Ngebahas

Misteri Rohonc Codex: Buku 448 Halaman yang Belum Terbaca Selama Dua Abad

Ilustrasi buku terbuka manuskrip kuno Rohonc Codex yang menampilkan halaman berisi ukiran gambar simbolik di sebelah kiri dan deretan teks sistem tulisan rahasia tak terpecahkan di sebelah kanan
⏱ 9 menit baca
Bagikan

Rohonc Codex adalah buku bergambar setebal 448 halaman yang muncul di Hungaria pada 1838, ditulis dalam sistem simbol yang tak cocok dengan alfabet mana pun. Isinya didominasi ilustrasi bernuansa keagamaan, sementara teksnya sudah hampir dua abad menolak semua upaya pembacaan.

Pada 1838, seorang bangsawan Hungaria bernama Gusztav Batthyany mewariskan seluruh perpustakaannya—sekitar 30.000 buku—kepada Akademi Ilmu Pengetahuan Hungaria. Di antara tumpukan koleksi itu ada satu buku kecil yang membuat para pustakawan berhenti sejenak. Ukurannya hanya sekitar 12 kali 10 sentimeter, cukup untuk digenggam satu tangan, tapi setiap halamannya penuh dengan deretan simbol yang tak seorang pun bisa baca.

Buku itu kemudian dikenal sebagai Rohonc Codex, diambil dari nama kota Rohonc tempat ia lama disimpan. Kota itu sekarang bernama Rechnitz dan berada di wilayah Austria, dekat perbatasan Hungaria. Sejak saat itu, kita punya satu artefak dengan asal-usul yang samar dan isi yang sepenuhnya tertutup rapat.

Sebuah Buku yang Menolak Dibaca

Yang membuat Rohonc Codex begitu memikat bukan sekadar usianya, melainkan kenyataan bahwa sistem tulisannya tidak menyerupai sistem tulisan mana pun yang dikenal manusia. Ketika para peneliti mencoba mencocokkannya dengan alfabet-alfabet lama, tidak ada yang klop. Simbol-simbolnya berdiri sendiri, seolah diciptakan khusus untuk buku ini saja.

Para ahli memperkirakan ada sekitar 150 hingga 200 simbol yang berulang secara teratur. Namun bila bentuk-bentuk langka dan variannya ikut dihitung, jumlahnya bisa membengkak mendekati 800 tanda berbeda.[1] Angka inilah yang justru menjadi teka-teki tersendiri, karena jumlah simbol dalam sebuah tulisan biasanya memberi petunjuk pertama tentang jenis sistemnya.

Sebagian besar alfabet di dunia punya sekitar 20 sampai 40 huruf. Sistem suku kata seperti aksara Jepang punya delapan puluh hingga seratusan tanda. Sistem yang mewakili kata utuh, seperti aksara Tionghoa, punya ribuan. Jumlah simbol Rohonc yang berada di antara semua kategori itu membuat para peneliti kesulitan bahkan hanya untuk menentukan Rohonc Codex ini sebenarnya jenis tulisan apa.

Detail yang Ganjil

Teks Rohonc Codex sebagian besar ditulis dari kanan ke kiri, dengan 9 hingga 14 baris simbol di tiap halaman. Tapi arah penulisannya tidak selalu konsisten—sebagian bagian tampak mengalir ke arah berbeda, menambah lapisan kebingungan bagi siapa pun yang mencoba menganalisisnya secara sistematis.

Isi yang Bercampur Aduk

Ilustrasi halaman manuskrip Rohonc Codex yang menampilkan penggabungan simbol salib, bulan sabit, dan matahari bersinar yang dipuja sosok-sosok berjubah di antara tulisan rahasia.

Meski teksnya tak terbaca, ilustrasi Rohonc Codex bisa kita lihat dengan jelas. Ada 87 gambar yang tersebar di sepanjang buku, digambar dengan gaya sederhana dan kasar.[2] Adegan-adegannya kebanyakan bernuansa keagamaan—sosok-sosok suci, peristiwa yang menyerupai kisah-kisah Injil, hingga pemandangan pertempuran dan seremonial.

