Ngebahas

The Somerton Man: Misteri Mayat Tanpa Nama & Sandi Tamam Shud

Ilustrasi pria berjas cokelat yang tergeletak tak bernyawa di pantai berbatu, merepresentasikan penemuan misteri mayat tanpa nama The Somerton Man.
⏱ 10 menit baca
Bagikan

The Somerton Man adalah kasus mayat pria tak dikenal yang ditemukan di Pantai Somerton, Adelaide, Australia, pada 1 Desember 1948. Tubuhnya tanpa identitas, label bajunya disobek, dan di kantong tersembunyi celananya terselip secarik kertas bertuliskan “Tamam Shud”. Selama lebih dari 70 tahun, siapa dia dan bagaimana dia mati jadi salah satu teka-teki paling terkenal di dunia.

Pagi itu, 1 Desember 1948, dua joki muda yang sedang melatih kuda menyusuri Pantai Somerton di selatan Adelaide. Mereka melihat seorang pria bersandar di tembok laut, kepala menyandar, kaki menyilang rapi ke arah air. Tampak seperti orang yang tertidur menikmati laut. Tapi pria itu tidak bangun. Dia sudah meninggal, dan tak seorang pun tahu siapa dia.

Yang terlihat sederhana di permukaan itu justru menjadi awal dari salah satu misteri forensik paling membingungkan abad ke-20. Tidak ada dompet, tidak ada kartu identitas, tidak ada nama. Dan semakin polisi menggali, semakin banyak kejanggalan yang muncul, sampai kasus ini punya penggemar dan detektif amatir dari seluruh dunia yang mencoba memecahkannya selama puluhan tahun. Kasus ini dikenal dengan dua nama: The Somerton Man, diambil dari lokasi penemuannya, dan Tamam Shud case atau kasus Tamam Shud, dari secarik kertas misterius yang ditemukan di sakunya.

Seorang Pria Tanpa Satu Pun Petunjuk

Pria itu berpakaian rapi: kemeja putih, dasi, celana panjang, jas berbahan bagus, dan sepatu yang mengilap seolah baru disemir. Penampilannya tak cocok dengan seseorang yang menggelandang. Namun ada yang aneh. Di hari sepanas musim panas Australia, ia mengenakan mantel lengkap. Dan yang lebih ganjil lagi, semua label merek di pakaiannya telah dilepas dengan sengaja.

Otopsi memperdalam kebingungan. Organ dalamnya menunjukkan kondisi seperti keracunan, tapi tidak ada racun yang bisa dideteksi oleh teknologi saat itu. Isi perutnya menandakan ada sesuatu yang tak beres, limpanya membesar secara abnormal, dan darahnya menggenang dengan cara yang mengindikasikan kematian tak wajar. Tiga saksi ahli medis dalam sidang penyelidikan sepakat pada satu hal: kematian pria ini bukan kematian alami.[1] Tapi mereka tak bisa memastikan racun apa yang membunuhnya, kalau memang racun. Temuan forensik yang membingungkan seperti ini bukan hal baru dalam kasus dingin; penyidik rentetan pembunuhan mutilasi di Cleveland pun sempat dibuat frustrasi oleh bukti yang seakan menuntun ke mana-mana sekaligus tak ke mana-mana.

Polisi memeriksa sidik jarinya, mencocokkannya dengan catatan gigi, menyebarkan fotonya ke seluruh Australia bahkan ke luar negeri. Hasilnya nihil. Tidak ada yang mengenalinya. Seolah pria ini muncul begitu saja dari ketiadaan, lalu mati di tepi pantai tanpa meninggalkan jejak siapa dirinya.

Koper Misterius di Stasiun Kereta

Sekitar sebulan setelah penemuan mayat, polisi menemukan sebuah koper yang dititipkan di ruang penyimpanan Stasiun Kereta Adelaide pada 30 November 1948, sehari sebelum tubuhnya ditemukan. Isi koper itu diyakini milik sang pria misterius. Di dalamnya ada perkakas aneh untuk seorang pelancong biasa: kuas cukur, semir sepatu, pisau, gunting, dan sebuah obeng.

Sebagian pakaian di koper itu bertuliskan variasi nama “T. Keane” atau “Keane”. Sekilas ini seperti terobosan besar. Tapi penyelidikan menunjukkan tak ada orang bernama Keane yang hilang, dan besar kemungkinan nama itu bukan nama asli sang pria. Menariknya, seperti pada tubuhnya, sebagian besar label merek di pakaian dalam koper juga telah dilepas dengan cermat, seolah seseorang berusaha keras menghapus segala jejak identitas.

