
Monster of Florence (Il Mostro di Firenze) adalah julukan bagi pembunuh berantai tak dikenal yang menyerang pasangan muda di pedesaan sekitar Florence, Italia, antara 1968 dan 1985. Ia menewaskan 16 orang — selalu pasangan yang sedang menyendiri di mobil pada malam tanpa bulan — menggunakan pistol Beretta kaliber .22 yang sama di setiap kejadian. Meski beberapa orang sempat diadili dan dipenjara, banyak yang meyakini pelaku sesungguhnya tak pernah tertangkap.
Selama hampir dua dekade, ada satu ketakutan yang mengubah cara hidup seluruh warga Florence: jangan pernah berduaan di tempat sepi saat malam gelap. Di perbukitan indah yang mengelilingi salah satu kota paling romantis di dunia, seseorang berburu pasangan-pasangan muda yang sedang memadu kasih di dalam mobil.
Ia datang dari kegelapan, selalu dengan senjata yang sama, selalu meninggalkan ritual mengerikan yang sama — lalu lenyap. Puluhan tahun, belasan nyawa, dan sederet pengadilan kemudian, pertanyaan intinya masih menggantung: siapa sebenarnya sang Monster?
Kebuntuan panjang semacam ini juga menyelimuti kasus lawas seperti misteri Servant Girl Annihilator di Amerika, yang tak pernah menemukan pelakunya.
Pola Pembunuhan yang Selalu Sama

Modus operandi sang Monster nyaris tak pernah berubah. Korbannya selalu pasangan yang sedang berduaan di mobil, di area pedesaan terpencil sekitar Florence, pada malam hari. Sang pembunuh menunggu hingga pasangan itu lengah dan lupa pada dunia di luar mobil. Ketika saat itu tiba, ia muncul dari kegelapan dan menembak keduanya dengan pistol. Pada banyak kasus, ia tak berhenti di situ: setelah korban tak berdaya, ia melanjutkan serangan dengan pisau.[1]
Ada dua pola yang begitu konsisten sehingga menjadi “tanda tangan” sang pelaku. Pertama, waktunya: pembunuhan hampir selalu terjadi pada malam tanpa bulan (new moon) dan pada akhir pekan atau hari libur — saat kegelapan maksimal dan korban punya alasan untuk berlama-lama di tempat sepi.
Pola perilaku berulang yang menjadi ciri khas pelaku semacam ini juga terlihat pada misteri Jack the Stripper di London.
Kedua, senjatanya: sebuah pistol Beretta kaliber .22 dengan peluru Winchester “seri H” yang sama dipakai di seluruh rangkaian pembunuhan.[2] Senjata inilah yang kelak menjadi benang merah forensik yang mengikat kasus-kasus yang semula tampak terpisah.
Di beberapa kasus, jasad korban perempuan ditemukan dalam kondisi dimutilasi — sebuah “ritual” pasca-pembunuhan yang membuat kasus ini begitu mengganggu dan memberi kesan pelaku memiliki dorongan psikologis yang jauh lebih gelap daripada sekadar membunuh. Detail ini pula yang membuat pers Italia menjulukinya “Il Mostro”: sang Monster.
Teror dari Eropa LainnyaMisteri Bible John: Pembunuh Barrowland Ballroom yang Tak Pernah Terungkap
Pemilihan malam new moon bukan kebetulan. Kegelapan total memberi sang pelaku dua keuntungan sekaligus: korban lebih sulit melihat bahaya yang mendekat, dan pelaku lebih mudah menghilang tanpa terlihat saksi. Pola waktu yang begitu disiplin ini justru menjadi salah satu petunjuk terkuat bahwa pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan oleh tangan yang sama — atau setidaknya dengan metode yang sama.
Dari 1968 hingga 1985: Teror yang Terputus-putus
Korban pertama yang kelak dikaitkan dengan sang Monster jatuh pada 21 Agustus 1968. Barbara Locci, seorang perempuan yang sudah bersuami, ditembak mati bersama kekasih gelapnya, Antonio Lo Bianco, di dalam mobil yang diparkir di Signa, dekat Florence. Yang mengerikan, anak Locci yang berusia enam tahun, Natalino, sedang tertidur di mobil itu; ia terbangun oleh suara tembakan. Konon sang pembunuh menggendong bocah itu dan mengantarnya ke rumah orang asing dalam keadaan hidup.[3]
Pada 1968 itu, tak ada yang menyadari bahwa ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Selama bertahun-tahun kasusnya tampak sebagai kejahatan tunggal bermotif cemburu — bahkan suami sah Locci, Stefano Mele, sempat dihukum atas pembunuhan itu, diduga karena tak terima istrinya berselingkuh.