Yang menarik, simbol-simbol dari beberapa agama muncul berdampingan dalam ilustrasi yang sama. Tanda salib, bulan sabit, dan matahari hadir bersamaan, seolah menggambarkan dunia tempat kekristenan, kepercayaan pagan, dan Islam hidup berdampingan. Percampuran ini membuat para peneliti sulit menentukan dari lingkungan budaya mana buku ini sebenarnya berasal.

Kombinasi yang tidak biasa inilah yang kemudian memicu perdebatan panjang. Sebagian melihatnya sebagai bukti latar belakang budaya yang benar-benar kompleks dan sinkretis. Sebagian lain justru curiga: jangan-jangan percampuran yang terkesan asal itu adalah tanda bahwa buku ini tidak seotentik yang dibayangkan.

Naskah InduknyaMisteri Manuskrip Voynich: Buku yang Tak Bisa Dibaca Siapa Pun

Teori Hoax dan Sang Tersangka

Salah satu penjelasan yang paling lama bertahan adalah bahwa Rohonc Codex sama sekali bukan naskah kuno, melainkan pemalsuan. Banyak sejarawan Hungaria menduga buku ini dibuat pada abad ke-18 atau awal abad ke-19, bukan berabad-abad sebelumnya seperti kesan pertamanya.[3]

Nama yang paling sering disebut dalam teori ini adalah Samuel Literati Nemes, seorang kolektor sekaligus pemalsu barang antik yang hidup pada masa itu. Ia dikenal pernah membuat sejumlah artefak palsu, sehingga wajar bila jarinya ikut ditudingkan ke arah Rohonc Codex. Dugaan bahwa buku ini adalah karya tangannya sempat begitu kuat hingga meredam minat ilmiah terhadap naskah ini selama sebagian besar abad ke-20.

Namun teori hoax punya kelemahan yang tak mudah diabaikan. Analisis menunjukkan bahwa kertas yang digunakan kemungkinan berasal dari abad ke-16, jauh lebih tua dari masa hidup sang tersangka.[3] Selain itu, pemalsu biasanya menghasilkan urutan simbol yang acak atau setengah acak. Rohonc Codex justru memperlihatkan pola yang teratur dan konsisten—ciri yang lebih sesuai dengan sistem tulisan yang benar-benar berfungsi ketimbang coretan yang dibuat asal-asalan untuk mengelabui.

Menimbang Teori

Argumen melawan teori hoax bukan berarti membuktikan buku ini otentik. Ia hanya menunjukkan bahwa penjelasan “sekadar pemalsuan” terlalu sederhana untuk menutup kasus. Sebuah teks bisa saja sengaja dikodekan tanpa harus menjadi kuno, dan di situlah perdebatan sesungguhnya dimulai.

Bahasa Rahasia atau Kode?

Selama bertahun-tahun, kebanyakan peneliti mendekati Rohonc Codex dengan asumsi yang sama: bahwa simbol-simbolnya adalah huruf, dan tugasnya adalah mencocokkan tiap huruf dengan bunyi tertentu. Pendekatan ini mencoba menghubungkan Rohonc dengan aksara Hungaria kuno, rune, bahkan aksara Sumeria. Semuanya buntu.

Salah satu hipotesis yang sempat menarik perhatian adalah bahwa teksnya ditulis dalam bentuk kuno bahasa Rumania atau Vlach, menggunakan aksara yang diciptakan atau diadaptasi sendiri. Gagasan ini didukung oleh keberadaan komunitas Vlach di wilayah tersebut pada masa lampau. Tapi hipotesis ini pun gagal menghasilkan pembacaan yang meyakinkan, dan sulit menjelaskan mengapa seseorang perlu menciptakan aksara sama sekali baru padahal bahasa Rumania sudah lazim ditulis dengan aksara Cyrillic atau Latin.

