Ngebahas

Misteri LGM-1: Sinyal “Alien” yang Ternyata Pulsar

Ilustrasi astronom wanita Jocelyn Bell Burnell sedang meneliti rekaman kertas grafik sinyal radio LGM-1 di laboratorium teleskop radio vintage.
⏱ 10 menit baca
Bagikan

Misteri LGM-1 bermula pada 28 November 1967, ketika mahasiswi doktoral Jocelyn Bell Burnell di Cambridge menangkap denyut radio yang berulang begitu teratur setiap 1,3 detik hingga sempat dijuluki “Little Green Men”. Sinyal dari langit itu terlalu presisi untuk dianggap alami, dan sesaat para astronom menimbang satu kemungkinan yang mengguncang: sebuah suar dari peradaban lain.

Musim panas 1967, di sepetak lahan seluas puluhan lapangan tenis di pinggiran Cambridge, berdiri sebuah teleskop radio yang tampak lebih mirip rangka penyangga tanaman kacang ketimbang instrumen ilmiah. Ribuan tiang kayu dan kabel membentang di lahan itu, dan salah satu orang yang ikut memasangnya dengan tangannya sendiri adalah seorang mahasiswi pascasarjana berusia 24 tahun. Setiap hari ia harus membaca lebih dari seratus meter gulungan kertas grafik yang keluar dari perekam, mencari jejak quasar untuk disertasinya. Yang ia temukan justru sesuatu yang tak ada dalam daftar pencarian siapa pun.

Di antara garis-garis rapat pada kertas itu, muncul coretan kecil yang tak ia kenali. Sesuatu yang berdenyut, teratur, dan datang dari titik yang sama di langit malam demi malam. Ia mencatatnya dengan tanda tanya. Tak ada yang tahu, coretan sepele itu akan mengubah arah astrofisika selamanya.

Secarik “Scruff” yang Menolak Pergi

Teleskop radio itu, bagian dari Mullard Radio Astronomy Observatory, dirancang untuk mempelajari kelap-kelip quasar akibat angin matahari. Jocelyn Bell bertanggung jawab penuh mengoperasikannya sekaligus menganalisis datanya sendirian. Selama berminggu-minggu ia terus melihat noda aneh di lautan data radio, sesuatu yang ia sebut sekadar “scruff” alias sampah sinyal yang tak jelas bentuknya.

Awalnya baik Bell maupun pembimbingnya, Antony Hewish, tidak menganggap noda itu penting. Interferensi buatan manusia, gangguan alat, atau sinyal radio liar dari Bumi adalah tersangka yang paling masuk akal. Sinyal semacam itu muncul dan hilang tanpa pola. Namun scruff yang satu ini berbeda: ia terus kembali, di titik langit yang tetap, seolah terpaku pada bintang-bintang yang jauh alih-alih mengikuti sumber gangguan di darat.

Rekaman pertama yang belakangan bisa ditelusuri sebenarnya sudah muncul sejak 6 Agustus 1967, meski sifat berdenyutnya belum disadari saat itu.[1] Baru pada 28 November 1967 Bell berhasil menangkapnya lagi dengan resolusi lebih baik dan melihat wujud aslinya: serangkaian denyut radio yang beruntun, satu demi satu, dengan jarak antarpulsa sekitar 1,3373 detik.[2] Sumbernya berasal dari arah konstelasi Vulpecula.

Angka itulah yang membuat merinding. Keteraturannya nyaris sempurna, konsisten sampai pecahan detik yang sangat kecil. Di alam yang dikenal saat itu, tidak ada satu pun benda langit yang diketahui memancarkan denyut radio sepresisi jam. Sesuatu yang berdetak serapi ini terasa lebih mirip buatan ketimbang bentukan alam.

Ketika “Little Green Men” Bukan Sekadar Lelucon

Tim di Cambridge menghadapi kemungkinan yang tak nyaman. Setelah menyingkirkan interferensi Bumi dan kesalahan instrumen, mereka terpaksa mempertimbangkan bahwa denyut seteratur itu bisa saja sinyal yang sengaja dipancarkan oleh sebuah kecerdasan. Sebuah suar, atau beacon, dari peradaban di luar Bumi. Gagasan ini bukan hal sepele pada masa itu, sebab para pencari kehidupan cerdas extraterrestrial memang sedang berharap menemukan gelombang radio semacam itu dari langit.

