
Axeman of New Orleans adalah julukan bagi pembunuh berantai tak dikenal yang meneror kota New Orleans, Louisiana, antara Mei 1918 dan Oktober 1919. Ia menyusup ke rumah korban di malam hari — sebagian besar pedagang kelontong keturunan Italia — lalu menyerang mereka dengan kapak milik korban sendiri. Setidaknya enam orang tewas, dan identitas pelaku tak pernah terungkap. Kasusnya paling dikenang karena sebuah surat aneh yang menuntut warga memainkan musik jazz agar selamat.
Bayangkan sebuah kota yang, pada satu malam di tahun 1919, dipenuhi suara musik dari hampir setiap rumah. Bukan karena pesta atau perayaan, melainkan karena ketakutan. Malam itu, ribuan warga New Orleans menyalakan piano, meniup terompet, dan menghidupkan band jazz sampai pagi — semata karena seorang pembunuh berkirim surat, berjanji hanya akan mengampuni mereka yang “berjazz” saat ia datang.
Inilah salah satu peristiwa paling ganjil dalam sejarah kriminal Amerika, dan di baliknya berdiri sosok yang tak pernah tertangkap: sang Axeman — pembunuh anonim yang mencengkeram seluruh kota dengan teror, seperti kelak terjadi pada misteri Jack the Stripper di London.
Teror yang Datang Lewat Pintu Belakang

Rangkaian teror dimulai pada dini hari 23 Mei 1918. Joseph Maggio, seorang pedagang kelontong keturunan Italia, dan istrinya Catherine ditemukan bersimbah darah di kamar tidur mereka. Leher keduanya digorok dengan pisau cukur, tengkorak mereka retak dihantam kapak. Sang pelaku masuk dengan memahat lubang di panel pintu belakang, memakai kapak yang ditemukannya di properti korban, lalu menghilang tanpa mengambil apa pun.[1]
Pola itu berulang sepanjang 1918 hingga 1919. Louis Besumer dan Harriet Lowe diserang di belakang toko kelontong pada Juni 1918. Pada Maret 1919, giliran keluarga Cortimiglia di Gretna: bocah perempuan mereka yang baru berusia dua tahun, Mary, tewas, sementara kedua orang tuanya — Charles dan Rosie — terluka parah namun selamat.
Korban demi korban berjatuhan dengan pola yang nyaris identik: penyusupan tengah malam lewat pintu belakang, senjata kapak milik korban sendiri, dan tidak ada barang yang dicuri. Pola berulang yang menjadi “tanda tangan” seperti ini juga muncul di kasus lain — pada misteri Bible John, misalnya, korban selalu ditemui di aula dansa yang sama.[2] Perampokan jelas bukan motifnya — dan itulah yang membuat teror ini begitu membingungkan sekaligus menakutkan.
Deskripsi yang bisa diberikan para korban selamat sangat minim: hanya “seorang pria bertubuh besar berkulit gelap.” Cara masuknya yang lewat lubang kecil di pintu justru memunculkan dugaan sebaliknya — bahwa pelakunya bertubuh ramping. Minimnya deskripsi yang bisa dipercaya membuat pelaku tak pernah teridentifikasi — persoalan yang sama menghantui misteri Monster of Florence, tempat pelaku beraksi selama bertahun-tahun tanpa wajah yang pasti.
Perkiraan jumlah korban Axeman pun bervariasi antar-sumber, dari sekitar enam hingga belasan tewas, karena beberapa serangan lama sempat dikaitkan lalu dibantah.[3]
Jumlah pasti korban Axeman sulit dipastikan. Sumber menyebut antara 6 hingga 17 orang diserang dan 6 hingga 12 tewas selama rentang 1918–1919. Perbedaan ini muncul karena pers pada masa itu sempat mengaitkan sejumlah serangan lama (bahkan sejak 1910–1911) dengan Axeman, sebagian di antaranya kemudian diragukan oleh peneliti modern.