Perlahan, sebagian peneliti mulai mengubah cara pandang. Bagaimana jika Rohonc Codex bukan bahasa unik yang perlu diterjemahkan, melainkan kode—sebuah cara menyembunyikan bahasa yang sebenarnya sudah ada? Pergeseran sudut pandang inilah yang akhirnya membuka jalan menuju kemajuan paling nyata dalam sejarah penelitian buku ini. Gagasan bahwa sebuah teks sebenarnya menyembunyikan bahasa biasa persis seperti yang terjadi pada sandi Copiale Cipher yang ternyata berbahasa Jerman, dan berbeda dari sandi buatan modern seperti Kryptos yang justru sengaja dirancang serumit mungkin.

Masih SekeluargaMisteri Phaistos Disc: Cakram Tanah Liat 3.700 Tahun yang Tak Terbaca

Terobosan dari Dua Peneliti Hungaria

Ilustrasi seorang peneliti yang meneliti manuskrip fisik Rohonc Codex sembari melakukan digitalisasi dan analisis sistematis halaman buku bersandi tersebut di layar komputer.

Kemajuan besar datang dari kerja dua peneliti Hungaria, Gabor Tokai dan Levente Zoltan Kiraly. Menariknya, keduanya awalnya bekerja secara terpisah sebelum akhirnya menyatukan temuan. Tokai sudah mencoba memecahkan kode ini sejak 2003, sementara Kiraly menempuh jalur digitalisasi seluruh isi codex agar bisa dianalisis secara sistematis.[4]

Kunci terobosan mereka ada pada ilustrasi. Alih-alih menebak bunyi tiap simbol, mereka memanfaatkan gambar sebagai petunjuk. Sebuah ilustrasi yang menggambarkan adegan Injil tertentu diikuti oleh blok teks tertentu pula. Dengan memperlakukan gambar itu sebagai “jangkar” makna—semacam potongan teks yang isinya sudah bisa ditebak—mereka mulai menyusun tata bahasa dari sistem simbol ini.

Petunjuk lain datang dari angka. Tokai menemukan bahwa sejumlah rangkaian simbol berfungsi sebagai penanda tahun dalam sistem kalender. Ia menemukan angka 5166 di dekat gambar tiga raja dan angka 5199 di sekitar ilustrasi kebangkitan Kristus, lalu menyimpulkan bahwa keduanya menandai tahun kelahiran dan kematian Yesus—dengan titik awal era dihitung dari penciptaan dunia.[5]

Pada 2018, temuan mereka diterbitkan dalam jurnal ilmiah Cryptologia dengan judul “Cracking the code of the Rohonc Codex”.[4] Kesimpulan utamanya: tulisan ini bukan sandi substitusi sederhana seperti yang selama ini diduga, melainkan sistem kode yang jauh lebih rumit, kemungkinan besar semacam stenografi atau tulisan singkat yang dipakai untuk merekam teks keagamaan Katolik.

AspekKeterangan
Muncul ke publik1838, lewat donasi Gusztav Batthyany
Jumlah halaman448 halaman kertas
UkuranSekitar 12 x 10 sentimeter
Jumlah simbolSekitar 150-200 dasar, hingga ~800 dengan varian
Ilustrasi87 gambar bernuansa religius, laik, dan militer
Perkiraan usia kertasAbad ke-16
StatusMasih diperdebatkan, belum ada konsensus penuh

Mengapa Belum Benar-Benar Tuntas

Meski terobosan Tokai dan Kiraly dianggap sebagai kemajuan paling serius sejauh ini, tidak semua peneliti sepenuhnya yakin. Sebagian kriptografer menilai bahwa apa yang mereka hasilkan memang menarik, tapi belum menghadirkan terjemahan penuh yang bisa diverifikasi secara independen dari halaman ke halaman.

Tantangannya nyata. Sistem yang mereka usulkan sangat heuristik, artinya banyak keputusan pembacaan bergantung pada penilaian dan konteks, bukan aturan mekanis yang bisa diterapkan siapa saja dengan hasil identik. Ditambah lagi, sejumlah folio diketahui hilang dari codex, sehingga korpus teks yang tersedia untuk dianalisis pun tidak lengkap. Kendala serupa dihadapi inskripsi Singapore Stone yang sebagian besar hancur, di mana hilangnya bahan justru menjadi rintangan terbesar.