Satu detail kecil justru kelak jadi penting: di dalam koper ada gulungan benang jahit berwarna oranye yang tak lazim, jenis yang tak dijual di Australia saat itu. Benang itu persis sama dengan benang oranye yang dipakai untuk menjahit dan memperbaiki saku di pakaian sang pria.[1] Petunjuk yang menghubungkan koper dengan mayat, tapi tetap tak menjawab pertanyaan utama: siapa dia?

Perlu Diketahui

Kebiasaan melepas label pakaian tidak otomatis berarti aksi mata-mata. Sebagian orang melakukannya karena membeli pakaian bekas, karena label mengganggu, atau alasan pribadi lain. Namun dikombinasikan dengan tak adanya identitas sama sekali, detail ini memicu spekulasi liar selama puluhan tahun.

“Tamam Shud”: Kata Terakhir dari Sebuah Buku

Ilustrasi buku kuno Rubaiyat of Omar Khayyam dan gulungan kertas usang yang sobek, merepresentasikan penemuan petunjuk frasa Tamam Shud pada kasus The Somerton Man.

Pada Mei 1949, ahli patologi John Cleland memeriksa ulang jenazah dan pakaian sang pria. Di sebuah saku kecil tersembunyi di dalam celananya, yang sempat terlewat sebelumnya, ia menemukan secarik kertas yang tergulung rapat. Di atasnya tercetak dua kata dalam huruf yang indah: Tamam Shud.

Frasa itu berasal dari bahasa Persia, artinya kurang lebih “telah selesai” atau “berakhir sudah”. Kata-kata itu adalah baris penutup dari Rubaiyat karya Omar Khayyam, kumpulan puisi Persia abad ke-11 yang terkenal. Kertas itu jelas disobek dari sebuah buku. Pertanyaannya, dari buku yang mana?

Polisi menyebarkan permintaan bantuan ke publik. Tak lama, seorang pria melapor bahwa ia menemukan sebuah salinan langka Rubaiyat yang tergeletak di jok belakang mobilnya yang tak terkunci, terparkir di dekat Pantai Somerton sekitar waktu kematian sang pria. Dan benar saja, di halaman terakhir buku itu, bagian bertuliskan “Tamam Shud” telah disobek. Sobekannya cocok sempurna dengan kertas di saku sang pria.[2]

Kode Rahasia yang Tak Pernah Terpecahkan

Ilustrasi kaca pembesar menyorot tulisan samar di sampul buku, merepresentasikan teka-teki kode rahasia The Somerton Man yang tak pernah terpecahkan.

Buku Rubaiyat itu menyimpan kejutan lain. Di sampul belakangnya, tertulis samar dengan pensil, ada deretan huruf kapital yang tampak seperti kode. Barisnya kira-kira seperti ini: WRGOABABD, MLIAOI, WTBIMPANETP, dan seterusnya. Sekilas seperti kode rahasia, tapi tak ada yang bisa memecahkan artinya.

Selama puluhan tahun, ahli sandi amatir maupun profesional mencoba membongkar deretan huruf itu. Ada yang menduga itu kode intelijen, ada yang menganggapnya inisial dari sebuah kalimat, ada pula yang mengaitkannya dengan sistem enkripsi militer. Bahkan badan intelijen dan pemecah sandi angkatan laut pernah melihatnya, tapi tak ada kesimpulan pasti. Sampai hari ini, arti deretan huruf itu tetap gelap.

Di halaman yang sama juga tertulis sebuah nomor telepon. Nomor itu mengarah ke seorang perawat muda yang tinggal tak jauh dari Pantai Somerton. Ketika ditunjukkan cetakan wajah sang pria, perawat itu disebut tampak sangat terguncang, bahkan hampir pingsan menurut sebagian saksi. Namun ia bersikeras tak mengenal pria itu. Sikapnya yang penuh teka-teki ini kelak menjadi bahan bakar utama bagi teori-teori paling liar dalam kasus ini.

Kenapa Kasus Ini Begitu Memikat

Gabungan elemennya nyaris seperti novel misteri: mayat tanpa identitas, racun yang tak terdeteksi, sandi yang tak terpecahkan, buku puisi Persia, dan seorang perawat yang bereaksi aneh. Semua ini terjadi di puncak awal Perang Dingin, saat dunia dipenuhi paranoia soal mata-mata. Tak heran imajinasi publik langsung meledak.

Teori-Teori yang Bermunculan

Selama lebih dari tujuh dekade, kasus ini melahirkan begitu banyak teori. Karena terjadi di masa Perang Dingin, karena ada sandi misterius, dan karena racun yang tak terdeteksi, teori paling populer tentu saja: sang pria adalah seorang mata-mata. Mungkin agen Soviet, mungkin kurir intelijen, yang dibungkam dengan racun canggih yang tak meninggalkan jejak. Kekosongan jawaban semacam ini kerap mengundang spekulasi liar, sebuah pola yang juga menyelimuti pembantaian keluarga di pertanian Hinterkaifeck selama seabad.

