
Kesurupan massal pabrik Malaysia adalah rentetan peristiwa buruh perempuan Melayu muda yang tiba-tiba menjerit, meronta, dan mengaku dirasuki roh di lantai pabrik elektronik multinasional, terutama sepanjang era 1970-an hingga 1980-an. Gejalanya nyata dan menyebar cepat dari satu pekerja ke pekerja lain, namun pemeriksaan medis tak pernah menemukan penyebab fisik. Fenomena ini kini dikenal sebagai salah satu contoh paling khas dari histeria massal di tempat kerja.
Bayangkan sebuah ruang perakitan yang steril dan terang benderang. Ratusan perempuan muda duduk berjajar, menatap mikroskop, memasang komponen sekecil butiran pasir dengan gerakan yang sama, jam demi jam. Lalu tiba-tiba, salah seorang dari mereka menjerit. Tubuhnya kaku, matanya nanar, suaranya berubah. Ia mengaku bukan dirinya lagi. Dalam hitungan menit, jeritan itu menular ke meja sebelah, lalu ke seluruh ruangan.
Pemandangan seperti ini bukan adegan film horor, melainkan peristiwa nyata yang berulang kali mengguncang pabrik-pabrik modern di Malaysia dan Singapura. Bagi para pekerja, ini jelas ulah roh yang marah. Bagi manajemen asing yang kebingungan, ini masalah produksi yang harus segera dibereskan. Dan bagi para ilmuwan, ini teka-teki tentang bagaimana pikiran manusia bisa menciptakan wabah tanpa satu pun kuman terlibat.
Ketika Roh Menyerang Lantai Pabrik

Sepanjang tahun 1970-an dan 1980-an, Malaysia sedang bertransformasi dari negara agraris menjadi raksasa manufaktur. Perusahaan multinasional berbondong-bondong membangun pabrik di zona perdagangan bebas, menyerap puluhan ribu tenaga kerja muda. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan Melayu belia dari desa, yang untuk pertama kalinya meninggalkan kampung halaman demi bekerja di lingkungan industri yang asing.[1]
Di tengah lingkungan itulah wabah kesurupan meletus berulang kali. Seorang pekerja yang tadinya pendiam mendadak menjerit histeris, meronta dengan kekuatan yang seolah di luar batas normal, lalu jatuh dalam kondisi seperti tak sadarkan diri. Tak jarang ia berbicara dengan suara yang bukan miliknya, mengaku sebagai roh atau jin yang marah karena tempat kerja itu dianggap mengganggu wilayahnya.[2]
Yang paling mengganggu bagi manajemen adalah kecepatan penyebarannya. Pola menular lewat sugesti semacam ini juga terlihat pada wabah tertawa yang menjalar antar sekolah di Tanzania, tempat gejala berpindah dari satu orang ke orang lain tanpa kuman apa pun. Begitu satu orang kesurupan, pekerja di sekitarnya ikut terpengaruh, satu per satu, seakan roh itu berpindah dari tubuh ke tubuh. Dalam satu insiden, dilaporkan sampai puluhan pekerja terkena dalam satu waktu, memaksa seluruh lini produksi berhenti total.[3]
Bukan Cuma di Malaysia
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Di Singapura, seorang peneliti dari kementerian setempat mendokumentasikan setidaknya enam wabah serupa di berbagai pabrik antara tahun 1973 dan 1978. Lokasinya beragam: pabrik pengolahan makanan, perakitan elektronik, pembuatan baterai, hingga sebuah kantor pusat layanan telepon.[4]
Pola yang muncul mengejutkan karena begitu mirip: serangan menjerit dan mengamuk, kondisi seperti hilang kesadaran di mana pekerja mengaku dikuasai roh atau jin, serta rasa takut mendadak disertai tubuh yang terasa dingin, kaku, atau pening. Wabah biasanya berlangsung sekitar seminggu sebelum akhirnya mereda dengan sendirinya.[4]
Ketika Racun Jadi TersangkaMisteri Roti Beracun Pont-Saint-Esprit: Ketika Sedesa Kehilangan Akal
Kesamaan pola lintas negara dan lintas jenis pabrik inilah yang membuat para peneliti curiga bahwa penyebabnya bukan sesuatu yang khas di satu lokasi, melainkan sesuatu yang lebih mendasar dan berkaitan dengan kondisi kerja itu sendiri.
Para pekerja menyebut kondisi ini dengan istilah “kena hantu”. Dalam kepercayaan Melayu, kesurupan dipandang sebagai penyakit yang menyerang jiwa, bukan sekadar gangguan tubuh, sehingga penyembuhannya pun diyakini harus lewat pendekatan spiritual, bukan obat medis biasa.
