
CTA-102 adalah sumber radio di konstelasi Pegasus yang pada 12 April 1965 diumumkan astronom Soviet sebagai kemungkinan sinyal dari peradaban luar angkasa super-maju. Klaim itu memicu sensasi dunia dan menjadi kepanikan besar pertama dalam sejarah pencarian alien, sebelum objeknya terungkap sebagai sesuatu yang jauh lebih dahsyat: sebuah quasar.
Pada April 1965, sebuah kantor berita Soviet melempar kabar yang membuat dunia menahan napas. Para ilmuwan di Uni Soviet, katanya, mungkin telah menangkap sinyal radio dari peradaban asing di kedalaman kosmos. Di puncak Perang Dingin, ketika Amerika dan Uni Soviet berlomba menembus antariksa, berita semacam ini terdengar seperti pukulan telak dalam perlombaan yang jauh lebih besar daripada sekadar mengirim manusia ke orbit.
Sumber sinyal itu punya nama yang dingin dan teknis: CTA-102. Bukan bintang terkenal, bukan planet tetangga, melainkan satu titik samar di langit yang selama ini nyaris tak diperhatikan siapa pun. Namun selama beberapa minggu, nama itu menghiasi surat kabar di seluruh dunia sebagai kandidat kontak pertama umat manusia dengan kecerdasan lain.
Gagasan Berani dari Seorang Astronom Muda
Kisah ini sebenarnya bermula setahun sebelumnya, dari pemikiran seorang astrofisikawan Soviet bernama Nikolai Kardashev. Pada 1964 ia mengembangkan gagasan yang kini melegenda: sebuah cara mengukur tingkat kemajuan peradaban berdasarkan seberapa besar energi yang mampu mereka kendalikan, yang belakangan dikenal sebagai skala Kardashev.[1] Peradaban Tipe I menguasai energi planetnya, Tipe II energi bintangnya, dan Tipe III energi seluruh galaksinya.
Dari kerangka berpikir itu, Kardashev menalar bahwa peradaban super-maju semestinya memancarkan gelombang radio yang sangat kuat dan tak biasa. Ia lalu menunjuk dua sumber radio yang perilakunya ganjil, CTA-21 dan CTA-102, sebagai kandidat yang layak diselidiki lebih jauh.[2] Keduanya memiliki puncak spektrum radio yang aneh, tidak seperti kebanyakan benda langit yang sudah dikenal saat itu.
Bagi Kardashev, keanehan itulah petunjuknya. Sinyal yang terlalu rapi atau terlalu tidak wajar untuk dijelaskan oleh proses alami biasa bisa jadi merupakan tanda campur tangan sebuah kecerdasan. Hipotesis ini terdengar spekulatif, tetapi ia datang dari salah satu pemikir paling dihormati di dunia astronomi radio Soviet, sehingga tak bisa begitu saja diabaikan.
Sinyal yang Berdenyut Naik-Turun

Petunjuk yang ditunggu tampak datang dari Krimea. Di stasiun komunikasi antariksa dalam di Yevpatoria, seorang astronom muda bernama Gennady Sholomitsky mengarahkan antena raksasa Soviet ke CTA-102. Ia mengamati sumber itu berbulan-bulan, dan menemukan sesuatu yang membuatnya terhenyak: intensitas pancaran radio CTA-102 ternyata berubah-ubah.
Sholomitsky mencatat variasi sekitar 30 persen dalam kekuatan sinyal, berdenyut naik-turun dengan irama kasar sekitar seratus hari.[3] Pada masa itu temuan seperti ini nyaris mustahil dipercaya. Alam semesta radio dianggap statis; benda-benda langit tidak diduga bisa mengubah kecerlangannya dalam hitungan bulan, apalagi hari. Satu-satunya variabilitas radio yang dikenal saat itu hanyalah peredupan lambat sisa supernova.
Justru keteraturan berdenyut inilah yang menyeret CTA-102 ke wilayah spekulasi liar. Bila sebuah sumber memancarkan sinyal yang berubah secara periodik, bukankah itu bisa jadi cara sebuah peradaban memodulasi pesannya, seperti sandi yang dikirim lewat cahaya yang dinyalakan dan dipadamkan?
Logika Kardashev sederhana tapi memikat. Proses alami raksasa cenderung stabil atau berubah sangat lambat. Sinyal yang berfluktuasi cepat dan teratur justru lebih mudah dibayangkan sebagai produk teknologi, sebuah pemancar yang sengaja dinyala-matikan. Karena itu, ketika Sholomitsky melihat CTA-102 berdenyut, kerangka berpikir yang sudah disiapkan Kardashev seketika menyalakan dugaan artifisial.