Karena itulah, hingga hari ini sebagian besar kalangan masih menempatkan Rohonc Codex dalam kategori naskah yang belum sepenuhnya terpecahkan. Kita punya kerangka penjelasan yang jauh lebih kuat dibanding beberapa dekade lalu, tapi kata terakhir tampaknya belum benar-benar ditulis.

Di sinilah letak daya tariknya yang bertahan. Rohonc Codex bukan lagi kegelapan total seperti dulu, namun juga belum menjadi buku terbuka. Ia berada di ruang antara—cukup terurai untuk memberi kita gambaran, namun masih cukup tertutup untuk terus mengundang rasa penasaran. Selama masih ada folio yang hilang dan pembacaan yang menunggu verifikasi, buku kecil dari Rohonc ini akan tetap menjadi salah satu teka-teki naskah paling memikat yang pernah kita miliki, berdampingan dengan sandi harta karun Beale yang tak terpecahkan dan pesan pribadi Elgar dalam Dorabella Cipher.


Pertanyaan yang Sering Ditanya

Apa itu Rohonc Codex?

Rohonc Codex adalah manuskrip bergambar setebal 448 halaman yang ditulis dalam sistem simbol tak dikenal. Buku ini muncul ke publik di Hungaria pada 1838 dan sejak itu isinya belum bisa dibaca secara pasti oleh para peneliti.

Apakah Rohonc Codex sudah berhasil dipecahkan?

Belum sepenuhnya. Pada 2018, peneliti Hungaria Gabor Tokai dan Levente Zoltan Kiraly mengusulkan bahwa teksnya adalah sistem kode yang merekam teks keagamaan, dan ini dianggap kemajuan terbesar sejauh ini. Namun terjemahan penuh yang dapat diverifikasi secara independen masih menjadi perdebatan.

Apakah Rohonc Codex sebuah hoax?

Teori hoax pernah sangat populer, dengan pemalsu Samuel Literati Nemes sebagai tersangka utama. Namun perkiraan usia kertas yang mencapai abad ke-16 dan pola simbol yang teratur membuat banyak peneliti kini meragukan bahwa buku ini sekadar pemalsuan.

Bahasa apa yang digunakan dalam Rohonc Codex?

Belum ada kepastian. Berbagai hipotesis mengaitkannya dengan bahasa Hungaria kuno, aksara rune, hingga bentuk kuno bahasa Rumania atau Vlach. Analisis terbaru justru mengarah pada kemungkinan bahwa ini bukan bahasa baru, melainkan kode atau stenografi untuk bahasa yang sudah ada.

Di mana Rohonc Codex sekarang disimpan?

Rohonc Codex disimpan di Akademi Ilmu Pengetahuan Hungaria, tempat ia didonasikan sejak 1838. Salinan digitalnya kini tersedia sehingga para peneliti dapat menganalisis isinya tanpa harus mengakses naskah aslinya secara langsung.


Sumber

  1. Profil dan ciri sistem tulisan Rohonc Codex, Discovery UK — discoveryuk.com
  2. Deskripsi fisik, jumlah halaman, dan ilustrasi, Wikipedia — en.wikipedia.org
  3. Teori hoax, Samuel Literati Nemes, dan usia kertas abad ke-16, worldpolitics (Substack) — worldpolitics.substack.com
  4. Terobosan Tokai & Kiraly serta publikasi Cryptologia 2018, LingoDigest — lingodigest.com
  5. Temuan angka 5166 dan 5199 sebagai penanda tahun, Cipher Mysteries — ciphermysteries.com
Andrya Nabil Fauzan
Ditulis oleh
SEO Specialist & Penulis

Andrya Nabil Fauzan adalah SEO Specialist yang menekuni dunia digital sejak 2021. Ia terbiasa membangun dan mengelola website di berbagai CMS — dari sisi on-page, off-page, hingga technical SEO — dan juga menangani periklanan digital lewat Meta Ads, TikTok Ads, serta Google Ads. Ketertarikannya melintasi banyak hal: film, game, investasi, misteri, dan tips sehari-hari. Lewat Ngebahas, ia menuangkan rasa penasaran itu jadi tulisan yang santai, jujur, dan enak diikuti.

Tinggalkan Komentar

Cukup isi nama buat komentar.

Scroll to Top