Ngebahas

Genre Game Apa Saja? Panduan Lengkap biar Nggak Salah Beli

Setup PC gaming lengkap dengan controller di atas meja sebagai ilustrasi panduan berbagai macam genre game.
⏱ 11 menit baca
Bagikan

Genre game adalah pengelompokan berdasarkan mekanik inti — jenis aksi utama yang kamu lakukan saat main — bukan berdasarkan tema atau grafis. Dua game bisa sama-sama bertema fantasi tapi masuk genre berbeda kalau satu fokus tembak-menembak dan satunya membangun kerajaan. Perlu diingat, hampir semua game modern adalah campuran, jadi genre adalah titik awal menebak rasa sebuah game, bukan kotak kaku.

Kamu buka Steam atau PS Store, niatnya cari satu game buat ngisi akhir pekan. Sejam kemudian kamu masih scroll, bingung, dan akhirnya nutup lagi tanpa beli apa-apa. Familiar? Salah satu sebabnya sederhana: kamu belum tahu genre apa yang sebenarnya cocok buat kamu.

Genre itu bukan sekadar label buat rapi-rapi di toko. Ia semacam janji soal pengalaman apa yang bakal kamu dapat: mikir keras, refleks cepat, cerita bikin baper, atau santai membangun sesuatu. Paham genre bikin kamu berhenti buang uang buat game yang sebenarnya nggak kamu nikmati. Di artikel ini kita bongkar genre-genre utama satu per satu, lengkap dengan contoh dan buat siapa masing-masing paling pas.

Genre Itu Sebenarnya Apa?

Pengelompokan genre game diilustrasikan melalui blok dengan simbol aksi berbeda pada sebuah papan.

Secara sederhana, genre game adalah pengelompokan berdasarkan mekanik inti, yaitu jenis aksi utama yang kamu lakukan saat main. Bukan berdasarkan tema atau grafis. Game bisa sama-sama bertema fantasi, tapi satu fokus ke tembak-menembak dan satunya ke membangun kerajaan; itu dua genre berbeda.[1]

Yang perlu kamu tahu sejak awal: hampir semua game modern itu campuran. Toko biasanya kasih satu genre utama plus beberapa tag tambahan. Jadi anggap genre sebagai titik awal buat menebak rasa sebuah game, bukan kotak kaku yang mengurung. Begitu kamu tahu genre mana yang bikin kamu betah, memilih game jadi jauh lebih gampang.

Perlu Diketahui

Genre menggambarkan cara main, bukan cerita. “Fantasi” atau “zombie” itu tema; “RPG” atau “shooter” itu genre. Satu tema bisa muncul di banyak genre yang rasanya beda total.

1. Action-Adventure

Perlengkapan petualangan seperti tas kulit, peti harta karun kuno, dan tali di atas papan berlampu hijau, melambangkan elemen eksplorasi dari genre game Action-Adventure.

Kalau kamu bingung mulai dari mana, genre ini pilihan teraman. Action-adventure menggabungkan pertarungan seru dengan eksplorasi dan cerita. Kamu menjelajah dunia, memecahkan teka-teki ringan, dan bertarung, semua dalam satu paket. Tak heran genre ini jadi yang paling laku, menyumbang sekitar 22 persen dari penjualan game konsol dan PC pada 2026.[1]

Contoh besarnya seperti seri The Legend of Zelda, God of War, dan Marvel’s Spider-Man. Buat siapa? Hampir semua orang, terutama kalau kamu suka cerita sinematik dan nggak mau ribet dengan mekanik yang terlalu dalam. Genre ini biasanya punya kurva belajar yang ramah, jadi cocok banget buat yang baru serius main game.

2. RPG (Role-Playing Game)

Ilustrasi perlengkapan karakter seperti pedang, perisai, ramuan, dan gulungan perkamen, melambangkan elemen progresi dalam genre game RPG.