12 April 1965: Hari Dunia Gempar
Momen puncaknya tiba dengan cara yang setengah tak sengaja. Menjelang sebuah konferensi pers di Moskow, seorang reporter kantor berita TASS menangkap perbincangan santai antara Kardashev dan koleganya, Iosif Shklovsky, yang berandai-andai bahwa pancaran CTA-102 mungkin saja berasal dari peradaban luar angkasa.[4] Ketika didesak wartawan, Kardashev tidak membantah kemungkinan itu.
Pada 12 April 1965, pengumuman resmi pun dilempar ke publik dan langsung meledak menjadi sensasi global. Surat kabar di berbagai negara memberitakan bahwa ilmuwan Soviet mungkin telah menemukan bukti sebuah super-peradaban di luar angkasa. Kebetulan tanggalnya pun sarat makna: 12 April adalah hari yang sama ketika Yuri Gagarin terbang ke orbit empat tahun sebelumnya, memperkuat kesan bahwa Soviet kembali unggul di garis depan antariksa.
Namun di balik gegap gempita itu, para ilmuwannya sendiri jauh lebih berhati-hati. Baik Kardashev maupun Shklovsky sebenarnya tidak pernah menyatakan secara pasti bahwa CTA-102 adalah alien. Mereka menyodorkannya sebagai kemungkinan yang layak diselidiki, bukan sebagai kesimpulan. Sayangnya, nuansa kehati-hatian semacam itu selalu menjadi korban pertama ketika sebuah berita menjadi terlalu besar.
Ketika Jawabannya Ternyata Quasar

Euforia itu tak bertahan lama. Astronom di berbagai belahan dunia segera mengarahkan teleskop mereka ke Pegasus untuk memverifikasi klaim tersebut, dan hasilnya mengecewakan para pemburu alien. Pengamatan dengan teleskop raksasa Hale 200 inci di Observatorium Palomar mengidentifikasi CTA-102 sebagai sebuah quasar.[5]
Quasar adalah inti galaksi yang sangat jauh dan luar biasa terang, ditenagai oleh lubang hitam supermasif yang melahap materi di sekitarnya. Saat gas dan debu terhisap masuk, energi raksasa terlepas dalam bentuk pancaran radio dan cahaya yang bisa mengalahkan seluruh galaksi induknya. CTA-102 berada begitu jauh sehingga cahayanya butuh miliaran tahun untuk sampai ke Bumi. Variabilitas yang tampak misterius itu ternyata bersumber dari proses kekerasan kosmik di sekitar lubang hitam, bukan dari tangan sebuah peradaban.
Menariknya, penemuan Sholomitsky tidak sepenuhnya keliru. Ia memang benar-benar mendeteksi variabilitas nyata pada sebuah sumber radio, sesuatu yang saat itu dianggap mustahil. Ironisnya, komunitas astronomi Barat sempat meragukan datanya, dan variabilitas CTA-102 baru benar-benar dikonfirmasi ulang pada 1972.[3] Apa yang gagal menjadi bukti alien justru membuka babak baru dalam memahami quasar.
Dua Kepanikan Besar dalam Pencarian Alien
Dalam sejarah SETI, pencarian kecerdasan luar angkasa, CTA-102 dikenang sebagai kepanikan besar pertama. Kepanikan kedua datang hanya dua tahun kemudian, ketika sinyal radio berdenyut sangat teratur di Cambridge sempat dijuluki little green men, sebelum terungkap sebagai pulsar. Keduanya berbagi pola yang sama: sebuah sinyal aneh, dugaan asal-usul artifisial, lalu penjelasan alami yang justru lebih menakjubkan.
| Aspek | CTA-102 (1965) | LGM-1 (1967) |
|---|---|---|
| Lokasi penemuan | Yevpatoria, Uni Soviet | Cambridge, Inggris |
| Jenis sinyal | Variabilitas radio ~100 hari | Denyut radio tiap 1,3 detik |
| Dugaan awal | Peradaban super-maju | Little Green Men |
| Penjelasan sebenarnya | Quasar (lubang hitam supermasif) | Pulsar (bintang neutron) |
Pola berulang ini mengajarkan sesuatu yang penting tentang cara sains bekerja. Menganggap sebuah anomali sebagai tanda kehidupan cerdas adalah godaan yang wajar, apalagi ketika manusia begitu ingin tak sendirian di alam semesta. Namun setiap kali, jawaban akhirnya datang dari fisika, bukan dari fiksi ilmiah. Godaan yang sama muncul lagi puluhan tahun kemudian pada kandidat sinyal dari arah Proxima Centauri dan pada sinyal SHGb02+14a temuan proyek relawan SETI@home, yang keduanya juga akhirnya kembali ke penjelasan membumi.