Setengah bercanda, setengah serius, sumber itu diberi julukan LGM-1, singkatan dari “Little Green Men 1”. Bell sendiri mengaku menuliskan “LGM” di catatannya sebagai gurauan, karena jauh lebih ringkas ketimbang menyebut “sumber berdenyut aneh di asensiorekta 19 jam 19 menit itu”.[3] Namun di balik lelucon itu tersimpan ketegangan sungguhan. Bila benar sinyal luar angkasa ini artifisial, temuan tersebut akan menjadi berita terbesar dalam sejarah umat manusia.

Beban di Pundak Sang Penemu

Bell Burnell belakangan menceritakan betapa canggungnya situasi itu. Ia sedang berkejaran dengan tenggat disertasi, lalu tiba-tiba datanya menyodorkan kemungkinan sinyal alien. “Di sinilah aku, mencoba meraih gelar PhD dari sebuah teknik baru, dan sekelompok little green men konyol harus memilih frekuensiku dan antenaku untuk berkomunikasi dengan kita,” ujarnya kelak, mengenang rasa frustrasi bercampur geli saat itu.

Situasi makin pelik karena bobot temuan ini. Bell Burnell kemudian mengungkap bahwa Hewish sempat menggelar rapat tanpa mengikutsertakan dirinya, membahas bagaimana departemen harus menyampaikan hasil ini kepada dunia bila memang benar mereka telah menemukan sesuatu yang artifisial. Tekanan itu nyata: mengumumkan klaim sinyal extraterrestrial tanpa bukti kukuh bisa menghancurkan reputasi ilmiah siapa pun.

Petunjuk Kedua yang Mematahkan Hipotesis Alien

Jawabannya datang dari langit itu sendiri. Menjelang akhir 1967, di sela-sela kesibukan menyiapkan disertasi, Bell terus menyisir data. Pada 21 Desember 1967 ia menemukan sumber berdenyut kedua, di bagian langit yang sama sekali berbeda dari yang pertama.[4] Tak lama kemudian menyusul sumber ketiga dan keempat, masing-masing berdenyut pada kecepatan berbeda dari penjuru langit yang berlainan.

Penemuan itu justru melegakan. Logikanya sederhana namun menohok, seperti yang kelak Bell jelaskan sendiri: sangat kecil kemungkinan ada dua kelompok little green men di sisi-sisi alam semesta yang berseberangan, sama-sama memutuskan mengirim sinyal ke sebuah planet kecil tak penting bernama Bumi, pada waktu yang sama, memakai teknik yang aneh dan frekuensi yang justru biasa-biasa saja.[2] Kalau fenomena serupa muncul berulang di banyak tempat, sumbernya pastilah sesuatu yang alami dan tersebar di seantero galaksi, bukan pesan yang ditujukan khusus untuk kita. Prinsip yang sama kelak menuntun para astronom saat menghadapi semburan radio milidetik yang meledak dari segala penjuru langit, dan membuat mereka bersikap hati-hati terhadap kandidat sinyal seperti pancaran narrowband dari arah Proxima Centauri.

Dengan itu hipotesis alien pun runtuh. Yang tersisa adalah teka-teki yang tak kalah menakjubkan: benda langit macam apa yang sanggup berdetak sepresisi ini, berulang kali, tanpa henti?

Sinyal yang Tak KembaliSinyal Wow!: 72 Detik Misterius dari Luar Angkasa

Sebuah Bintang Mati yang Berputar Bagai Mercusuar

Ilustrasi bintang neutron padat yang dikelilingi medan magnet berputar cepat, memancarkan dua pancaran berkas gelombang radio ungu mirip sinar mercusuar ke luar angkasa.

Pengumuman resmi temuan ini terbit di jurnal Nature pada 24 Februari 1968, ditulis Hewish, Bell, dan beberapa rekannya.[5] Sumber pertama itu kemudian dinamai ulang secara formal menjadi CP 1919, singkatan dari Cambridge Pulsar pada asensiorekta 19 jam 19 menit. Belakangan penamaannya diperbarui lagi menjadi PSR B1919+21, sesuai konvensi katalog bintang neutron modern.

Penjelasan fisikanya datang tak lama setelah pengumuman. Pada 1968 astrofisikawan Thomas Gold mengajukan model yang kini dikenal sebagai model mercusuar, menyempurnakan gagasan awal Franco Pacini. Sumber denyut itu, katanya, adalah bintang neutron: inti super-padat yang tersisa dari sebuah bintang masif yang runtuh setelah meledak sebagai supernova. Objek semacam ini memadatkan massa lebih besar dari Matahari ke dalam bola berdiameter hanya sekitar 20 kilometer, seukuran sebuah kota.