Teori lain lebih personal. Ada yang menduga ia korban cinta yang tragis, diracun oleh kekasih atau seseorang yang mengenalnya, dengan sang perawat sebagai kunci yang menyimpan rahasia. Ada pula spekulasi bahwa ia bunuh diri, memilih mati dengan tenang di tepi pantai sambil menyelipkan “Tamam Shud”, “berakhir sudah”, sebagai pesan perpisahan puitis. Sebagian bahkan menghubungkannya dengan dunia penyelundupan.

Kasus Dingin yang MelegendaMisteri Black Dahlia: Pembunuhan Hollywood yang Tak Pernah Terpecahkan

Masalahnya, tidak satu pun teori ini bisa dibuktikan. Selama puluhan tahun kasus ini mengambang di antara fakta dan legenda, dibumbui imajinasi tiap generasi baru yang menemukannya. Yang benar-benar dibutuhkan hanya satu hal mendasar yang tak kunjung didapat: nama sang pria.

Terobosan Itu Akhirnya Datang: DNA dan Sebuah Nama

Ilustrasi siluet pria di pemakaman yang dikelilingi untaian DNA bercahaya ungu, merepresentasikan terungkapnya identitas asli The Somerton Man sebagai Carl Webb melalui tes genetik forensik.

Selama bertahun-tahun, seorang peneliti bernama Derek Abbott, fisikawan dan insinyur dari University of Adelaide, terobsesi memecahkan kasus ini. Ia yakin jawabannya ada di DNA. Terobosannya justru datang dari sumber tak terduga: seuntai rambut yang terperangkap di topeng kematian plester sang pria, cetakan wajah yang dibuat sebelum ia dimakamkan pada 1949. Dari rambut itulah Abbott mengekstraksi DNA dengan teknologi modern. Secara terpisah, pihak kepolisian Australia Selatan juga menggali kembali jenazah dari Pemakaman West Terrace pada Mei 2021 untuk pengambilan sampel DNA versi mereka sendiri.[3]

Abbott bekerja sama dengan Colleen Fitzpatrick, seorang genealogis forensik ternama asal Amerika Serikat yang ahli melacak identitas lewat pohon keluarga genetik. Dengan menggabungkan DNA sang pria dan basis data silsilah keluarga, mereka menelusuri jejaknya cabang demi cabang. Pada 26 Juli 2022, Abbott mengumumkan hasilnya: The Somerton Man adalah Carl “Charles” Webb, seorang insinyur listrik dan pembuat instrumen kelahiran Melbourne tahun 1905.[4]

Setelah 74 tahun, sang pria tanpa nama akhirnya punya nama. Webb ternyata bukan mata-mata eksotis, bukan agen rahasia, melainkan seorang pria biasa dari Melbourne yang menghilang dari catatan publik sekitar April 1947. Ia diketahui gemar bertaruh pada pacuan kuda dan menyukai puisi, bahkan menulis puisinya sendiri, detail yang mungkin menjelaskan kenapa “Tamam Shud” dari buku puisi begitu bermakna baginya.[5]

Catatan Penting

Identifikasi ini berasal dari penelitian genetik Derek Abbott dan Colleen Fitzpatrick, bukan pengumuman resmi kepolisian. Saat kabar ini muncul, pihak Forensic Science SA dan kepolisian belum memverifikasi temuan tersebut secara resmi. Namun basis silsilah genetik yang digunakan tergolong metode yang sama dengan yang memecahkan banyak kasus dingin di dunia.

Misteri yang Tetap Tersisa

Menemukan nama Carl Webb menutup satu bab besar, tapi anehnya justru membuka banyak pertanyaan baru. Kalau ia bukan mata-mata, kenapa semua label bajunya dilepas? Kenapa ia berada di Adelaide, jauh dari rumahnya di Melbourne? Bagaimana persisnya ia mati, apakah benar racun, dan kalau ya, racun apa yang sampai kini tak teridentifikasi?

Mayat Tanpa Nama LainnyaIsdal Woman: Misteri Mayat Terbakar di Lembah Es Norwegia

Petunjuk yang muncul dari kehidupan Webb memberi arah baru. Catatan menunjukkan ia berpisah dari istrinya, yang mengajukan perpisahan. Ada kemungkinan Webb datang ke Adelaide dalam kondisi tertekan secara emosional, mungkin mencoba memulai hidup baru, mengejar seseorang, atau melarikan diri dari masa lalunya. Teori yang lebih personal dan menyedihkan ini kini terasa lebih masuk akal ketimbang drama spionase.

