawcett (lahir 1867 di Torquay, Inggris) adalah perwira dan penjelajah Inggris yang terkenal karena tujuh ekspedisi memetakan Amazon. Ia lenyap tanpa jejak pada 1925 saat mencari kota kuno yang ia sebut Lost City of Z, bersama putranya Jack dan sahabat Jack, Raleigh Rimell.
Apa itu Lost City of Z?
Lost City of Z adalah nama yang diberikan Fawcett untuk sebuah kota kuno yang ia yakini pernah berdiri di rimba Mato Grosso, Brasil. Keyakinannya sebagian berasal dari dokumen tua bernama Manuscript 512. “Z” sendiri awalnya hanya kode kerja di jurnalnya, bukan nama mistis.
Apa yang terjadi pada Percy Fawcett?
Tidak ada yang tahu pasti. Kabar terakhir adalah surat pada 29 Mei 1925 dari Dead Horse Camp. Setelah itu ia, Jack, dan Raleigh lenyap tanpa jejak. Teori-teorinya mencakup dibunuh suku pedalaman, kelaparan dan penyakit, hingga spekulasi ia memilih hidup di antara suku setempat.
Benarkah tulang Fawcett pernah ditemukan?
Pada 1952, Orlando Villas-Bôas mengklaim menemukan tulang Fawcett, tetapi analisis forensik menunjukkan tulang itu tidak cocok dengan ukuran tubuh Fawcett. Tetua Kalapalo, Vajuvi, kemudian membantah tulang itu milik Fawcett dan menyangkal keterlibatan sukunya.
Apakah Lost City of Z benar-benar ada?
Kota persis seperti yang dibayangkan Fawcett belum ditemukan. Namun arkeolog menemukan situs Kuhikugu di dekat Sungai Xingu, dan pemindaian LIDAR menguatkan bahwa Amazon pernah menampung pemukiman besar pra-Columbus — menunjukkan keyakinan dasar Fawcett tak sepenuhnya keliru.
Kenapa kisah Percy Fawcett begitu terkenal?
Karena menggabungkan penjelajah legendaris, kota kuno yang hilang, dan akhir yang tak pernah terpecahkan. Kisahnya menginspirasi buku The Lost City of Z karya David Grann, film, hingga karakter Indiana Jones.
Sumber
- Latar belakang, karier, dan status resmi hilangnya Fawcett, Wikipedia — en.wikipedia.org
- Tujuh ekspedisi, ekspedisi pencari yang tragis, dan bahaya rimba, HISTORY — history.com
- Isi dan asal-usul Manuscript 512, History Defined — historydefined.net
- Teori Z, situs Kuhikugu, dan pemindaian LIDAR, National Geographic — nationalgeographic.com
- Susunan rombongan kecil dan keyakinan pada teori Z, Missed History — missedhistory.com
- Keberangkatan 20 April 1925 dan surat terakhir dari Dead Horse Camp, Secrets of the Dead (PBS) — pbs.org
- Sejarah lisan Kalapalo dan teori pembunuhan oleh suku, Fawcett Disappearance — sonene.wixsite.com
- Kondisi sakit Jack dan Raleigh serta ancaman penyakit dan kelaparan, IFLScience — iflscience.com
- Teori “go native”, cincin di toko gadai 1979, dan spekulasi lain, Ancient Origins — ancient-origins.net
- Klaim tulang Villas-Bôas 1952, bantahan forensik, dan pernyataan Vajuvi, The Legacy Trove — thelegacytrove.com