Kekeliruan menuduh orang yang salah seperti ini juga terjadi pada misteri Axeman of New Orleans, tempat tersangka utamanya belakangan diragukan.
Baru ketika serangan serupa muncul kembali pada 1974, lalu beruntun sepanjang 1981 hingga 1985, pihak berwenang mulai curiga bahwa kasus-kasus itu saling berhubungan. Titik baliknya datang dari laboratorium balistik: peluru Beretta .22 yang ditemukan di berbagai tempat kejadian ternyata berasal dari satu senjata yang sama. Dari sanalah mereka akhirnya menyadari bahwa selama ini mereka menghadapi seorang pembunuh berantai.[4]
Total, 16 orang tewas dalam delapan pembunuhan ganda sepanjang 17 tahun — dan bila diurutkan, rentetan itu memperlihatkan pola yang makin berani sekaligus makin brutal. Setelah pasangan Locci pada 1968, sang Monster kembali pada 14 September 1974 di Sagginale, menembak mati Pasquale Gentilcore dan Stefania Pettini. Jenazah Pettini ditemukan dengan luka tusukan berulang, sebuah tanda kekejaman yang kelak menjadi ciri khasnya.[4]
Tahun 1981 adalah titik paling gelap: dua pasangan dibunuh dalam hitungan bulan. Pada Juni, Giovanni Foggi dan Carmela De Nuccio ditembak di Scandicci — dan untuk pertama kalinya, tubuh korban perempuan dimutilasi. Empat bulan kemudian, Oktober 1981, Stefano Baldi dan Susanna Cambi menyusul di Calenzano dengan pola yang sama persis. Teror berlanjut pada Juni 1982, ketika Paolo Mainardi dan Antonella Migliorini ditembak di dalam mobil di Montespertoli.[4]
Dua serangan berikutnya menyasar korban asing. Pada September 1983, dua turis Jerman — Horst Meyer dan Jens-Uwe Rüsch — ditembak di dalam campervan mereka di Giogoli; keduanya laki-laki, dan penyelidik menduga rambut panjang Rüsch membuat pelaku salah mengira ia perempuan. Lalu pada Juli 1984, Claudio Stefanacci dan Pia Rontini yang masih remaja dibunuh di Vicchio dengan mutilasi yang makin ekstrem. Rangkaian ini ditutup pada September 1985, saat pasangan turis Prancis Jean-Michel Kraveichvili dan Nadine Mauriot dibunuh di tenda mereka di Scopeti — serangan terakhir yang secara resmi dikaitkan dengan sang Monster.[5]
| Pasangan Korban | Tanggal | Lokasi | Catatan |
|---|---|---|---|
| Antonio Lo Bianco & Barbara Locci | 21 Agu 1968 | Signa | Anak Locci selamat |
| Pasquale Gentilcore & Stefania Pettini | 14 Sep 1974 | Sagginale | Baru dikaitkan bertahun kemudian |
| Giovanni Foggi & Carmela De Nuccio | 6 Jun 1981 | Scandicci | Mutilasi pertama |
| Stefano Baldi & Susanna Cambi | 22 Okt 1981 | Calenzano | Serangan kedua di tahun sama |
| Paolo Mainardi & Antonella Migliorini | 19 Jun 1982 | Montespertoli | Jalan ramai, tanpa mutilasi |
| Horst Meyer & Jens-Uwe Rüsch | 9 Sep 1983 | Giogoli | Dua korban laki-laki (turis Jerman) |
| Claudio Stefanacci & Pia Rontini | 29 Jul 1984 | Vicchio | Mutilasi makin ekstrem |
| Jean-Michel Kraveichvili & Nadine Mauriot | 8 Sep 1985 | Scopeti | Turis Prancis; serangan terakhir |
Jejak Sardinia: Jalan yang Buntu
Salah satu teori terbesar dalam kasus ini berpusat pada pistol Beretta itu sendiri. Karena senjata yang dipakai pada 1968 muncul lagi di pembunuhan-pembunuhan berikutnya, penyelidik menelusuri siapa yang pernah menguasai senjata tersebut. Jejaknya mengarah ke lingkaran imigran Sardinia — keluarga Mele dan kenalan-kenalannya — yang memunculkan teori “Pista Sarda” atau Jejak Sardinia.[6]
Teorinya: pembunuhan pasangan Locci pada 1968 adalah kejahatan “klan” yang melibatkan beberapa pria Sardinia yang punya kaitan asmara dengan Barbara Locci, dan salah satu dari mereka kemudian menyimpan pistol itu lalu menjelma menjadi sang Monster. Salah satu nama yang paling disorot adalah Francesco Vinci — pria Sardinia yang juga pernah menjalin hubungan dengan Locci; ia dan beberapa kerabatnya sempat ditangkap sebagai tersangka.
