
Yong Yu Sing No. 18 adalah kapal ikan tuna Taiwan yang kehilangan kontak pada 30 Desember 2020 di Samudra Pasifik dekat Midway Atoll. Kapal ditemukan mengambang beberapa hari kemudian, tetapi kesepuluh awaknya, seorang kapten Taiwan dan sembilan pelaut Indonesia, lenyap tanpa jejak. Nasib mereka belum terpecahkan hingga kini.
Pada penghujung Desember 2020, sebuah kapal ikan tuna Taiwan bernama Yong Yu Sing No. 18 sedang bekerja jauh di tengah Samudra Pasifik, ribuan kilometer dari daratan terdekat. Di atasnya ada sepuluh orang: seorang kapten asal Taiwan bermarga Lee dan sembilan pelaut asal Indonesia yang mencari nafkah di lautan asing. Hari-hari mereka diisi rutinitas keras seorang nelayan laut dalam, sampai kontak dengan kapal itu tiba-tiba terputus.
Ketika kapal akhirnya ditemukan, lambungnya masih utuh mengambang di permukaan, tetapi geladaknya kosong melompong. Kesepuluh awak lenyap tanpa satu pun menyisakan penjelasan, seakan ditelan lautan yang mengelilingi mereka. Bertahun-tahun kemudian, sebuah temuan tak terduga di pantai Irlandia justru membuat misteri ini kembali mengemuka, dan kita akan sampai ke sana setelah menelusuri dari awal.
Kontak yang Terputus di Tengah Pasifik

Semuanya bermula dari sebuah keheningan di radio. Yong Yu Sing No. 18, kapal tuna longliner yang terdaftar di Su’ao, Taiwan, sedang beroperasi jauh di Samudra Pasifik ketika pada 30 Desember 2020 pemiliknya mendadak kehilangan kontak dengan awak, saat posisi kapal diperkirakan sekitar 527 mil laut di timur laut Midway Atoll.[1] Istri sang kapten kemudian melaporkan kapal itu hilang pada hari yang sama setelah komunikasi terputus.
Beberapa hari kemudian, sebuah pesawat penyelamat Amerika Serikat menemukan kapal itu mengambang di lautan, sekitar 600 mil laut di utara Midway Atoll.[2] Ketika awak dari kapal-kapal ikan Taiwan terdekat naik untuk memeriksa, geladak yang mereka temukan sepenuhnya sunyi tanpa seorang pun kru di sana.
Ada ironi yang sulit diabaikan dari kasus ini. Awaknya tak pernah ditemukan, tetapi kapalnya sendiri justru dipulangkan menempuh perjalanan panjang: Yong Yu Sing No. 18 ditarik kembali ke pelabuhan Su’ao sejauh sekitar 18.250 kilometer selama 57 hari, sebuah penarikan yang memecahkan rekor nasional.[3] Kapal pulang, tetapi para pelautnya tidak.
Sepuluh Awak yang Lenyap
Yang membuat kasus ini terasa dekat bagi pembaca Indonesia adalah komposisi awaknya. Dari sepuluh orang yang hilang, sembilan di antaranya adalah pelaut asal Indonesia, sementara satu sisanya kapten Taiwan bermarga Lee.[4] Mereka adalah bagian dari ribuan anak buah kapal Indonesia yang bekerja di armada perikanan asing, sering kali jauh dari pengawasan dan perlindungan.
Lalu ke mana kesepuluh orang itu pergi? Satu petunjuk fisik sempat memantik dugaan, yaitu sekoci penyelamat kapal yang dilaporkan hilang. Bagi penyelidik, ini bisa berarti awak sempat berupaya menyelamatkan diri dalam keadaan darurat, mungkin saat menghadapi cuaca buruk. Namun tanpa saksi dan tanpa jasad, dugaan itu tetap tinggal sebagai kemungkinan, bukan kepastian.
Kasus Yong Yu Sing No. 18 menyoroti kerentanan anak buah kapal asal Indonesia di kapal ikan jarak jauh. Berada ribuan mil dari daratan, dengan komunikasi terbatas dan jam kerja panjang, para pelaut migran seperti mereka berada dalam posisi paling rentan ketika sesuatu yang buruk terjadi di tengah samudra, jauh dari bantuan mana pun.
Penyelidikan yang Tak Menemukan Jawaban
Setelah kapal ditarik kembali ke Taiwan, kasus ini diselidiki oleh Kantor Kejaksaan Distrik Yilan. Pada 2021, penyelidikan menyimpulkan bahwa tidak ditemukan bukti adanya tindak kejahatan di atas kapal.[5] Dengan kata lain, tidak ada indikasi pembunuhan, pembajakan, atau kekerasan yang bisa dibuktikan dari kondisi kapal.