RPG berpusat pada satu hal: progresi. Kamu mulai sebagai karakter lemah, lalu pelan-pelan naik level, dapat perlengkapan baru, dan mengambil keputusan yang membentuk jalan cerita. Inti kenikmatannya adalah merasakan karaktermu tumbuh dari nol jadi kuat.[2] Ini genre terbesar kedua, sekitar 19 persen dari penjualan.[1]

Contohnya berlimpah: The Witcher 3, Baldur’s Gate 3, Final Fantasy, dan Elden Ring. Tapi jujur saja, RPG sering menuntut waktu; satu game bisa 40 sampai 100 jam lebih. Jadi kalau waktu mainmu terbatas, pikir dua kali sebelum mulai RPG raksasa yang malah bikin backlog-mu makin numpuk. Buat yang punya waktu dan suka menyelami dunia dalam-dalam, tidak ada yang menandingi kepuasan RPG yang bagus.

Ragam Turunan RPG

RPG punya banyak turunan: Action RPG (real-time, pertarungan lincah), JRPG (gaya Jepang, sering berbasis giliran seperti Persona), sampai Tactical RPG yang menekankan posisi tiap langkah seperti Fire Emblem. Rasanya beda-beda meski sama-sama RPG.

3. Shooter dan FPS

Ilustrasi senjata futuristik dengan bidikan hologram yang merepresentasikan elemen akurasi dan refleks dalam genre game Shooter dan FPS.

Shooter, khususnya FPS (first-person shooter), adalah soal refleks dan akurasi. Kamu melihat dunia dari mata karakter dan, ya, menembak. Genre ini hidup atau mati di “game feel”: seberapa enak rasanya menembak, seberapa responsif kontrolnya.[2]

Contoh ikoniknya berderet dari DOOM, Counter-Strike, Valorant, sampai Call of Duty. Buat siapa? Kamu yang suka aksi cepat, kompetitif, dan tak masalah kalah berkali-kali sebelum jago. Satu catatan jujur: FPS kompetitif online bisa sangat menuntut skill dan kadang toksik komunitasnya. Kalau kamu main buat santai, cari yang mode kampanye atau PvE-nya kuat.

4. Strategy (RTS & Turn-Based)

Bidak pasukan biru dan merah di atas papan taktis dengan menara pusat, mengilustrasikan perencanaan dan manajemen sumber daya dalam genre game Strategy.

Genre strategi menaruh kamu di kursi komandan. Kamu mengatur pasukan, sumber daya, atau kota, dan menang lewat perencanaan, bukan refleks. Ada yang real-time (RTS, semua bergerak bersamaan seperti Age of Empires) dan ada yang turn-based (bergiliran, santai mikir seperti Civilization).

Contoh lainnya termasuk StarCraft II dan XCOM. Buat siapa? Kamu yang menikmati berpikir beberapa langkah ke depan dan tidak butuh aksi cepat. Genre ini sering lebih ramah untuk hardware kentang, karena tidak menuntut grafis dan refleks setinggi shooter. Kabar bagus buat yang PC-nya pas-pasan — kamu bisa cek beberapa rekomendasi game PC ringan buat contoh judulnya.

5. Simulation

Miniatur tata kota yang dikelilingi roda gigi dan panel kontrol, mengilustrasikan elemen manajemen dan kreativitas dalam genre game Simulation.

Simulasi membiarkan kamu menjalani hal yang mungkin tak akan kamu lakukan di dunia nyata: menerbangkan pesawat, mengelola kota, mengurus pertanian, atau sekadar menjalani hidup virtual. Fokusnya bukan menang atau kalah, tapi menikmati prosesnya.[3]

Contohnya beragam, dari The Sims, Stardew Valley, Cities: Skylines, sampai Microsoft Flight Simulator. Buat siapa? Kamu yang mencari ketenangan dan kreativitas, bukan adrenalin. Cocok buat main santai sambil melepas penat, dan banyak judulnya ramah untuk sesi pendek.

6. Horror dan Survival Horror

Pintu kayu usang yang terbuka menuju kegelapan bersama senter dan lentera, mengilustrasikan suasana mencekam dan sumber daya terbatas dalam genre game Horror dan Survival Horror.

Genre ini punya satu tujuan: bikin kamu takut. Survival horror menggabungkan rasa ngeri itu dengan sumber daya terbatas, jadi tiap peluru dan ramuan penyembuh terasa berharga. Ketegangannya datang dari rasa tak berdaya, bukan dari jadi jagoan.