Dua Cara Pandang yang Bertabrakan

Satu peristiwa, dua penafsiran yang sama sekali berbeda. Bagi para pekerja dan komunitas Melayu, penyebabnya jelas: pabrik-pabrik itu banyak dibangun di atas lahan yang dulunya hutan, kuburan, atau tanah yang dianggap keramat. Roh penunggu tempat itu merasa terusik oleh kehadiran mesin, kebisingan, dan manusia, lalu membalas dengan merasuki para pekerja.
Bagi manajemen perusahaan asing, penjelasan gaib itu sulit diterima. Mereka memandangnya sebagai masalah medis atau psikologis individu. Maka respons mereka pun bersifat klinis: pekerja yang kesurupan diisolasi, diberi obat penenang, lalu dipulangkan. Sayangnya, cara ini sering tidak berhasil; obat penenang kerap tak mampu menghentikan serangan.[5]
Akhirnya, banyak pabrik menyerah pada pendekatan lokal. Mereka memanggil bomoh atau pawang, dukun tradisional Melayu, untuk menggelar ritual pengusiran roh dan mempersembahkan sesajen demi menenangkan penunggu. Pemandangan ganjil pun terjadi: perusahaan teknologi tinggi asal Barat, yang membanggakan efisiensi dan sains, terpaksa mengandalkan ritual mistis demi menjaga jalannya produksi.
Apa Kata Sains?

Dari sudut pandang medis, rangkaian peristiwa ini dikenali sebagai penyakit psikogenik massal (mass psychogenic illness), atau yang lebih akrab disebut histeria massal. Ini adalah kondisi ketika sekelompok orang mengalami gejala fisik yang nyata, seperti menjerit, kejang, pingsan, atau sesak, tanpa ada penyebab organik seperti kuman, racun, atau kebocoran gas. Pemicunya bukan patogen, melainkan tekanan psikologis yang menumpuk.[6]
Wabah Serupa dari Abad SilamWabah Menari 1518: Ratusan Orang Menari Sampai Mati
Dan tekanan itu sangat nyata di pabrik-pabrik tersebut. Para pekerja menghadapi jam kerja panjang dengan sistem shift yang mengacaukan pola tidur, tugas berulang yang membutuhkan konsentrasi ekstrem seperti mengintip mikroskop berjam-jam, pengawasan ketat, serta upah rendah. Di atas itu semua, mereka adalah gadis desa yang tercerabut dari keluarga dan tradisi, dipaksa beradaptasi dengan disiplin industri yang kaku dan asing.
Menariknya, para peneliti mencatat bahwa kesurupan sering menyerang pekerja di bagian yang paling menuntut secara mental, seperti seksi mikroskop. Sebagian ahli memandang episode kesurupan ini sebagai semacam katup pelepasan: satu-satunya cara bagi perempuan muda yang tak berdaya untuk menyuarakan penderitaan mereka, dalam bahasa budaya yang dipahami dan tak bisa dihukum begitu saja oleh atasan.[2]
Penting dipahami, histeria massal bukan berarti para pekerja berbohong atau sengaja mencari perhatian. Gejala yang mereka alami betul-betul terjadi dan di luar kendali sadar. Yang membedakannya dari penyakit biasa hanyalah akar pemicunya: tekanan emosional dan sugesti sosial, bukan infeksi fisik.
Kenapa Ritual Bomoh Kadang Berhasil
Salah satu bagian paling menarik dari kisah ini adalah kenyataan bahwa ritual bomoh terkadang justru lebih efektif daripada obat penenang. Kalau penyebabnya psikologis, kenapa upacara mistis bisa menghentikan gejala?
Jawabannya justru memperkuat teori histeria massal. Karena wabah ini berakar pada kepercayaan dan sugesti bersama, maka “obat” yang paling manjur adalah sesuatu yang sesuai dengan kerangka kepercayaan itu. Peran sugesti yang sama juga tampak pada wabah tics massal di Le Roy, yang justru makin parah ketika para korban terus jadi pusat perhatian. Ketika bomoh datang dan menyatakan roh sudah diusir, para pekerja meyakini ancaman telah hilang. Keyakinan kolektif itulah yang meredakan ketegangan dan menghentikan penyebaran, sesuatu yang tak bisa dilakukan sebutir pil penenang.
Meski begitu, catatan peneliti menunjukkan ritual ini tidak selalu berhasil. Dalam beberapa kasus, kehadiran bomoh dan suasana ritual yang menegangkan malah memperparah wabah, karena semakin menegaskan bahwa “ada sesuatu yang gaib di sini”. Efektivitasnya sangat bergantung pada apakah ritual itu berhasil memulihkan rasa aman atau justru menambah ketakutan.