Namun ada satu masalah fatal yang menghancurkan seluruh teori ini: pembunuhan terus berlanjut justru ketika para tersangka Sardinia itu sedang berada di penjara. Pada 1989, pihak berwenang terpaksa meninggalkan Jejak Sardinia dan membebaskan semua tersangkanya — setelah menyia-nyiakan hampir satu dekade mengejar orang yang salah.
Pietro Pacciani dan Vonis yang Runtuh

Pada awal 1990-an, penyelidik baru mengarahkan sorotan ke Pietro Pacciani, seorang petani dari Scandicci dengan masa lalu penuh kekerasan — ia pernah dihukum atas pembunuhan pada 1951 dan dipenjara karena memperkosa kedua putrinya. Jaksa menggambarkannya sebagai pria kasar yang terobsesi seks, dan pada 1994 ia divonis penjara seumur hidup. Pacciani, yang berteriak dirinya “tak bersalah seperti Kristus di kayu salib,” dibebaskan pada tingkat banding dua tahun kemudian.[7]
Kisahnya makin berbelit ketika muncul saksi-saksi baru yang mengaku sebagai “kaki tangan” Pacciani. Dua di antaranya, Mario Vanni dan Giancarlo Lotti, divonis bersalah atas sebagian pembunuhan.
Bahkan muncul tuduhan liar bahwa Pacciani disewa seorang dokter kaya untuk mengumpulkan bagian tubuh korban perempuan guna “misa hitam” — sebuah narasi yang dibantah keras dan tak pernah terbukti. Banyak jurnalis dan penyelidik meyakini vonis-vonis ini keliru, dan bahwa sang Monster yang sebenarnya tak pernah duduk di kursi terdakwa.
Kasus ini meninggalkan jejak besar di dunia fiksi. Novel Hannibal (1999) karya Thomas Harris terinspirasi oleh kasus Monster of Florence, bahkan menempatkan tokoh Hannibal Lecter di kota itu. Kasusnya juga melahirkan buku investigasi terkenal The Monster of Florence (2008) karya Douglas Preston dan jurnalis Mario Spezi, serta beberapa serial televisi — menjadikannya salah satu misteri kriminal Italia yang paling mendunia.
DNA 2024: Bukti yang Menyalakan Kembali Misteri

Pada Agustus 2024, kasus yang tampak beku ini mendadak hidup kembali. Analisis DNA canggih dilakukan atas peluru-peluru yang dikumpulkan dari tiga tempat kejadian pembunuhan ganda yang berbeda. Hasilnya mengejutkan: ditemukan DNA pria yang sama di ketiga lokasi tersebut — dan DNA itu tidak cocok dengan Pietro Pacciani maupun para terpidana lainnya.[8]
Temuan ini adalah bukti forensik objektif bahwa setidaknya ada satu orang lain yang terlibat — seseorang yang tak pernah teridentifikasi. Ia sekaligus memperkuat apa yang lama diduga banyak orang: bahwa sistem peradilan Italia menghukum orang-orang yang salah, sementara sang pembunuh sejati berjalan bebas dan terus membunuh.
Nasib buntu ini mengingatkan pada misteri The Doodler di San Francisco, yang juga tak pernah menyeret pelakunya ke pengadilan.
Para pengacara keluarga korban kini mendesak agar DNA ini dibandingkan dengan tersangka-tersangka yang dulu terabaikan. Temuan ini juga sejalan dengan penilaian lama dari luar Italia: sebuah profil FBI pada 2007 sudah menyimpulkan bahwa sang pembunuh kemungkinan bertindak sendirian — bertentangan dengan teori “kaki tangan” beramai-ramai yang dipakai untuk menghukum Vanni dan Lotti.
Hingga kini, pistol Beretta itu tak pernah ditemukan, bagian tubuh yang diambil dari para korban tak pernah ditemukan, dan identitas pemilik DNA misterius itu tetap gelap. Setelah lebih dari setengah abad, Monster of Florence tetap menjadi salah satu kasus paling menghantui dalam sejarah kriminal Italia.
Sang Legenda dari WhitechapelMisteri Jack the Ripper: Teror Whitechapel yang Tak Pernah Terpecahkan
Seperti Jack the Ripper yang menantang polisi London hampir seabad sebelumnya, Monster of Florence memperlihatkan betapa seorang pembunuh anonim bisa mengalahkan seluruh aparat penegak hukum selama bertahun-tahun. Bedanya, di era Monster teknologi forensik mulai berkembang — dan justru DNA modern-lah yang kini membuktikan bahwa orang yang dihukum bukanlah pelaku sesungguhnya.