Sebelum 1918: Jejak Teror yang Lebih Tua
Meski teror Axeman paling dikenang lewat rentetan pembunuhan 1918 hingga 1919, benihnya mungkin sudah ditanam hampir satu dekade sebelumnya. Beberapa peneliti menautkan serangkaian serangan terhadap pedagang Italia di New Orleans pada awal 1910-an dengan pola yang serupa, meski keterkaitannya sampai kini masih diperdebatkan.[1]
Salah satu kisah paling awal terjadi pada 20 September 1910, ketika Conchetta dan Joseph Rissetto terbangun di kamar mereka di kawasan Seventh Ward. Seorang penyusup masuk lewat jendela dapur yang tak terkunci, lalu menyerang keduanya dengan kapak pemotong daging yang dicuri dari toko mereka sendiri. Pasangan itu selamat, tetapi Conchetta mengalami cacat wajah permanen dan Joseph kehilangan penglihatan di satu matanya. Sama seperti serangan-serangan yang kelak menyusul, pelaku tak mengambil apa pun — bahkan uang tunai di kasir dibiarkan utuh.[3]
Pada Mei 1912, pasangan pedagang Italia bernama Anthony dan Johanna Sciambra diserang saat tidur di rumah mereka — kali ini dengan tembakan, bukan kapak. Johanna meninggal sepuluh hari kemudian akibat luka tembaknya. Justru perbedaan modus inilah yang membuat keterkaitan kasus mereka dengan Axeman diperdebatkan. Namun Nyonya Sciambra belakangan dirujuk dalam pesan kapur misterius di dekat lokasi pembunuhan Maggio — sebuah petunjuk yang menautkan gelombang awal ini dengan teror yang meledak pada 1918.[1] Bagi sebagian penyelidik masa itu, rentetan serangan terhadap pedagang Italia sepanjang 1910–1912 — sebagian dengan kapak lewat pintu belakang, sebagian dengan tembakan, semuanya tanpa motif perampokan — terlalu mencolok untuk dianggap kebetulan belaka.
Untuk melihat betapa kaburnya batas kasus ini, tabel berikut merangkum korban yang paling sering dikaitkan dengan Axeman — baik dari gelombang awal yang masih diperdebatkan maupun rentetan utama 1918–1919, lengkap dengan nasib masing-masing.
| Nama | Tanggal | Fase | Status |
|---|---|---|---|
| Conchetta & Joseph Rissetto | 20 Sep 1910 | Awal (dugaan) | Selamat (cacat permanen) |
| Anthony & Johanna Sciambra | Mei 1912 | Awal (dugaan, ditembak) | Johanna tewas |
| Joseph & Catherine Maggio | 23 Mei 1918 | Utama | Tewas |
| Louis Besumer | 27 Jun 1918 | Utama | Selamat |
| Harriet Lowe | 27 Jun 1918 | Utama | Tewas (5 Agu 1918) |
| Anna Schneider | 5 Agu 1918 | Utama | Selamat |
| Joseph Romano | 10 Agu 1918 | Utama | Tewas (2 hari kemudian) |
| Charles & Rosie Cortimiglia | 10 Mar 1919 | Utama | Selamat |
| Mary Cortimiglia (2 th) | 10 Mar 1919 | Utama | Tewas |
| Steve Boca | 10 Agu 1919 | Utama | Selamat |
| Sarah Laumann | Sep 1919 | Utama (dugaan) | Selamat |
| Mike Pepitone | 27 Okt 1919 | Utama | Tewas |
Angka pasti tak akan pernah kita tahu. Sebagian nama di atas dikaitkan dengan Axeman hanya berdasarkan kemiripan modus, dan justru ketidakpastian inilah yang membuat kasusnya terus hidup dalam perdebatan hingga hari ini.