Gema yang Masih Terdengar
Wabah kesurupan di pabrik memang memuncak pada era 1970-80an, seiring booming industri elektronik. Namun fenomena serupa tak pernah benar-benar hilang. Hingga kini, kasus kesurupan massal masih sesekali dilaporkan di Malaysia, terutama di sekolah-sekolah asrama putri, dengan pola yang nyaris identik: berawal dari satu orang, lalu menyebar cepat ke yang lain.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini terasa akrab. Cerita kesurupan massal di sekolah, pabrik, atau asrama adalah hal yang lazim kita dengar, lengkap dengan sosok seperti kuntilanak yang di Malaysia dikenal sebagai pontianak. Kesamaan ini bukan kebetulan, melainkan menunjukkan bahwa akar fenomenanya, tekanan sosial yang dibalut kepercayaan bersama, melintasi batas negara.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Fenomena | Kesurupan massal / histeria massal di lantai pabrik |
| Puncak kejadian | Era 1970-an hingga 1980-an |
| Lokasi | Pabrik multinasional di zona perdagangan bebas Malaysia & Singapura |
| Korban utama | Buruh perempuan Melayu muda dari desa |
| Gejala | Menjerit, meronta, hilang kesadaran, mengaku dirasuki roh/jin, takut, tubuh kaku |
| Istilah lokal | “Kena hantu” |
| Respons manajemen | Isolasi + obat penenang (sering gagal), lalu memanggil bomoh/pawang |
| Penjelasan ilmiah | Penyakit psikogenik massal (mass psychogenic illness) akibat tekanan kerja |
Sebagai salah satu misteri dunia yang belum terpecahkan, kesurupan massal pabrik Malaysia adalah lebih dari sekadar cerita seram. Ia adalah cermin tentang bagaimana tubuh manusia bisa menyuarakan tekanan yang tak terucapkan, dan bagaimana sebuah masyarakat memahami penderitaan lewat bahasa yang paling mereka percayai. Misterinya bukan lagi “apakah ada hantunya”, melainkan pertanyaan yang lebih dalam tentang beban yang dipikul diam-diam oleh mereka yang paling tak bersuara.
Pertanyaan yang Sering Ditanya
Apa itu kesurupan massal pabrik Malaysia?
Kesurupan massal pabrik Malaysia adalah peristiwa di mana banyak buruh perempuan di pabrik, terutama pada era 1970-80an, tiba-tiba menjerit, meronta, dan mengaku dirasuki roh secara beramai-ramai. Secara ilmiah, ini dikenal sebagai histeria massal atau penyakit psikogenik massal.
Kenapa kesurupan massal banyak terjadi di pabrik?
Pabrik memenuhi kondisi ideal pemicunya: kelompok tertutup, pekerja di bawah tekanan tinggi, jam kerja panjang, tugas berulang yang menuntut konsentrasi, serta pekerja muda yang tercerabut dari keluarga. Tekanan psikologis ini bisa memunculkan gejala fisik yang menyebar lewat sugesti sosial.
Kenapa yang terkena kebanyakan perempuan muda?
Pada era booming industri, mayoritas buruh pabrik elektronik adalah perempuan Melayu muda dari desa. Mereka menghadapi tekanan ganda: disiplin kerja yang kaku sekaligus keterasingan dari kampung halaman dan tradisi, yang membuat mereka lebih rentan.
Kenapa ritual bomoh kadang lebih ampuh daripada obat?
Karena wabah ini berakar pada kepercayaan dan sugesti bersama, penyembuhan yang cocok dengan kerangka kepercayaan itu sering lebih manjur. Saat bomoh menyatakan roh telah diusir, rasa aman kolektif pulih dan ketegangan mereda. Namun ini tidak selalu berhasil dan kadang malah memperparah.
Apakah para pekerja hanya berpura-pura kesurupan?
Tidak. Gejala yang dialami benar-benar nyata dan di luar kendali sadar mereka. Histeria massal berbeda dari berpura-pura; pemicunya adalah tekanan emosional dan sugesti sosial, bukan kuman atau racun, dan bukan kepura-puraan.
Apakah fenomena ini masih terjadi sekarang?
Ya. Meski memuncak di era 1970-80an, kasus kesurupan massal masih sesekali dilaporkan hingga kini, terutama di sekolah asrama. Fenomena serupa juga umum terjadi di Indonesia, menunjukkan akar sosial-budaya yang melintasi batas negara.
Sumber
- Konteks industrialisasi dan masuknya buruh perempuan Melayu ke pabrik multinasional, eScholarship University of California — escholarship.org
- Analisis kesurupan sebagai bentuk perlawanan buruh perempuan (Aihwa Ong), Springer Nature — link.springer.com
- Deskripsi episode kesurupan dan respons manajemen di lantai pabrik, Semantic Scholar — semanticscholar.org
- Dokumentasi enam wabah histeria massal di pabrik Singapura 1973-1978 (W.H. Phoon), HandWiki — handwiki.org
- Respons manajemen (isolasi, obat penenang, pemanggilan bomoh), Marxists Internet Archive — marxists.org
- Penjelasan konsep histeria massal dan lingkungan pemicunya, NBC News — nbcnews.com