Bintang neutron itu berputar sangat cepat sambil memancarkan dua berkas gelombang radio dari kutub magnetnya. Karena sumbu magnet objek ini miring terhadap sumbu putarnya, kedua berkas radio itu menyapu ruang angkasa seperti sinar mercusuar yang berputar. Setiap kali salah satu berkas kebetulan mengarah ke Bumi, teleskop kita menangkapnya sebagai satu denyut. Detak seteratur jam itu ternyata bukan pesan, melainkan geometri: irama putaran sebuah bangkai bintang. Dari sinilah lahir istilah pulsar, gabungan dari “pulsating star”.

Materi Sepadat Tak Terbayangkan

Betapa ekstremnya bintang neutron sulit dibayangkan. Satu sendok teh materinya diperkirakan berbobot sekitar satu miliar ton di Bumi. Medan magnetnya bisa triliunan kali lebih kuat daripada medan magnet planet kita, dan gaya gravitasi di permukaannya mencapai ratusan miliar kali gravitasi Bumi. Objek itulah yang selama berminggu-minggu menyamar sebagai secarik “scruff” di kertas grafik seorang mahasiswi.

Konfirmasi kian kuat ketika para astronom menemukan pulsar di jantung Nebula Kepiting, sisa ledakan supernova yang tercatat sejak 1054. Kehadiran pulsar tepat di lokasi bekas ledakan bintang menjadi bukti nyata bahwa model bintang neutron yang berputar itu benar. Apa yang bermula sebagai dugaan sinyal alien berakhir sebagai penemuan kelas benda langit yang sama sekali baru.

Kronologi Singkat Penemuan

TanggalPeristiwa
Juli 1967Teleskop radio Mullard rampung; Bell mulai mengumpulkan data quasar
6 Agustus 1967Sinyal pertama terekam, tetapi sifat berdenyutnya belum disadari
28 November 1967Bell menangkap pola denyut 1,3373 detik dari arah Vulpecula
21 Desember 1967Sumber berdenyut kedua ditemukan; hipotesis alien mulai runtuh
24 Februari 1968Pengumuman resmi terbit di jurnal Nature
1968Thomas Gold memaparkan model mercusuar bintang neutron

Nobel yang Menuai Kontroversi

Penemuan pulsar diganjar Hadiah Nobel Fisika pada 1974. Namun penghargaan itu jatuh kepada Antony Hewish, bersama Martin Ryle atas kontribusi terpisah di bidang astronomi radio. Jocelyn Bell Burnell, orang yang pertama kali melihat denyut itu di kertasnya dan yang mengoperasikan teleskop, tidak disertakan.

Keputusan itu memicu perdebatan hingga hari ini. Astronom kenamaan Fred Hoyle termasuk yang lantang menyatakan bahwa Bell Burnell semestinya turut menerima Nobel tersebut.[3] Sebagian kalangan bahkan menyindir penghargaan itu sebagai “No-Bell Prize”, plesetan getir atas namanya yang tercoret. Menariknya, Bell Burnell sendiri menyikapinya dengan lapang dada, berpendapat bahwa penghargaan sains bergengsi umumnya memang jarang diberikan kepada mahasiswa.

Dugaan Alien yang TerbantahMisteri CTA-102: Sinyal “Alien” Soviet yang Ternyata Quasar

Pengakuan besar akhirnya datang jauh belakangan. Pada 2018 ia dianugerahi Special Breakthrough Prize in Fundamental Physics senilai tiga juta dolar AS, atas kontribusi fundamentalnya menemukan pulsar sekaligus kepemimpinannya yang menginspirasi di dunia sains. Uang hadiah itu ia sumbangkan untuk mendukung perempuan dan kelompok minoritas yang meniti karier di bidang fisika.

Kenapa Kisah LGM-1 Masih Memikat

Hari ini pulsar bukan lagi misteri. Ribuan telah dipetakan, dan denyutnya yang stabil dimanfaatkan sebagai jam kosmik untuk menguji teori relativitas hingga menavigasi wahana antariksa. Bahkan citra denyut CP 1919 menjelma ikon budaya pop lewat sampul album Unknown Pleasures milik Joy Division pada 1979, deretan garis bergelombang yang kini terpampang di kaus dan poster tanpa banyak orang tahu asal-usulnya.