Surat dari “Neraka Terpanas”

Pada 13 Maret 1919, surat kabar Times-Picayune menerbitkan sebuah surat yang mengaku ditulis oleh sang pembunuh. Surat itu dibuka dengan sapaan “Esteemed Mortal” (Wahai Manusia Fana) dan mencantumkan tempat penulisan “From Hell” (Dari Neraka) — meniru surat terkenal yang dikirim Jack the Ripper. Isinya theatrical dan mengerikan sekaligus: sang penulis mengklaim dirinya bukan manusia, melainkan roh dan iblis dari neraka terpanas.[4]
Lalu datang bagian yang membuat kasus ini melegenda. Sang Axeman menyatakan akan membunuh lagi pada 15 menit lewat tengah malam, 19 Maret — tetapi ia berjanji akan mengampuni setiap rumah yang di dalamnya sedang dimainkan musik jazz. Dengan kata lain: berjazz malam itu, atau kena kapak.
Kota itu menanggapinya dengan cara yang tak terbayangkan hari ini. Malam 19 Maret 1919, setiap aula dansa di New Orleans penuh sesak, dan band profesional maupun amatir memainkan jazz di ratusan rumah di seluruh kota. Tidak ada satu pun pembunuhan malam itu. Apakah karena sang pembunuh benar-benar terhibur, atau karena ia memang tak berniat menyerang, tak ada yang tahu. Yang pasti, malam itu menorehkan salah satu momen paling surreal dalam sejarah kota.[5]
Banyak sejarawan meragukan keaslian surat jazz tersebut. Salah satu teori menyebut surat itu kemungkinan buatan Joseph John Davilla, seorang musisi jazz yang justru merilis lagu “The Axman’s Jazz (Don’t Scare Me Papa)” tak lama setelah malam 19 Maret — sebuah dugaan aksi promosi yang cerdik memanfaatkan histeria kota. Baik asli maupun tidak, surat itu telanjur menjadi bagian tak terpisahkan dari legenda Axeman.
Kenapa Selalu Pedagang Italia?

Ada satu benang merah yang jauh lebih konsisten daripada kecintaan pada jazz: mayoritas korban Axeman adalah imigran Italia — khususnya keturunan Sisilia — yang bekerja sebagai pedagang kelontong. Pola ini begitu menonjol sehingga banyak yang menduga motif sebenarnya bukan kegilaan acak, melainkan sesuatu yang jauh lebih membumi: kekerasan terorganisir.[6]
Kembarannya di TexasMisteri Servant Girl Annihilator: Teror Pembunuh Tak Dikenal di Austin Sebelum Jack the Ripper
New Orleans awal abad ke-20 adalah kota dengan komunitas imigran Italia yang besar sekaligus ketegangan xenofobia yang tinggi. Mafia Sisilia hadir di kota itu, dan sejumlah surat kabar pada masa itu terang-terangan menyiratkan bahwa pembunuhan ini adalah bagian dari “vendetta” — balas dendam ala Italia — atau praktik pemerasan (protection racket) terhadap para pedagang. Ketika pasangan seperti keluarga Rissetto diserang, koran lokal secara sengaja mencatat bahwa korban “berdarah Italia,” sebuah kode yang dipahami semua orang saat itu.
Namun teori ini pun tak sempurna. Tidak semua korban Axeman adalah orang Italia atau pedagang kelontong, dan sebagian serangan tampak terlalu acak untuk sekadar operasi mafia yang terencana. Kemungkinan yang tersisa justru lebih meresahkan: bahwa teror ini adalah campuran dari kekerasan nyata, prasangka rasial, dan histeria kota yang membesar-besarkan hingga sulit memisahkan mana fakta dan mana ketakutan kolektif.
Nama yang Terus Muncul: Joseph Mumfre
Dari sekian banyak tersangka, satu nama paling sering disebut: Joseph Mumfre (dieja pula Momfre, Monfre, atau Manfre). Ia disebut-sebut sebagai anggota geng pemeras yang menargetkan orang Italia di New Orleans, dan namanya muncul sebagai tersangka utama dalam penembakan pasangan Sciambra pada 1912 — yang oleh sebagian orang dianggap korban awal Axeman.[7]
Kecurigaan terhadap Mumfre bukan tanpa dasar. Ia disebut sempat mendekam di penjara pada rentang waktu ketika serangan Axeman terhenti, lalu kembali bebas tak lama sebelum pembunuhan berlanjut — pola yang bagi sebagian penyelidik terlalu pas untuk dianggap kebetulan.[7] Kecurigaan itu bahkan berujung pada kematian Mumfre sendiri di tangan seseorang yang meyakini dialah pelakunya — kisah yang begitu rapi hingga penulis kriminal Colin Wilson sempat menjadikannya “solusi” kasus Axeman.