Namun sandi di sampul Rubaiyat masih belum terpecahkan sampai hari ini. Reaksi sang perawat tak pernah benar-benar dijelaskan sebelum ia wafat. Dan sebab pasti kematian Webb tetap kabur. Kita akhirnya tahu siapa dia, tapi bagaimana dan kenapa dia mati di tepi pantai itu mungkin akan selamanya jadi rahasia yang ia bawa pergi.

Ringkasan Kronologi Kasus

WaktuPeristiwa
1 Des 1948Mayat pria ditemukan di Pantai Somerton, Adelaide
Des 1948Koper misterius ditemukan di Stasiun Kereta Adelaide
Mei 1949Kertas “Tamam Shud” ditemukan di saku tersembunyi
1949Buku Rubaiyat dengan kode & nomor telepon ditemukan
Mei 2021Jenazah digali kembali untuk analisis DNA
26 Jul 2022Diidentifikasi sebagai Carl “Charles” Webb

Kisah semacam ini bukan satu-satunya; ada pula misteri anak tanpa nama yang baru terpecahkan lewat DNA puluhan tahun kemudian. The Somerton Man mengajarkan sesuatu yang menarik tentang misteri: kadang jawaban yang kita kejar selama puluhan tahun ternyata lebih sederhana, dan lebih manusiawi, daripada teori-teori spektakuler yang kita bangun. Di balik sosok “mata-mata dengan sandi rahasia”, ada seorang pria yang kesepian, patah hati, dan jauh dari rumah. Namun sebagian teka-tekinya, sandi dan sebab kematiannya, tetap menolak untuk terpecahkan.


Pertanyaan yang Sering Ditanya

Apakah identitas The Somerton Man sudah diketahui?

Ya, pada 2022 peneliti Derek Abbott dan genealogis Colleen Fitzpatrick mengidentifikasinya sebagai Carl “Charles” Webb lewat analisis DNA dan silsilah genetik. Namun sebab kematian dan arti sandinya masih menjadi misteri.

Apa arti “Tamam Shud”?

Frasa Persia yang berarti “telah selesai” atau “berakhir sudah”. Kata itu adalah baris penutup dari Rubaiyat karya Omar Khayyam, dan disobek dari sebuah buku lalu diselipkan di saku tersembunyi sang pria.

Apakah kodenya sudah dipecahkan?

Belum. Deretan huruf kapital yang ditulis dengan pensil di sampul belakang buku Rubaiyat tetap tak terpecahkan hingga kini, meski sudah diteliti banyak ahli sandi selama puluhan tahun.

Apakah dia benar-benar seorang mata-mata?

Tidak ada bukti untuk itu. Teori mata-mata populer karena kasus ini terjadi di era Perang Dingin. Setelah identitasnya terungkap sebagai insinyur listrik biasa dari Melbourne, teori spionase kehilangan dasar.

Bagaimana dia meninggal?

Sampai kini belum pasti. Pemeriksaan menyimpulkan kematian tidak wajar, kemungkinan akibat racun, tetapi jenis racunnya tak pernah bisa diidentifikasi dengan teknologi saat itu maupun setelahnya.


Sumber

  1. Hasil sidang penyelidikan & kesimpulan kematian tidak wajar; koper di Stasiun Kereta Adelaide, nama “Keane”, & benang oranye pencocok, Smithsonian Magazine — smithsonianmag.com
  2. Penemuan kertas “Tamam Shud” & buku Rubaiyat yang cocok, Adelaide AZ — adelaideaz.com
  3. Penggalian jenazah untuk DNA (Mei 2021), ABC News — abc.net.au
  4. Identifikasi sebagai Carl “Charles” Webb (26 Juli 2022), CNN — cnn.com
  5. Latar belakang Carl Webb (penyuka puisi & pacuan kuda, berpisah dari istri), StrangeOutdoors — strangeoutdoors.com
Andrya Nabil Fauzan
Ditulis oleh
SEO Specialist & Penulis

Andrya Nabil Fauzan adalah SEO Specialist yang menekuni dunia digital sejak 2021. Ia terbiasa membangun dan mengelola website di berbagai CMS — dari sisi on-page, off-page, hingga technical SEO — dan juga menangani periklanan digital lewat Meta Ads, TikTok Ads, serta Google Ads. Ketertarikannya melintasi banyak hal: film, game, investasi, misteri, dan tips sehari-hari. Lewat Ngebahas, ia menuangkan rasa penasaran itu jadi tulisan yang santai, jujur, dan enak diikuti.

Tinggalkan Komentar

Cukup isi nama buat komentar.

Scroll to Top