Ringkasan Fakta Kasus
| Aspek | Fakta |
|---|---|
| Nama Italia | Il Mostro di Firenze; il maniaco delle coppiette |
| Lokasi | Pedesaan sekitar Florence, Italia |
| Rentang waktu | 21 Agustus 1968 – 8 September 1985 |
| Jumlah korban | 16 orang (8 pembunuhan ganda) |
| Target | Pasangan muda yang menyendiri di mobil |
| Senjata | Pistol Beretta kaliber .22, peluru Winchester seri H (tak pernah ditemukan) |
| Pola waktu | Malam tanpa bulan, akhir pekan/hari libur |
| Tersangka utama | Pietro Pacciani (vonis dibatalkan), Jejak Sardinia (buntu) |
| Perkembangan terbaru | DNA 2024 tak cocok dengan para terpidana |
| Status | Tak terpecahkan hingga kini |
Monster of Florence bukan sekadar kisah tentang seorang pembunuh yang tak tertangkap, melainkan juga tentang sistem peradilan yang berulang kali menghukum orang yang salah. Selama pistol itu belum ditemukan dan pemilik DNA misterius itu belum teridentifikasi, sang Monster akan terus bersembunyi di balik perbukitan Florence — tak terlihat, tak bernama, dan belum terpecahkan.
Pertanyaan yang Sering Ditanya
Siapa itu Monster of Florence?
Monster of Florence (Il Mostro di Firenze) adalah julukan bagi pembunuh berantai tak dikenal yang menyerang 16 orang — selalu pasangan muda yang menyendiri di mobil — di pedesaan sekitar Florence, Italia, antara 1968 dan 1985. Ia memakai pistol Beretta .22 yang sama di setiap pembunuhan dan tak pernah teridentifikasi secara pasti.
Apakah Monster of Florence pernah tertangkap?
Secara resmi, beberapa orang diadili dan dipenjara — terutama Pietro Pacciani serta Mario Vanni dan Giancarlo Lotti. Namun vonis Pacciani dibatalkan pada banding, dan bukti DNA tahun 2024 tidak cocok dengan para terpidana. Banyak ahli meyakini pelaku sebenarnya tak pernah tertangkap.
Apa itu teori Jejak Sardinia?
Jejak Sardinia (Pista Sarda) adalah teori bahwa pistol pembunuh berasal dari lingkaran imigran Sardinia yang terkait pembunuhan pertama tahun 1968. Beberapa pria Sardinia ditangkap, tetapi teori ini runtuh karena pembunuhan terus terjadi saat mereka di penjara, dan pada 1989 semua tersangkanya dibebaskan.
Apa temuan DNA 2024 dalam kasus ini?
Pada Agustus 2024, analisis DNA atas peluru dari tiga tempat kejadian menemukan DNA pria yang sama di ketiganya — dan DNA itu tidak cocok dengan Pietro Pacciani maupun terpidana lain. Ini menjadi bukti bahwa pelaku sesungguhnya kemungkinan besar tak pernah dihukum.
Kenapa disebut “Monster” of Florence?
Julukan “Il Mostro” (Sang Monster) diberikan pers Italia karena kebrutalan pembunuhan, termasuk mutilasi ritual terhadap jasad korban perempuan di beberapa kasus. Awalnya pelaku disebut “il maniaco delle coppiette” (Maniak Pasangan) karena selalu menyasar pasangan.
Apakah kasus ini menginspirasi karya fiksi?
Ya. Novel Hannibal (1999) karya Thomas Harris terinspirasi kasus ini, begitu pula buku investigasi The Monster of Florence (2008) karya Douglas Preston dan Mario Spezi, serta beberapa serial televisi — menjadikannya salah satu misteri kriminal Italia paling terkenal di dunia.
Sumber
- Profil kasus, modus operandi, dan daftar korban Monster of Florence, Wikipedia — en.wikipedia.org
- Senjata Beretta .22 dan peluru Winchester seri H sebagai benang merah, Time — time.com
- Pembunuhan pertama 1968 dan detail anak Locci yang selamat, Criminal Minds Wiki — criminalminds.fandom.com
- Kronologi kasus dan penyambungan balistik antar-pembunuhan, Biography — biography.com
- Korban turis asing dan pembunuhan terakhir 1985, A&E — aetv.com
- Teori Jejak Sardinia dan runtuhnya karena pembunuhan berlanjut, Yahoo/Netflix true story — yahoo.com
- Pietro Pacciani, vonis, dan pembatalannya, RTE — rte.ie
- Temuan DNA 2024 yang tak cocok dengan terpidana, CBS News — cbsnews.com