Namun menyingkirkan kemungkinan kejahatan bukan berarti menjawab misteri. Penyelidikan tetap tidak bisa menjelaskan bagaimana sepuluh orang bisa hilang serentak tanpa meninggalkan jejak apa pun, sebuah kebuntuan yang menggemakan kasus yacht Kaz II di Australia yang bahkan rekonstruksi resminya pun tak bisa dipastikan. Ketiadaan panggilan darurat yang jelas sebelum kontak terputus menambah lapisan kebingungan, mengingat kapal semestinya dilengkapi peralatan komunikasi.
Kapal Terdokumentasi Tanpa JawabanMisteri Kapal MV Joyita: Kapal Hantu Pasifik yang Ditinggalkan Padahal Mustahil Tenggelam
Tanpa jasad, tanpa saksi, dan tanpa rekaman detik-detik terakhir, kasus ini pun mengendap sebagai salah satu hilangnya awak kapal paling membingungkan dalam beberapa tahun terakhir. Selama lebih dari empat tahun, tidak ada perkembangan berarti, sampai sebuah botol kaca terdampar di sisi lain dunia.
Pesan dalam Botol dari Pantai Irlandia

Pada pertengahan Juli 2025, dua orang menemukan sebuah botol kaca tersegel lilin di sebuah kolam pasang surut di pesisir Pulau Inis Oirr, bagian dari Kepulauan Aran di lepas pantai barat Irlandia.[6] Salah satu penemu mengunggah foto temuan itu ke internet, dan isinya dengan cepat menarik perhatian dunia maya.
Di dalam botol ada secarik pesan yang sebagian besar ditulis dalam bahasa Indonesia. Terjemahannya kurang lebih berbunyi permohonan tolong, bahwa mereka telah tersesat sejak Desember, bahwa ada tiga orang di sana, bahwa mereka tidak tahu nama pulau tempat mereka terdampar, dan bahwa mereka terluka.[7] Pesan itu ditutup dengan kata-kata dalam bahasa Inggris “help hello SOS”.
Yang membuat merinding adalah tanda tangannya. Pesan itu dibubuhi karakter Tionghoa untuk marga sang kapten yang hilang, Lee, serta nama “Yong Yu Sing 18”.[2] Bagi banyak orang, detail ini seolah menautkan langsung botol yang terdampar di Irlandia dengan kapal yang lenyap di Pasifik lebih dari empat tahun sebelumnya.
Penting untuk berhati-hati. Hingga pesan ini diberitakan, keaslian botol itu belum terverifikasi secara resmi. Asosiasi nelayan tempat Yong Yu Sing No. 18 bernaung justru mendesak pemerintah untuk memverifikasi sumbernya dan meminta bantuan pencarian, sementara sebagian pihak lain menaruh curiga bahwa pesan itu bisa saja sebuah tipuan. Statusnya tetap sebuah petunjuk yang menggantung, bukan bukti yang sudah dipastikan.
Teori dan Pertanyaan yang Tersisa
Jika pesan botol itu asli, ia justru memunculkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Bagaimana mungkin awak terdampar di sebuah pulau, padahal kapal ditemukan mengambang di tengah Pasifik yang jauh dari daratan? Mengapa pesan menyebut tiga orang, bukan sepuluh? Dan bagaimana sebuah botol bisa mengembara dari Pasifik hingga ke pantai Atlantik Irlandia?
Di sisi lain, jika pesan itu ternyata palsu, muncul pertanyaan berbeda: siapa yang membuatnya, dan mengapa repot-repot memalsukan permohonan tolong atas nama korban yang sudah lama hilang. Kedua kemungkinan itu sama-sama meresahkan, dan sampai ada verifikasi resmi, tidak ada yang bisa memilih salah satunya dengan pasti.
Di luar soal botol, teori-teori lama tentang nasib awak tetap terbuka. Kemungkinan mereka meninggalkan kapal saat badai lalu tak pernah ditemukan, kemungkinan kecelakaan beruntun di laut, hingga berbagai spekulasi lain, semuanya masih berdiri tanpa satu pun yang bisa dibuktikan secara meyakinkan. Kasus ini tetap terbuka dalam arti yang paling harfiah.
Kronologi Singkat Kasus Yong Yu Sing No. 18
Tabel berikut merangkum rangkaian peristiwa penting, dari hilangnya kontak hingga temuan botol yang mengejutkan bertahun-tahun kemudian.
| Waktu | Peristiwa |
|---|---|
| 30 Desember 2020 | Kontak dengan Yong Yu Sing No. 18 terputus, sekitar 527 mil laut timur laut Midway Atoll |
| Awal Januari 2021 | Pesawat AS menemukan kapal mengambang ~600 mil laut utara Midway; 10 awak lenyap |
| 2021 | Kapal ditarik ke Su’ao (~18.250 km, 57 hari); kejaksaan Yilan tak menemukan bukti kejahatan |
| Juli 2025 | Pesan dalam botol berbahasa Indonesia ditemukan di Pulau Inis Oirr, Irlandia (belum terverifikasi) |
Rentang waktu hampir lima tahun antara hilangnya awak dan munculnya botol itulah yang membuat kasus ini terasa istimewa. Sebuah misteri yang tampak mengendap tiba-tiba hidup kembali oleh temuan yang datang dari arah yang sama sekali tak terduga.