Contohnya seperti Resident Evil, Silent Hill, Amnesia, dan Outlast. Buat siapa? Kamu yang justru menikmati jantung berdebar dan suasana mencekam. Genre ini paling nikmat dimainkan sendirian, malam hari, pakai headphone, kalau kamu berani. Bukan buat yang gampang stres, tapi sensasinya susah ditandingi.

7. Survival

Ilustrasi perlengkapan bertahan hidup seperti tenda, api unggun, dan kapak yang merepresentasikan elemen mengumpulkan sumber daya dalam genre game Survival.

Beda tipis dengan horror, genre survival fokus pada bertahan hidup di lingkungan keras. Kamu mengumpulkan sumber daya, membuat peralatan, membangun tempat berlindung, dan mengelola kebutuhan seperti lapar dan haus. Kepuasannya datang dari bertahan dan berkembang dari nol.

Contoh populernya Minecraft (mode survival), Valheim, Rust, dan The Forest. Buat siapa? Kamu yang suka kebebasan, eksperimen, dan tak keberatan dengan tantangan yang kadang brutal. Banyak game survival makin seru dimainkan bareng teman, jadi cocok kalau kamu punya squad.

8. Roguelike dan Roguelite

Ilustrasi labirin batu dengan tengkorak bercahaya di tengahnya, melambangkan fitur level acak dan permadeath dalam genre game Roguelike dan Roguelite.

Genre ini sedang naik daun lagi setelah sempat sepi. Ciri khasnya: level yang dibuat acak tiap main dan permadeath, alias kalau mati kamu harus mulai dari awal. Kedengarannya menyiksa, tapi justru di situ serunya. Tiap kegagalan mengajari sesuatu, dan saat akhirnya berhasil, rasa puasnya beda.[3]

Contoh modernnya Hades, The Binding of Isaac, Dead Cells, dan Slay the Spire. (Roguelite sedikit lebih ramah karena menyimpan sebagian progres antar-percobaan.) Buat siapa? Kamu yang suka tantangan, tak gampang frustrasi, dan senang main sesi pendek berulang. Roguelike juga punya replay value tinggi, jadi satu game bisa menemanimu berbulan-bulan. Nilai lebih buat dompet yang irit.

9. Platformer

Ilustrasi area bertingkat dengan per pegas dan koin emas di puncak, melambangkan rintangan dan aksi melompat dalam genre game Platformer.

Salah satu genre tertua yang tak pernah benar-benar mati. Di platformer, tantangan intinya adalah bergerak melewati lingkungan dengan lompat, panjat, dan menghindari rintangan. Terlihat sederhana, tapi menguasai gerakannya butuh ketepatan tinggi.

Contohnya dari yang klasik seperti Super Mario Bros. sampai yang modern seperti Hollow Knight dan Celeste. Buat siapa? Cocok buat hampir semua umur, dari yang cari nostalgia santai sampai yang mau menguji kesabaran lewat platformer sulit. Umumnya ringan di hardware, jadi aman buat PC atau laptop biasa.

10. Fighting

Ilustrasi dua robot berhadapan di atas arena pertarungan, melambangkan aksi duel satu lawan satu dan adu mekanik dalam genre game Fighting.

Genre fighting adalah soal duel satu lawan satu. Kamu menghafal kombo, membaca gerakan lawan, dan mengeksekusi serangan dengan timing tepat. Mudah dipahami di awal, tapi menguasainya butuh latihan bertahun-tahun; inilah salah satu genre paling kompetitif di dunia esports.

Contohnya Street Fighter, Tekken, Mortal Kombat, dan Super Smash Bros. Buat siapa? Kamu yang suka tantangan skill murni dan menikmati adu refleks langsung, entah melawan teman di sofa yang sama atau pemain lain online. Siapkan mental, karena kurva belajarnya curam.

11. Sports dan Racing

Ilustrasi platform pameran futuristik dengan mobil super balap hitam di sebelah bendera kotak-kotak dan bola sepak untuk menjelaskan genre game Sports dan Racing.