Kegagalan CTA-102 sebagai kandidat alien justru berbuah manis bagi sains. Perdebatan soal variabilitasnya mendorong pengembangan teknik radio astronomi resolusi tinggi, termasuk interferometri antar-benua. Hari ini CTA-102 dikenal sebagai blazar aktif yang terus dipantau, dan sempat memancarkan kilatan luar biasa terang pada 2016 hingga bisa diamati dengan teleskop amatir.
Gema CTA-102 yang Masih Terdengar
Kisah CTA-102 sempat begitu membekas hingga merembes ke budaya populer. Band rock The Byrds bahkan menuliskan lagu berjudul “CTA-102” pada 1967, terinspirasi gagasan bahwa manusia mungkin sedang mendengar suara dari peradaban lain. Detail semacam ini menunjukkan betapa dalam klaim itu mengguncang imajinasi publik pada zamannya. Daya tarik semacam itu tak pernah benar-benar hilang, dan terus hidup dalam fenomena radio kosmik lain yang belum tuntas dijelaskan seperti ledakan radio milidetik dari luar galaksi.
Sinyal Legendaris 1977Sinyal Wow!: 72 Detik Misterius dari Luar Angkasa
Yang tersisa dari misteri CTA-102 bukanlah pertanyaan apakah ia benar alien, sebab jawaban itu sudah lama tuntas. Yang tersisa adalah pengingat tentang sebuah momen ketika umat manusia, di tengah ketegangan Perang Dingin, sejenak percaya bahwa mereka tak lagi sendirian. Alam semesta memang menyimpan objek-objek yang jauh lebih ganjil daripada dugaan awal kita, dan quasar yang berdenyut miliaran tahun cahaya jauhnya adalah salah satu bukti terbaiknya. Kadang kebenaran ilmiah terbukti jauh lebih memukau daripada dongeng yang kita karang untuk menggantikannya.
Kepanikan SETI KeduaMisteri LGM-1: Sinyal “Alien” yang Ternyata Pulsar
Pertanyaan yang Sering Ditanya
Apa itu CTA-102?
CTA-102 adalah sebuah quasar di konstelasi Pegasus, yakni inti galaksi jauh yang sangat terang dan ditenagai lubang hitam supermasif. Objek ini terkenal karena pada 1965 sempat diduga sebagai sumber sinyal dari peradaban luar angkasa oleh astronom Soviet, sebelum akhirnya diidentifikasi sebagai quasar.
Apakah CTA-102 benar-benar sinyal alien?
Bukan. Dugaan itu muncul karena pancaran radionya yang berubah-ubah dianggap tanda aktivitas teknologi. Pengamatan lanjutan dengan teleskop Hale mengidentifikasinya sebagai quasar, dan variabilitas sinyalnya berasal dari proses di sekitar lubang hitam supermasif, bukan dari peradaban asing.
Siapa yang mengklaim CTA-102 sebagai sinyal alien?
Gagasannya berasal dari astrofisikawan Soviet Nikolai Kardashev yang pada 1964 menandai CTA-102 sebagai kandidat sinyal peradaban maju. Klaim ini menguat setelah Gennady Sholomitsky menemukan variabilitas radionya, lalu diumumkan ke publik pada 12 April 1965 dan menjadi sensasi dunia.
Apa itu skala Kardashev?
Skala Kardashev adalah cara mengukur tingkat kemajuan sebuah peradaban berdasarkan jumlah energi yang mampu dikendalikannya. Tipe I menguasai energi planet, Tipe II energi bintang, dan Tipe III energi seluruh galaksi. Kerangka inilah yang mendasari dugaan Kardashev soal CTA-102.
Apa hubungan CTA-102 dengan LGM-1?
Keduanya adalah dua kepanikan besar pertama dalam sejarah pencarian alien. CTA-102 (1965) diduga peradaban super-maju tetapi ternyata quasar, sementara LGM-1 (1967) diduga little green men tetapi ternyata pulsar. Keduanya berakhir dengan penjelasan alami yang justru lebih menakjubkan.
Sumber
- Wikipedia — “Kardashev scale” en.wikipedia.org
- Wikipedia — “CTA-102” en.wikipedia.org
- American Astronomical Society — “This Month in Astronomical History: April 2023” aas.org
- arXiv — “The Search for Extraterrestrial Civilizations” (Kellermann) arxiv.org
- Sky & Telescope — “Quasar CTA 102: Historically Bright, Violently Variable” skyandtelescope.org