Sayangnya, cerita rapi itu retak saat diperiksa. Peneliti modern menemukan bahwa tak ada catatan polisi atau pengadilan yang mengkonfirmasi kematian Mumfre di Los Angeles seperti yang diklaim koran 1921. “Momfre” ternyata nama yang umum di New Orleans saat itu, sehingga sulit memastikan identitas orangnya. Bahkan penulis Miriam C. Davis, dalam riset menyeluruhnya, menyimpulkan bahwa Mumfre kemungkinan besar keliru dituduh sebagai Axeman. Tersangka yang paling menggoda ini pun akhirnya menguap menjadi legenda urban.[3]
Kisah Axeman kerap dibandingkan dengan Jack the Ripper yang meneror London tiga dekade sebelumnya. Keduanya sama-sama pembunuh anonim yang mengirim surat menantang ke surat kabar, sama-sama membuat polisi kewalahan, dan sama-sama tak pernah tertangkap. Bedanya, surat Axeman menuntut jazz — sentuhan khas kota kelahiran musik itu.
Teror yang Berhenti Tanpa Penjelasan

Serangan terakhir yang secara resmi dikaitkan dengan Axeman terjadi pada 27 Oktober 1919, menimpa Mike Pepitone yang dibunuh di rumahnya. Istrinya sempat melihat sekilas sesosok bayangan berkapak melarikan diri ke dalam gelap sebelum lenyap — dan setelah malam itu, teror pun berhenti sama mendadaknya seperti saat ia datang.
Justru dari istri Pepitone itulah kasus ini mendapat satu-satunya “penutup” yang pernah ada. Dua tahun setelah suaminya terbunuh, perempuan itu — Esther Albano — muncul di Los Angeles dan menembak mati Joseph Mumfre, tersangka yang namanya terus membayangi penyelidikan, karena yakin dialah sang pembunuh. Sejak saat itu, tak pernah ada lagi serangan yang dikaitkan dengan Axeman. Bagi sebagian orang, tewasnya Mumfre seolah menjelaskan segalanya — tetapi karena keterlibatannya tak pernah benar-benar terbukti, berhentinya teror ini pun tinggal menjadi satu lagi pertanyaan tanpa jawaban: tak ada penangkapan, tak ada pengakuan, tak ada penjelasan yang pasti.
Sang Legenda dari WhitechapelMisteri Jack the Ripper: Teror Whitechapel yang Tak Pernah Terpecahkan
Lebih dari satu abad kemudian, Axeman of New Orleans tetap menjadi salah satu kasus pembunuhan berantai tak terpecahkan paling terkenal di Amerika.
Kasusnya kini kerap disebut sederet dengan kasus tanpa jawaban lain seperti misteri The Doodler di San Francisco. Apakah ia seorang pembunuh gila, algojo mafia, atau sekadar beberapa kejahatan tak berhubungan yang dijalin menjadi satu legenda oleh kota yang ketakutan — kita mungkin tak akan pernah tahu. Yang tersisa hanyalah gambaran sebuah kota yang, selama satu malam, menari untuk menghindari kematian.