Genre ini mensimulasikan olahraga atau balapan, sering dengan lisensi resmi tim dan pemain sungguhan. Rentangnya luas, dari simulasi realistis yang menuntut presisi sampai versi arcade yang santai dan mudah dinikmati siapa saja.

Contohnya EA Sports FC (dulu FIFA), NBA 2K, Gran Turismo, dan Mario Kart untuk yang lebih santai. Buat siapa? Penggemar olahraga atau otomotif yang mau merasakannya secara interaktif, plus siapa saja yang suka main bareng teman. Mode multiplayer-nya sering jadi bintang utama.

12. Puzzle

Ilustrasi kubus mekanik dan susunan balok pola di atas platform futuristik, melambangkan pemikiran logis dan teka-teki dalam genre game Puzzle.

Puzzle menantang otak, bukan refleks. Kamu memecahkan teka-teki, menyusun pola, atau berpikir logis untuk maju. Genre ini terbukti awet karena gampang dimainkan siapa saja tapi bisa sangat dalam.

Contohnya Tetris, Portal, Baba Is You, dan The Witness. Buat siapa? Kamu yang suka momen “aha!” saat menemukan solusi, dan mau main tanpa tekanan waktu atau refleks. Genre paling ringan di hardware, cocok buat mengisi waktu luang di perangkat apa pun, termasuk HP.

13. Battle Royale

Ilustrasi kotak suplai berparasut di tengah arena lingkaran yang menyempit, melambangkan elemen bertahan hidup dan mencari perlengkapan dalam genre game Battle Royale.

Genre yang meledak beberapa tahun terakhir ini menjatuhkan puluhan hingga seratus pemain ke satu peta yang terus menyempit, sampai tersisa satu pemenang. Campuran antara bertahan hidup, mencari perlengkapan, dan bertarung, dengan ketegangan yang naik seiring arena mengecil.

Contohnya Fortnite, PUBG, dan Apex Legends. Buat siapa? Kamu yang suka aksi kompetitif, tegang, dan tak keberatan sering kalah (karena cuma satu yang menang tiap ronde). Kebanyakan gratis dimainkan, jadi ramah di kantong, meski sering menggoda dengan pembelian kosmetik.

14. MOBA

Ilustrasi peta arena pertempuran dengan jalur bercahaya dan markas utama, melambangkan strategi dan kerja sama tim dalam genre game MOBA.

MOBA (multiplayer online battle arena) mempertemukan dua tim yang saling berebut menghancurkan markas lawan. Tiap pemain mengendalikan satu karakter dengan kemampuan unik, dan kemenangan butuh kerja sama tim serta strategi yang matang.

Contoh terbesarnya Dota 2, League of Legends, dan Mobile Legends yang sangat populer di Indonesia. Buat siapa? Kamu yang suka permainan tim kompetitif dan mau mendalami satu game dalam waktu lama. Peringatan jujur: kurva belajarnya curam dan komunitasnya bisa keras, tapi keterikatannya luar biasa kuat.

Kenapa Kebanyakan Game Sekarang Campuran

Ilustrasi kubus puzzle yang menyatukan elemen pedang, senjata api, dan mesin, melambangkan tren campuran berbagai genre dalam game modern.

Kalau kamu merasa banyak game susah dimasukkan ke satu kotak, itu wajar. Justru mencampur genre sudah jadi kebiasaan, bukan pengecualian. Judul-judul terbaik dekade ini lahir dari perkawinan genre yang tak terduga.[1]

Ambil contoh soulslike, salah satu tren terbesar 2025 dan 2026, yang sendirinya adalah hibrida: menggabungkan tingkat kesulitan tinggi khas Souls dengan mekanik genre lain. Elden Ring bahkan menyatukan soulslike, RPG, dan open-world sekaligus. Jadi jangan heran kalau satu game terasa seperti beberapa genre bertumpuk; itu memang arah industri sekarang.

Pilih Mesinnya DuluApa Itu PC Gaming? Jenis, Komponen, dan Bedanya dari Konsol

Jadi, Genre Mana yang Cocok Buat Kamu?

Ilustrasi tiang penunjuk arah futuristik dengan controller game di tengahnya, melambangkan panduan untuk memilih genre game yang cocok dengan preferensi pemain.