Kenapa Kisah Ini Terus Menghantui
Berbeda dari legenda kapal hantu lama seperti SS Ourang Medan, Yong Yu Sing No. 18 adalah tragedi modern yang terjadi di era satelit, GPS, dan komunikasi global. Justru itulah yang membuatnya begitu mengganggu: dengan segala teknologi pelacakan yang tersedia hari ini, sepuluh nyawa tetap bisa raib begitu saja di tengah lautan tanpa ada yang tahu persis kapan atau bagaimana.
Misteri Kapal Hantu Paling LegendarisMisteri Kapal Mary Celeste: Kapal Hantu yang Ditemukan Berlayar Tanpa Awak
Bagi Indonesia, kasus ini bukan sekadar misteri, melainkan pengingat akan risiko yang ditanggung para anak buah kapal migran di lautan lepas. Sembilan dari sepuluh yang hilang adalah warga negara ini, dan nama mereka mudah tenggelam di balik julukan “kapal hantu” yang terdengar dramatis. Di balik istilah itu ada keluarga-keluarga yang masih menunggu kepastian.
Pada akhirnya, misteri Yong Yu Sing No. 18 mungkin bukan tentang hal gaib, melainkan tentang betapa luasnya samudra dan betapa mudahnya manusia hilang di dalamnya. Selama pesan dalam botol itu belum diverifikasi dan jasad para awak belum ditemukan, kapal ini akan tetap menjadi ruang kosong yang menuntut jawaban, sebuah tanda tanya yang mengambang di antara Pasifik dan Atlantik.
Pertanyaan yang Sering Ditanya
Apa itu Yong Yu Sing No. 18?
Yong Yu Sing No. 18 adalah kapal ikan tuna longliner Taiwan yang terdaftar di Su’ao. Kapal ini kehilangan kontak pada 30 Desember 2020 di Samudra Pasifik dekat Midway Atoll, lalu ditemukan mengambang tanpa satu pun dari sepuluh awaknya beberapa hari kemudian.
Siapa saja awak yang hilang?
Sepuluh orang lenyap: seorang kapten Taiwan bermarga Lee dan sembilan pelaut asal Indonesia. Hingga kini tidak satu pun dari mereka ditemukan, baik hidup maupun meninggal.
Apa hasil penyelidikan resminya?
Kantor Kejaksaan Distrik Yilan menyelidiki kasus ini pada 2021 dan menyimpulkan tidak ada bukti tindak kejahatan di atas kapal. Namun penyelidikan tetap tidak bisa menjelaskan bagaimana kesepuluh awak bisa lenyap dari kapal yang ditemukan mengambang utuh.
Apa itu pesan dalam botol yang ditemukan di Irlandia?
Pada Juli 2025, sebuah botol kaca berisi pesan berbahasa Indonesia ditemukan di Pulau Inis Oirr, Irlandia. Pesan itu memohon bantuan, menyebut tiga orang yang tersesat sejak Desember dan terluka, serta ditandatangani dengan marga kapten (Lee) dan nama “Yong Yu Sing 18”. Keasliannya belum terverifikasi secara resmi.
Apakah misteri ini sudah terpecahkan?
Belum. Meski kemungkinan tindak kejahatan disingkirkan, nasib sebenarnya kesepuluh awak tetap tidak diketahui. Pesan dalam botol menambah petunjuk baru, tetapi karena belum terverifikasi, kasus ini masih terbuka.
Sumber
- Kontak terputus 30 Desember 2020, posisi ~527 mil laut timur laut Midway, dan desakan asosiasi nelayan agar pesan diverifikasi, Focus Taiwan — focustaiwan.tw
- Penemuan kapal mengambang oleh pesawat AS ~600 mil laut utara Midway dan tanda tangan marga Lee pada pesan, Taiwan News — taiwannews.com.tw
- Penarikan kapal ke Su’ao ~18.250 km selama 57 hari dan awak tak pernah ditemukan meski kapal dipulihkan, Taipei Times — taipeitimes.com
- Komposisi awak (kapten Taiwan marga Lee dan sembilan pelaut Indonesia), ICRT — icrt.com.tw
- Kesimpulan kejaksaan Yilan 2021 tanpa bukti tindak kejahatan, Wikipedia — en.wikipedia.org
- Penemuan botol tersegel lilin di Inis Oirr, Kepulauan Aran, Irlandia, The Journal — thejournal.ie
- Isi pesan berbahasa Indonesia (permohonan tolong, tiga orang, terluka) dan “help hello SOS”, Newsweek — newsweek.com