Ringkasan Fakta Kasus
| Aspek | Fakta |
|---|---|
| Lokasi | New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat |
| Rentang waktu | 23 Mei 1918 – 27 Oktober 1919 |
| Jumlah korban | Sekitar 6–12 tewas, 6–17 diserang (bervariasi antar-sumber) |
| Target utama | Pedagang kelontong keturunan Italia/Sisilia |
| Senjata | Kapak milik korban sendiri; kadang pisau cukur |
| Modus masuk | Memahat lubang di panel pintu belakang |
| Ciri khas | Surat “jazz” ke Times-Picayune, 13 Maret 1919 |
| Tersangka utama | Joseph Mumfre (kemungkinan keliru dituduh) |
| Status | Tak terpecahkan hingga kini |
Dari semua misteri yang lahir di New Orleans, tak ada yang lebih memadukan horor dan keanehan seperti sang Axeman — pembunuh yang meninggalkan mayat dan sebuah playlist, lalu lenyap ke dalam sejarah tanpa pernah menunjukkan wajahnya.
Pertanyaan yang Sering Ditanya
Siapa itu Axeman of New Orleans?
Axeman of New Orleans adalah julukan bagi pembunuh berantai tak dikenal yang aktif di New Orleans, Louisiana, antara Mei 1918 dan Oktober 1919. Ia menyerang korban dengan kapak di malam hari, sebagian besar korbannya adalah pedagang kelontong keturunan Italia, dan identitasnya tak pernah terungkap.
Apa isi surat jazz Axeman?
Pada 13 Maret 1919, sebuah surat yang mengaku dari Axeman diterbitkan Times-Picayune. Sang penulis mengaku sebagai iblis dari neraka dan berjanji akan membunuh lagi pada malam 19 Maret, kecuali di rumah-rumah yang memainkan musik jazz. Malam itu seluruh kota memainkan jazz dan tak ada pembunuhan terjadi.
Apakah surat jazz itu asli?
Tidak dapat dipastikan. Banyak sejarawan meragukan keasliannya. Salah satu teori menyebut surat itu mungkin buatan musisi Joseph Davilla yang lalu merilis lagu bertema Axeman — diduga sebagai aksi promosi yang memanfaatkan ketakutan kota. Baik asli maupun tidak, surat itu menjadi bagian ikonik dari kasus ini.
Siapa tersangka utama kasus Axeman?
Tersangka yang paling sering disebut adalah Joseph Mumfre (Momfre), seorang pria dengan riwayat kriminal dan kaitan ke kejahatan terorganisir. Namun peneliti modern menyimpulkan bahwa bukti terhadapnya lemah dan ia kemungkinan keliru dituduh. Kasusnya tetap tak terpecahkan.
Kenapa korban Axeman kebanyakan orang Italia?
Mayoritas korban adalah imigran Italia/Sisilia yang berdagang kelontong, memunculkan teori bahwa motifnya terkait mafia, vendetta, atau pemerasan terhadap komunitas Italia — bukan sekadar pembunuhan acak. Namun karena tidak semua korban orang Italia, teori ini pun tak sepenuhnya menjelaskan kasusnya.
Apakah Axeman pernah tertangkap?
Tidak. Serangan terakhir terjadi pada 27 Oktober 1919, lalu teror itu berhenti mendadak tanpa penangkapan, pengakuan, atau penjelasan. Identitas Axeman tetap menjadi misteri hingga lebih dari seabad kemudian.
Sumber
- Profil kasus, rentang waktu, dan modus operandi Axeman of New Orleans, Wikipedia — en.wikipedia.org
- Kronologi serangan dan detail korban termasuk bocah dua tahun, People — yahoo.com
- Analisis jumlah korban, detail serangan awal keluarga Rissetto (1910), dan kesimpulan riset Miriam C. Davis, Country Roads Magazine — countryroadsmagazine.com
- Isi lengkap surat jazz dan konteks penerbitannya, American Songwriter — americansongwriter.com
- Malam jazz 19 Maret 1919 dan koleksi partitur “Axman’s Jazz”, Historic New Orleans Collection — hnoc.org
- Pola korban pedagang Italia dan teori vendetta/mafia, Historic Mysteries — historicmysteries.com
- Teori tersangka Joseph Mumfre dan kaitan kejahatan terorganisir, Criminal Minds Wiki — criminalminds.fandom.com