Namun daya tarik kisah LGM-1 tak pernah benar-benar padam. Ia mengabadikan satu momen langka ketika para ilmuwan paling rasional sekalipun berani menimbang bahwa mereka mungkin baru saja mendengar sapaan dari peradaban lain, lalu dengan jujur mengikuti bukti sampai kebenaran yang jauh lebih aneh terungkap. Yang tersisa dari misteri LGM-1 bukanlah pertanyaan siapa yang mengirim sinyal itu, melainkan pengingat bahwa alam semesta sanggup menciptakan keajaiban yang lebih ganjil daripada imajinasi kita tentang alien. Pola jatuh-bangun harapan itu terus berulang dalam perburuan sinyal, termasuk ketika proyek relawan sempat menyorot kandidat SETI@home bernama SHGb02+14a yang akhirnya memudar. Dan mekanisme persis bagaimana pulsar memancarkan denyutnya, hingga kini pun, masih belum sepenuhnya dipahami para fisikawan.


Pertanyaan yang Sering Ditanya

Apa itu LGM-1?

LGM-1 adalah julukan awal untuk sinyal radio berdenyut yang ditemukan Jocelyn Bell Burnell pada 1967. Singkatan “Little Green Men 1” ini diberikan karena keteraturan sinyalnya sempat menimbulkan dugaan bahwa ia berasal dari peradaban luar angkasa. Sumber itu kemudian dikenali sebagai pulsar pertama dan dinamai ulang CP 1919 (kini PSR B1919+21).

Apakah LGM-1 benar-benar sinyal dari alien?

Bukan. Hipotesis extraterrestrial runtuh ketika Bell Burnell menemukan sumber berdenyut serupa di bagian langit yang berbeda. Sinyal itu ternyata berasal dari bintang neutron yang berputar cepat, bukan pesan buatan kecerdasan asing.

Apa itu pulsar?

Pulsar adalah bintang neutron yang berputar cepat dan memancarkan berkas gelombang radio dari kutub magnetnya. Karena berkas itu menyapu ruang seperti sinar mercusuar, Bumi menangkapnya sebagai denyut yang sangat teratur setiap kali berkas mengarah ke kita. Kata “pulsar” berasal dari “pulsating star”.

Siapa Jocelyn Bell Burnell?

Ia astrofisikawan asal Irlandia Utara yang menemukan pulsar pertama pada 1967 saat masih menjadi mahasiswi doktoral di Universitas Cambridge. Meski temuannya berujung Hadiah Nobel Fisika 1974, penghargaan itu jatuh kepada pembimbingnya, Antony Hewish. Bell Burnell baru menerima pengakuan besar lewat Breakthrough Prize pada 2018.

Kenapa Jocelyn Bell Burnell tidak menerima Nobel?

Nobel Fisika 1974 diberikan kepada Antony Hewish dan Martin Ryle, sementara Bell Burnell yang pertama kali mendeteksi sinyal tidak disertakan. Keputusan ini dikritik banyak pihak, termasuk astronom Fred Hoyle, dan kerap disindir sebagai “No-Bell Prize”. Bell Burnell sendiri menanggapinya dengan lapang dada.


Sumber

  1. Smithsonian Magazine — “Fifty Years Ago, a Grad Student Discovery Changed the Course of Astrophysics” smithsonianmag.com
  2. Space.com — “Little Green Men? Pulsars Presented a Mystery 50 Years Ago” space.com
  3. Wikipedia — “PSR B1919+21” en.wikipedia.org
  4. Wikipedia — “Pulsar” en.wikipedia.org
  5. University of Cambridge — “Journeys of discovery: Jocelyn Bell Burnell and pulsars” cam.ac.uk
Andrya Nabil Fauzan
Ditulis oleh
SEO Specialist & Penulis

Andrya Nabil Fauzan adalah SEO Specialist yang menekuni dunia digital sejak 2021. Ia terbiasa membangun dan mengelola website di berbagai CMS — dari sisi on-page, off-page, hingga technical SEO — dan juga menangani periklanan digital lewat Meta Ads, TikTok Ads, serta Google Ads. Ketertarikannya melintasi banyak hal: film, game, investasi, misteri, dan tips sehari-hari. Lewat Ngebahas, ia menuangkan rasa penasaran itu jadi tulisan yang santai, jujur, dan enak diikuti.

Tinggalkan Komentar

Cukup isi nama buat komentar.

Scroll to Top