Tidak ada genre “terbaik” secara mutlak; yang ada genre yang cocok dengan kamu — dan tentu saja, didukung komponen PC gaming yang memadai. Kuncinya jujur pada diri sendiri soal apa yang kamu cari dan berapa banyak waktu yang kamu punya. Tabel singkat ini bisa jadi titik awal.

Kalau Kamu Suka… Coba Genre
Cerita sinematik & eksplorasi Action-Adventure
Menyelami dunia dalam-dalam RPG
Aksi cepat & kompetitif Shooter / FPS
Berpikir & menyusun rencana Strategy
Santai & kreatif Simulation
Jantung berdebar & suasana ngeri Horror / Survival
Tantangan & main sesi pendek Roguelike
Adu skill langsung Fighting / MOBA

Ingat, kamu tidak harus setia pada satu genre. Selera berubah seiring waktu dan mood. Yang penting kamu tahu apa yang sedang kamu cari, biar tiap kali beli game, uang dan waktumu tidak terbuang sia-sia. Selamat menjelajah, dan semoga backlog-mu tidak makin menggila.

Pilih Perangkatnya JugaKonsol Game: Mengenal Jenis-Jenis dan Cara Memilihnya

Pertanyaan yang Sering Ditanya

Apa itu genre game?

Genre game adalah pengelompokan berdasarkan mekanik inti atau jenis aksi utama yang dilakukan pemain, bukan berdasarkan tema atau grafis. Misalnya FPS didefinisikan oleh menembak, RPG oleh progresi karakter.

Apa genre game yang paling populer?

Secara penjualan, action-adventure adalah yang terbesar (sekitar 22 persen penjualan konsol dan PC pada 2026), diikuti RPG (sekitar 19 persen). Tapi popularitas tergantung platform, wilayah, dan selera pemain.

Genre apa yang cocok untuk pemula?

Action-adventure, simulation, dan puzzle biasanya paling ramah pemula karena kontrolnya mudah dan tujuannya jelas. Action-adventure khususnya menawarkan campuran cerita dan aksi dengan kurva belajar yang landai.

Kenapa banyak game punya lebih dari satu genre?

Karena mencampur genre sudah jadi norma di industri game modern. Kebanyakan judul besar menggabungkan mekanik dari beberapa genre, sehingga toko mencantumkan satu genre utama plus beberapa tag tambahan.

Genre apa yang ringan untuk PC spek rendah?

Strategy, puzzle, platformer, dan banyak game indie umumnya lebih ringan karena tidak menuntut grafis dan refleks setinggi shooter atau action-adventure kelas AAA. Cocok untuk hardware terbatas.


Sumber

  1. Definisi genre berdasarkan mekanik inti (bukan tema/grafis); data Action-adventure ~22,7% & RPG ~19,5% penjualan konsol/PC 2026; serta blending genre sebagai norma & soulslike sebagai hibrida (Elden Ring), The Core iTech — thecoreitech.com
  2. Inti RPG = progresi karakter dari lemah jadi kuat; juga FPS yang hidup/mati di ‘game feel’ (netcode, kontrol responsif, animasi senjata), Cloud Animations — cloudanimations.com
  3. Simulasi berfokus pada proses/pengalaman (menerbangkan pesawat, mengelola kota); juga roguelike dengan level acak + permadeath yang tiap kegagalannya mengajari, Eneba Hub — eneba.com
Andrya Nabil Fauzan
Ditulis oleh
SEO Specialist & Penulis

Andrya Nabil Fauzan adalah SEO Specialist yang menekuni dunia digital sejak 2021. Ia terbiasa membangun dan mengelola website di berbagai CMS — dari sisi on-page, off-page, hingga technical SEO — dan juga menangani periklanan digital lewat Meta Ads, TikTok Ads, serta Google Ads. Ketertarikannya melintasi banyak hal: film, game, investasi, misteri, dan tips sehari-hari. Lewat Ngebahas, ia menuangkan rasa penasaran itu jadi tulisan yang santai, jujur, dan enak diikuti.

Tinggalkan Komentar

Cukup isi nama buat komentar.

Scroll to Top